I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Delapan puluh tiga



Liona dan Sean berlari dengan bantuan sihir angin, medusa yang mengejar dengan cepat itu menggeram marah dan mengutuk mereka berdua, tidak lupa Liona memeluk Cerberus yang ketakutan konyol.


"Apakah Cerbe tidak bisa mengaum atau memberikan tekanan neraka agar Medusa itu berhenti?"


"Tidak, sejak terbebas dari segel Cerbe menjadi sangat lemah." Cibir Liona di sela kejar-kejaraannya dengan medusa, sedangkan Cerbe yang mendengar itu mendengus di pelukannya.


"Dibatasi bukan berarti lemah, kalau memberikan tekanan neraka dan mengaum aku masih bisa."


Liona diam-diam memutar bola matanya malas, lalu kenapa makhluk berkepala tiga ini tadi bergetar ketakutan? Liona tahu kalau tadi Cerbe benar-benar ketakutan konyol!


Cerbe melompat dari pelukan Liona dan mengaum, aumannya memang membawa tekanan yang menyesakkan, bahkan Medusa itu sampai muntah darah.


Namun karena aumannya sangat besar, kemungkinkanan besar akan ada orang-orang kuat yang akan datang untuk memeriksa Cerberus.


Medusa terkapar tidak berdaya karena Cerbe, bukannya harusnya Cerbe melakukan ini sejak mereka masuk? Liona berpikir, mengapa dia mempunyai seorang anjing yang bodoh?


"Cerbe, bisakah kau menghilang lagi seperti tadi?"


Cerbe mengangguk dan menghilang dari hadapan mereka, bisa gawat kalau orang-orang tahu keberadaan Cerberus, mereka akan tahu keberadaan para dewa yang bisa di lihat oleh mata!


"Sean, apakah kau tahu Cerbe menghilang kemana?" Tanya Liona ketika Sean mengajaknya untuk segera pergi dari gua tanpa meninggalkan jejak.


"Kemungkinan kembali ke neraka, Hades sudah membuka portal kecil jika Cerbe akan kembali, itu memudahkanmu untuk tidak terus membawa makhluk itu."


Liona pergi dari Gua, dan menunggu di salah satu pohon kaktus yang sangat besar, untuk melihat situasi yang akan terjadi!


Dan benar saja, orang-orang dari segala arah datang ke arah gua, kata Sean kekuatannya tidak bisa di remehkan, mereka adalah orang-orang yang sudah sangat lama berada di gurun.


Pria yang melukai Sean dan Liona tempo lalu juga datang bersama pasukannya, wajahnya tidak terlalu baik karena Liona melemparkan bom asap yang berbau seperti kotoran kuda, dan itu tidak akan hilang setidaknya selama satu Minggu!


"Apakah kalian sudah melihat apa yang terjadi di dalam sana?" Tanya seorang pria dengan wajah galak dan rambut putih serta kumis panjang, di matanya terdapat tanda sayatan pedang.


Untungnya Liona dan Sean tidak meninggalkan jejak apa-apa, jadi kemungkinan mereka tidak akan curiga kalau manusia pernah menempati gua itu.


"Tidak, kami belum masuk dan menunggu yang lainnya untuk datang."


Karena mungkin sudah lebih banyak orang, mereka masuk ke dalam gua itu bersama-sama takutnya memang ada makhluk yang lebih kuat dan juga buas.


Memang sih, tekanan neraka dari Cerbe sangat kuat meskipun dibatasi kekuatannya, bahkan medusa terkapar tidak berdaya sambil muntah darah.


Liona dan Sean terus menunggu dengan tenang di belakang pohon kaktus besar, sampai tidak menyadari adanya orang asing yang menatap mereka.


"Anak muda."


Liona terpenjat kaget mendekat ke arah Sean, seorang pria dengan penampilan muda dan tampan menatap Liona dan Sean dengan senyum ramah yang tampak tidak berbahaya.


beberapa orang di belakangnya memakai jubah putih bersih, tampak seperti orang yang sedang jalan-jalan di pedesaan biasa bukan di gurun.


"Anak muda, kenapa kalian tidak masuk dan melihat monster kuat itu?" Tanyanya masih dengan senyum ramah, Sean agak mengernyit karena pria tampan, tapi masih tampanan Sean tersebut mengatakan 'anak muda' yang berarti umurnya sangat tua!


