I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Lima puluh tujuh



Liona, Gressia, Leila, Prasina dan Cecilia keluar setelah tanda budaknya di hilangkan, kelompok Sean hanya menyelamatkan orang-orang dari akademi Mavros dan juga dwarf dan elf.


Tentu saja, budak yang lain merasa iri, namun meskipun begitu mereka tidak bisa seenaknya di selamatkan atau pertarungan akan terjadi, bukannya menjadi orang yang kejam, namun sejak awal para budak yang lain memang tidak ada hubungannya.


"Ternyata kamu-" Sebelum Rossa menyelesaikan ucapannya itu terhenti setelah Liona memberikannya penekanan.


Karena peka, Rossa tidak melanjutkannya lagi, dia melihat ke arah Arthur, berpikir mungkin identitasnya tidak bisa di ketahui dengan mudah.


Sangat jarang manusia yang mempunyai darah campuran elf, jika elf menikah dengan seorang manusia itu hanya akan di anggap sebagai pengkhianat karena para elf membenci manusia.


"Celia, kau dari tadi diam saja mengapa?" Tanya Prasina yang melihat Cecilia yang terlihat memikirkan sesuatu.


Dia melihat sekeliling dan tersenyum mengatakan kalau dia tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut karena di culik untuk di jadikan budak.


Arthur mencibir, entahlah wanita itu seperti penuh dengan hal licik dan tipu daya, dan sifatnya juga berubah-ubah seperti bunglon, tipikal manusia yang perlu di curigai.


"Kita akan terbang, kereta kuda sudah kami tinggalkan." Xavier dengan polos menyarankan, meskipun menghabiskan banyak mana, namun terbang adalah alternatif tercepat.


"Baiklah."


Mereka semua membentuk sebuah hewan terbang dari mana, itu sangat menggemaskan.


"Mana juga bisa di pakai seperti itu?" Liona sangat kagum, benar-benar dunia fantasi. Jika ini ada di dunia modern mungkin akan di anggap sebagai orang-orang dari sekte sesat.


"Kau tidak tahu? Ku pikir kau sudah belajar." Liona hanya mengedutkan bibirnya, dia hanya belajar mantra serangan, ramuan, juga pedang, dan cara mengendalikan elemennya, sangat tidak tahu ada mantra yang bisa membuat suatu hal seperti itu.


Dia hanya tahu terbang menggunakan sapu atau batu sihir yang di ubah menjadi tongkat.


"Sangat banyak mantra yang menggunakan mana, seperti mantra membersihkan diri agar selalu segar, mantra agar tidak ingin membuang kotoran, mantra agar selalu kenyang." Jelas Sean sambil menyelipkan helai rambut Liona yang berterbangan akibat terpaan angin.


Tentu saja Alex dan Xavier menatap Sean dengan tajam, seolah berbicara 'jika kau menyentuhnya lagi, kau akan ku cincang menjadi potongan daging kecil.'


"Bagaimana cara membuatnya?" Liona dengan antusias menatap Sean, pada dasarnya sihir merupakan sebuah permohonan.


Jika hati tidak tulus dalam mengucapkan mantra, sihir yang keluar tidak akan kuat atau bisa di sebut dengan cacat.


"Hanya bayangkan saja bentuk yang kau inginkan dan salurkan mana untuk membentuknya, lalu memohonlah menggunakan mantra." Jelas Sean.


Liona mencoba mengikuti instruksi Sean, memejamkan matanya dan dia membayangkan bentuk unicorn, Liona merasa bahwa suasananya menjadi tenang, terus mengalirkan mana dan membuat permohonan menggunakan mantra.


Setelah merasa selesai, Liona membuka matanya, melihat bentuk unicorn dari mananya, itu warna-warni, biasanya bentuk sesuatu yang di buat oleh mana mengikuti warna dari elemen.


Seperti contohnya Sean yang membuat singa berwarna orange karena elemen apinya, meskipun yang Liona ciptakan tidak memiliki semua warna, namun tentu saja orang-orang terkejut.


"Adikku sangat jenius, kau bahkan bisa menciptakan sesuatu dari mana dalam satu kali percobaan." Xavier mengelus kepala Liona dengan sayang.


Alex menepisnya dan berkata kalau tangan Xavier berbau aneh dan itu sangat kotor untuk mengelus kepala Liona yang lembut dan wangi.


"Kau ini kenapa? Dia juga adikku!" Teriak Xavier dengan sebal, semua orang menatapnya merasa sangat jijik dengan tingkah Xavier yang imut.


