I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Enam puluh satu



Liona bersenang-senang di kasino bersama dengan Sean tanpa mempedulikan keluarganya yang khawatir, bahkan dia lupa kalau sekarang sedang dalam bentuk jiwa yang membentuk tubuh.


"Apakah kau senang?" Sean melihat Liona yang terkikik licik karena berhasil menipu para iblis tingkat rendah yang IQ nya jongkok.


"Iya, terimakasih sudah membawaku kesini, berkatmu aku mendapatkan koin emas dan juga berlian."


Sean mulai berpikir, calon istrinya sangat menyukai emas dan berlian, untung saja dia kaya jadi calon istrinya bebas menggunakan uang yang dia punya sesuka hati.


Setelah di pikirkan kata 'calon istri' benar-benar membuat Sean bahagia, mereka berdua sama-sama tersenyum bahagia dengan alasan yang berbeda.


"Tapi bagaimana aku membawa semua ini? Ayahku akan curiga jika setelah aku bangun koin emas dan berlian ikut muncul tiba-tiba?"


"Tidak usah terlalu khawatir, aku yang akan mengurus ini, aku akan membawanya kemudian mengirimkannya padamu tanpa di ketahui oleh Duke." Liona mengangguk dan mengajak Sean pergi dari sana.


***


"Woaahhhh apa itu?"


"Minggir! Sepertinya para iblis tingkat atas itu membuang hasil percobaannya lagi!"


Teriakan bangsa iblis tingkat rendah terdengar dimana-mana membuat Sean dan Liona yang sedang berjalan sangat penasaran.


"Mau coba lihat?" Tanya Sean, Liona mengangguk dan memegang tangan Sean, karena suasana sangat ricuh, setiap melangkah akan berdempetan dengan iblis lain dan mendapat makian.


"Iwh apa itu?" Liona melihat makhluk raksasa, seperti anjing, dengan banyak jahitan dan juga tampak seperti idiot, mengeluarkan air liur dimana-mana.


"Chupacabra, namun anjing itu di buat percobaan oleh iblis tingkat atas, kulitnya di lapisi oleh kulit monster lain dari dunia manusia." Jelas Sean.


Sean menjelaskan jika monster itu adalah produksi gagal, sering sekali di buang ke dunia iblis tingkat rendah, di dunia manusia tidak ada hal seperti itu karena mereka tidak mempunyai kecerdasan atau insting binatang buas.


Berbeda dengan monster yang berada di dunia manusia, itu di lahirkan oleh para kiklops, dan juga mereka mempunyai kecerdasan dan insting binatang buas, banyak populasi monster yang keluar dari dunia iblis dan menjadi gila saat di dunia manusia.


"Mengapa monster bisa menjadi gila saat berada di dunia manusia?" Liona bertanya, sedikit menjauh dari kerumunan yang akan membantai Chupacabra yang telah di modifikasi.


"Mungkin karena perbedaan ether dan juga energi, tidak pasti mengapa para monster bisa menyerang manusia."


"Apakah Asmodian tidak berniat menyelidiki tentang ini?"


"Bukan seperti itu, dia adalah dewa, dan tidak pantas untuk mencampuri urusan manusia atau iblis yang lain."


Percakapan terhenti saat Chupacabra raksasa itu berlari ke arah Sean dan Liona yang sedang berada di pinggiran berniat untuk menonton keseruan.


"Mengapa dia mau menyerang kita? Padahal niatnya kita hanya akan menonton keseruan para iblis IQ rendah itu yang akan bertarung dengan Chupacabra modifikasi." Gerutu Liona.


Sean dengan gesit mengambil pedang salah satu iblis yang sedang berada di dekatnya, sedangkan Liona segera menghindar saat Chupacabra berniat mencakar dirinya.


Chupacabra itu mengeluarkan bunyi yang nyaring, pada dasarnya mereka adalah penghisap darah hewan ternak, namun katanya Chupacabra yang di modifikasi ini bisa menghisap darah bangsa iblis dan manusia.


Sean mengangkat pedang untuk membelah Chupacabra menjadi dua, namun hal aneh terjadi, kulit monster lain yang terkelupas beregenerasi menjadi beberapa makhluk.


