I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tiga puluh sembilan



Prasina menggeliat di lantai yang dingin sambil menangis, aku hanya menatapnya, aku melupakan rasionalitasku dan moral.


Seharusnya aku mengikuti ajaran noblesse oblige, namun aku tidak punya hati yang besar untuk memaafkan pengkhianatan.


"Jangan kehilangan moralitas tenang, tolong kepada para ahli filsuf moralitas, jaga rasionalitasku." Aku bergumam sambil mengelus dada, bagaimana pun aku dan Prasina pernah dekat.


"Jika pada manusia tak tahu malu begini kehilangan rasionalitas itu hal yang wajar." Arthur melirik Prasina yang berusaha untuk berbicara.


Kami terus menerus memaksa Prasina agar mengaku, menambahkan kadar racun dan sebagainya, sesaat aku merasa bahwa aku benar-benar kehilangan rasionalitas.


"Uhuk, a-ak-aku be-benar-benar tidak ta-tahu Lu-luther." Prasina berbicara dengan susah payah, pakaiannya compang camping dan dipenuhi noda darah.


"Sina, aku benar-benar menganggapmu sebagai teman, yang lain juga, tapi ternyata ini penipuan, aktingmu sangat bagus dan tanpa celah jika kau ikut film Hollywood kau akan menjadi juara utama dalam Oscar."


"Apa itu Oscar dan Hollywood?" Arthur melirik ke arahku dengan penasaran.


"Tidak tahu aku hanya asal sebut saja." Aku membalas dengan senyum datar dan tanpa dosa.


Prasina terus memohon untuk memberikan penawarnya, namun bagaimana kita bermurah hati untuk pengkhianat sepertinya?


"Sepertinya dia benar-benar tidak tahu." Elios mengernyit dan menyampaikan pendapatnya, jika ini terus di lanjutkan kita benar-benar seperti psychopath.


Aku memberikan penawarnya, Prasina bernafas lega dan pingsan, Arthur memindahkannya pada tempat tidur dan menyegelnya dengan rantai.


"Pakai kertas teleportasi dia, kemungkinan besar kita akan muncul di tempat yang tidak terduga." Arthur menyarankan.


Kami mengangguk dan bersiap untuk pergi menggunakan kertas teleportasi.


"Elios, apakah kau merasakan firasat buruk?" Tanyaku melihat Elios yang terdiam.


"Tidak terlalu buruk, mungkin Luther tidak dalam bahaya yang besar." Elios mengerutkan kening.


Tidak ada hal lain lagi yang di bicarakan, aku merobek kertas teleportasi dan muncul di hutan mati dekat perbatasan.


Rasanya pusing setelah memakai kertas teleportasi, aku ingin muntah!


"Jadi ini dimana? Kita harus kemana?" Tanyaku melihat sekeliling yang tampak sangat gelap.


Kami berjalan menjauh dari sana hingga menemukan jejak darah dan aura samar milik Luther.


Elios mengendus darah kering yang ada di tanah, dia mengernyit dan bangkit.


"Ini darah Luther, dan ada energi iblis yang kuat, lalu ada darah orang lain juga sepertinya sekitar 6 orang."


Tidak ada lagi jejak aura, seolah Luther hilang disana dan tertelan bumi, kemungkinan besar orang yang membawa Luther menggunakan teleportasi dan bisa menghapus jejak aura.


Saat menculik Prasina, aku menyamarkan auranya, namun aku tidak bisa menghilangkannya.


"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Elios frustasi.


"Jangan berpencar dan cari dengan teliti, siapa tahu ada petunjuk yang tersisa."


Kami mencari jejak lain, namun setelah mencari selama dua jam tidak ada hasil, kami frustasi tidak tahu harus kemana.


Teringat tenebris, aku memanggilnya dalam hati untuk memeriksa bekas hitam pekat dekat dengan darah Luther.


"Tenebris, jika kau menemukan sesuatu langsung beritahukan itu padaku." Aku berbicara dalam hati, tenebris hanya diam dan melesat tanpa di curigai.


"Nona, energi hitamnya bisa ku deteksi, namun jarak dari sini ke tempat temanmu itu lumayan jauh." Tenebris kembali lagi masuk ke dalam tubuhku.


"Tidak apa-apa, dimana itu?"


"Di bawah tanah menara suci, ada penghalang disana yang tidak bisa menggunakan sihir, namun jika itu nona kemungkinan bisa." Tenebris menjelaskan.