"Kau pikir dengan bertingkah imut aku akan luluh? Itu sangat menjijikan! Dan berhenti membuat ekspresi seperti itu dengan wajah yang sama denganku!"


"..."


"Ayo pergi!" Elios memecahkan keheningan, mereka semua menaiki tunggangan yang dibuat oleh mana dan terbang bebas di angkasa.


Merasakan angin sejuk, rasanya sangat bebas! Terkadang Liona sangat ingin pergi kemanapun yang dia mau, terbang seperti burung tanpa memikirkan apapun, hanya ingin membuat dirinya sendiri bahagia.


Kadang dia berpikir, apakah saat ini dia sudah bahagia?


Meskipun pertanyaan itu sering terucap, namun jawabannya begitu rancu, dia tidak tahu apakah benar-benar sudah bahagia atau hanya keterpaksaan saja.


Terkadang dia memaksakan perasaannya, atau hidup dalam ketakutan karena alur novel, tanpa dia sadari kalau hidup ini adalah miliknya sendiri.


Merasa sesak, dia tidak banyak berpikir dan memilih untuk melihat hutan dan pemukiman penduduk dari atas, itu sangat indah.


"Kau merasa senang?" Tanya Sean yang berada di sisinya.


Liona saat ini terlihat begitu cantik, rambutnya berkibar, wajah mungilnya terlihat serius. Cecilia yang melihat itu hanya menahan kecemburuan saja, dia sedang panik karena putra mahkota mungkin sudah sadar dari ilusinya.


Dia sempat memberikan ilusi pada Sean, namun itu tidak bekerja dan membutanya sangat kesal, padahal Sean lebih kesal, elemennya di curi oleh wanita ular itu!


"Tentu aku senang, aku merasa bebas tanpa beban." Ujar Liona dengan nada yang terdengar lirih.


Ada kilatan kesedihan di mata Sean, namun itu hilang dalam sekejap, dia sudah bertekad akan terus melindungi Liona entah hidup atau mati.


***


Mereka telah sampai di Mavros, ibukota terlihat tenang dan ramai seperti biasanya, pihak akademi menyambut Liona dan yang lainnya beserta pihak menara dan Duke Asteria.


Kusir yang membawa Liona dan Cecilia telah sampai lebih dulu untuk melaporkan, tentu saja pihak akademi merasa bersalah karena tidak bisa menjaga muridnya dengan baik.


Tidak ada yang mempermasalahkan itu, untung saja mereka semua baik-baik saja, pihak Akademi juga sudah menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada yang bersangkutan atas insiden ini.


"Ayah." Liona melemparkan dirinya ke pelukan Duke, dalam kehidupan dulunya, meskipun mempunyai orang tua namun mereka fokus pada kegiatan masing-masing.


Aletta tidak benar-benar mendapatkan kasih sayang sejak kecil, ibunya sering berbisnis dan meninggalkan Aletta kecil, dan ayahnya mengurus perusahaan.


Setelah menjadi Liona, kehidupannya berubah, dia mempunyai keluarga yang mencintainya, ayahnya sangat baik dan saudaranya menyayanginya.


"Aku rindu ayah." Bisik Liona dalam dekapan Duke, Alex dan Xavier menghampiri mereka berdua, membawa Sean yang berniat melamar Liona.


"Ayah mari kita pulang, harus ada yang kami bicarakan." Duke mengangguk dan pamit terlebih dahulu, dia tidak terlalu mempermasalahkan kecerobohan pihak akademi, yang penting anak-anaknya selamat.


Tidak lupa, Duke juga membawa dwarf dan elf atas permintaan Liona, tentu saja Rossa dan Kalanos yang merasa tidak nyaman karena berada di lingkungan manusia mengikuti Liona.


Setelah sampai di kastil Asteria, Alex menjelaskan tujuan Sean datang kesini, tentu saja aura Duke sangat suram.


"Ayah belum mengirim balasan sejak lamaran untuk Liona datang, tapi meskipun begitu ayah tidak ingin Liona bertunangan dengan orang lain."


"Ayah, ini hanya bentuk formalitas, jika pihak kekaisaran sudah tidak tertarik pada Liona, kita bisa membatalkan pertunangan dengannya. Lagi pula tidak buruk memilih Pemimpin pasukan Tiger."


So guys, apakah kalian sudah merasa bahagia?


Jangan lupa Like sama vote yaa, makasih♥️