Makhluk itu seperti mempunyai dua jenis yang berbeda, dalam satu tubuh terdapat banyak warna, bola matanya berwarna merah dan hitam.


Liona melihat kumpulan makhluk kerdil itu, Kimerisme adalah makhluk hidup yang memiliki dua atau lebih populasi sel yang berasal dari fenotipe genetik yang berbeda.


"Ini merepotkan! Mengapa para iblis tingkat atas itu membuat sesuatu hal yang seperti ini?" Gumam Sean seraya memegang pedangnya lebih kuat.


Para iblis tingkat rendah bersama-sama menyerang kimerisme kecil menggunakan elemen kegelapan dan api.


Meskipun IQ mereka sangatlah rendah, namun para iblis tingkat rendah ini terlihat kompak, mereka bekerja sama menumbangkan kimersime kecil yang terus beregenerasi dari kulit yang terkelupas.


"Hey kau! Bakar saja Chupacabra itu, agar kulitnya tidak terkelupas dan menjadi gosong, kimerisme ini benar-benar sangat merepotkan." Keluh salah satu iblis tingkat menengah yang membantu kami.


Sean menggunakan api hitam yang sangat langka, itu adalah api yang bercampur dengan elemen kegelapan, panasnya setara dengan api neraka.


Liona sedikit terkejut, karena biasanya Sean hanya memakai api biasa, mungkin api hitam itu pemberian dari dewa hades? Karena yang bisa mengimbangi api itu hanya api neraka.


"Apakah kau berpikir kalau api ini berasal dari dewa hades?" Tanya Sean.


Liona mengangguk sambil menebas kimerisme yang terus berdatangan ke arahnya.


"Kau menebaknya dengan benar." Sean membaca mantra dan menyerang Chupacabra, Sean terus menyerangnya berkali-kali.


Karena api hitam adalah api siksaan, Chupacabra tidak langsung mati, namun menggeliat di tanah seperti cacing, tubuhnya menjadi lembek seperti slime.


Para Kimerisme juga sudah di habisi semua, meskipun makhluk itu bersel banyak, namun membunuhnya sangatlah mudah, hanya bergerombol saja yang menyusahkan.


Beberapa saat kemudian, Chupacabra itu berubah menjadi debu dan terbang oleh angin, tempat yang awalnya rapi menjadi berantakan.


Para iblis tingkat rendah itu mengeluh karena iblis tingkat tinggi sering membuang makhluk uji coba pada tempat mereka, benar-benar sangat kesal!


"Waw ternyata di dunia iblis pun sering terjadi keributan dan pertarungan seperti ini." Gumam Liona yang terdengar oleh Sean, dia mengembalikan pedangnya dan pergi menyeret Liona tanpa mengucapkan terimakasih.


"Aturan dunia iblis sangat kejam, terkadang masih sering melakukan peperangan antar suku, disini yang kuat sangat di hormati, yang lemah sudah lama mati."


"Tapi kulihat disana hanya damai-damai saja." Liona mengernyit, dia tidak menemukan adanya pertarungan nyata sampai pertumpahan darah.


Paling hanya adu mulut karena kalah minum alkohol atau kalah dalam berjudi,.


"Tentu saja disana tidak ada, namun dunia iblis ini sangat besar. Dalam dunia iblis juga terdapat beberapa klan, yang memperebutkan kekuasaan, baik di tingkat rendah, menengah ataupun atas.


Sangat sering terjadi peperangan, jangan anggap iblis itu makhluk yang ramah, mereka lebih kejam daripada manusia, iblis yang ada disana hanyalah para pekerja biasa, jadi tidak ada alasan untuk berperang." Jelas Sean.


Dia mengajak Liona untuk kembali ke tempat dewa hades, Sean merasakan Vitalitas Liona telah membaik, kemungkinan sebentar lagi Liona akan segera bangun.


"Aku kira para dewa tinggal di awan."


"Awan?" Sean tertawa dan mengacak-acak rambut Liona. "dewa tinggal di surga, namun itu khusus untuk Athanatos, Asmodian dan dewa hades tentu saja di tempatkan di dunia bawah."


"Apakah ada dewa lain?" Sean berhenti dan menatap Liona.


"Entahlah, mungkin."