Aku mengatakan pada Elios dan Arthur, aku sudah mendapatkan informasi terkait Luther, karena teleportasi sangat melelahkan, aku memilih untuk terbang.


"Iya aku sangat yakin, jadi percaya padaku." Aku membalasnya dengan malas.


Meningkatkan kecepatan terbang, kami sampai di gang yang tidak terlalu mencolok, karena jarak ke menara suci dekat, aku menggunakan teleportasi.


Dalam bimbingan Tenebris, kami sampai di tempat gelap dengan bau anyir, di sisi-sisi dinding terdapat berbagai eksperimen yang menjijikan.


Banyak bola mata berwarna permata, organ tubuh yang di awetkan, tanaman-tanaman aneh yang mempunyai mulut, dan bahan eksperimen seperti manusia yang di modifikasi dengan hewas.


Melihatnya aku teringat film Tusk, yang pemeran prianya di ubah menjadi walrus oleh psychopath.


"Benar-benar tidak manusiawi, apakah mereka sudah kehilangan rasionalitas?" Arthur mendelik dengan jijik.


"Jangan berisik bodoh, nanti ada penjaga kau akan di jadikan seperti itu." Aku memelotoi Arthur yang volume bicaranya tidak bisa di kontrol.


"Hei Liona, sejak kau menyebutkannya aku membayangkan kalau aku di ubah menjadi seekor dugong."


"..."


Kami tidak berbicara lagi dan fokus berjalan, waspada pada sekeliling, banyak budak kurus dan kering di setiap sel penjara.


Sungguh kasihan! Menara suci ini benar-benar kejam, kami mencari jejak Luther dengan hati-hati.


Hingga sampai pada sel terakhir yang di pasang perisai sihir tingkat tinggi, tergeletak seorang pria yang kami kenal dengan tubuh penuh luka.


"Apa-apaan ini masa bahannya kurang lagi?" Seorang pria mengeluh sambil menyeret rantai yang entah untuk apa.


Aku menyeret Elios dan Arthur untuk diam di pojokan yang paling gelap, menyembunyikan nafas kami.


"Orang tua itu kenapa dia selalu menyusahkan kami? Padahal jantung makhluk kegelapan itu sudah ada, masa bahannya masih kurang."


"Anggap saja sebagai waktu makhluk kegelapan itu untuk hidup di dunia sedikit lebih lama."


"Ya kau benar hahaha malang sekali nasibnya, tidak menyangka kalau kita akan menemukan bahan yang begitu langka."


Pembicaraan itu semakin dalam semakin samar, kami bisa menyimpulkan bahwa makhluk kegelapan itu adalah Luther dan mereka mengincar jantungnya!


"Sialan menara suci." Elios dengan dingin mengumpat.


Karena sudah tidak ada orang, aku mencoba membuka sel dengan auraku karena hanya aku yang bisa memakai sihir, tidak bersuara dan bisa dengan mudah masuk.


"Hati-hati jebakan." Bisik Elios padaku, aku mengangguk dan melihat sekeliling dengan hati-hati.


Aku terkejut melihat Luther, nafasnya sangat lemah dan penuh luka-luka di tubuhnya, bibirnya robek dan juga banyak bekas darah di tanah.


"Aku ingin membunuh mereka." Aura Arthur menjadi semakin serius, aku baru pertama kali melihatnya seperti itu.


Wajar sih aku juga sangat marah, mereka berani melakukan ini pada Luther.


"Dasar biadab! Suatu saat aku akan membongkar kejahatan menara suci ini." Aku bergumam dengan dingin.


Sayang sekali di dunia ini tidak ada kamera atau sejenisnya yang bisa merekam suatu situasi, sebenarnya ada.


Dalam novel penemuan kamera sihir akan terjadi dua tahun kemudian setelah kematian Liona, dan itu masih sangat lama!


"Arthur." Aku memberi kode pada Arthur, dia mengalirkan energi elfnya untuk menjaga vitalitas Luther dan nyawanya yang setipis benang.


Aku membawa mereka ke tempat Elios, sangat lelah! Aku terbatuk karena penggunaan teleportasi menguras banyak energi.


Meskipun manaku tidak terbatas, tetap saja aku manusia biasa. memang kemampuanku masih sangat jauh dari kuat.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Elios khawatir, aku menggelengkan kepalaku dan meminta air, sedangkan Arthur langsung membawa Luther ke tempat tidur.


Jangan lupa like sama vote ya readers, Terimakasih♥️