"Kami mempunyai kekuatan yang lemah, jadi hanya bisa melihat disini untuk tahu situasinya." Ujar Liona dengan kebohongan penuh, bahkan dia tidak berkedip sama sekali.


Sean diam-diam membanggakan kemampuan berbohong dan mengelak wanitanya, karena kalau Sean yang ditanya begitu dia pasti akan menjawab, 'Kenapa aku harus memberitahumu? Urusi saja urusanmu sendiri.'


"Tentu saja." Liona berkata dengan seserius mungkin, membuat pria itu terkekeh pelan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Begitu rupanya. Apakah kami boleh melihat dari sini juga?"


Liona agak skeptis dengan mereka, itu karena senyuman pria itu sangat mencurigakan bagi Liona dan Sean, seperti sesuatu yang benar-benar tidak jelas.


"Kami tidak akan menyakiti atau mencampuri urusan kalian."


Liona mengangguk dengan ragu, pria itu mengucapkan terimakasih dan mulai melihat situasi dengan serius, senyum ramahnya sudah tidak ada lagi, di gantikan tatapan tajam yang melihat ke arah gua.


'Sean, apakah kau kenal orang itu?' Liona menggunakan telepatinya untuk bertanya pada Sean.


'Entahlah, sejauh yang ku tahu selama di gurun, aku tidak pernah bertemu dengan mereka, apalagi sepertinya mereka tidak merasa kepanasan atau sesuatu seperti akan terkena stroke.'


Liona hanya mengangguk dan tidak mempedulikan pria itu lagi, namun satu hal yang tidak di ketahui Liona dan Sean pria itu tersenyum diam-diam ke arah mereka dengan tatapan yang sangat lembut.


Orang-orang yang masuk ke dalam Gua keluar sambil membawa medusa yang sedang terkapar, mereka melemparkannya ke pasir untuk memastikan apakah medusa itu hidup atau mati.


"Sepertinya medusa ini adalah korban."


"Kenapa kau menyimpulkan sesuatu seperti itu?"


"Itu karena medusa ini sepertinya menderita kerusakan internal yang cukup parah, dan hidupnya hanya sebatas untaian benang."


Liona tidak menyangka jika tekanan neraka yang di berikan Cerberus akan berakibat sangat fatal, bahkan medusa itu hampir mati?


"Lalu dimana monster yang sangat kuat itu? Bahkan dia bisa mengalahkan makhluk mitologi seperti medusa?"


Semua orang terdiam, Mereka diam-diam berpikir mungkin makhluk itu sudah memprediksi kedatangan mereka, makanya dia lari agar orang-orang tidak memburunya.


Mereka mengangguk sepemahaman, karena hanya itu alasan yang masuk akal, untunglah Liona menyuruh Cerbe untuk menghilang tadi.


"Cerbe, terimakasih."


"Cerbe."


Dalam benaknya Liona tidak mendengar Cerberus menyahut, itu membuatnya sangat khawatir, tadi juga setelah mengaum Cerbe hanya berbicara seadanya dengan suara lemah.


'Sean, apakah Cerbe tidak apa-apa? Dari tadi aku memanggilnya namun dia tidak menyahut.'


Sean mengerutkan kening, dia sama sekali tidak peduli dengan Cerberus, namun karena peliharaan Liona, pria itu juga harus mempedulikan anjing berkepala tiga menyebalkan itu.


'Mungkin auman dan tekanan yang di keluarkan Cerbe membuatnya terluka, atau dia tertidur di neraka untuk memulihkan staminanya.' Jawab Sean agak tidak yakin.


'Apakah itu berbahaya?'


Sean tidak menjawab, sejujurnya dia juga tidak yakin! Liona menatapnya dengan khawatir, meskipun Liona sering mengejek Cerbe lemah karena kekuatannya di batasi, namun tetap saja gadis itu merasa sayang pada anjing berkepala tiga itu.


'Jangan khawatir, Cerbe tidak selemah yang kamu kira, dia pasti akan baik-baik saja.' Sean mencoba menenangkan, sedangkan Liona mengangguk untuk menekan rasa khawatirnya.


Sean sudah mengatakan kalau Cerbe akan baik-baik saja, maka pastinya akan seperti itu, karena pria itu tidak pernah membohongi Liona.