
Unicorn berusaha untuk tetap menghalangi mereka, bukan apa-apa dia hanya menjalankan tugas dari Athanatos, katanya lindungi gadis yang mendapat berkah para dewa.
Hutan kematian lebih berbahaya dari apa yang di bayangkan, tidak ada yang bisa keluar hidup-hidup dari sana, meskipun ada yang hidup dan bisa keluar kalau tidak mati ya akan menjadi idiot.
"Tapi kami harus pergi dengan menggunakan jalan ini." Elios mengernyit, agak ragu sebenarnya, takut-takut kalau unicorn itu menyerang, namun tampaknya dia tidak memiliki maksud lain.
"Keras kepala! Jika begitu bawalah tandukku, aku akan datang jika ada bahaya yang tidak bisa kalian atasi."
Unicorn itu menyerahkan tanduknya kepala Liona, dan gadis itu hanya menerima dengan kikuk saat perhatian hanya tertuju padanya.
Bukannya apa-apa, tanduk unicorn jika di pegang oleh orang yang tidak di kehendaki itu sangat berbahaya, sedangkan Liona adalah gadis yang berbeda.
"Terimakasih."
Tanpa mengucapkan apapun, unicorn itu pergi ke arah yang lebih gelap. Tanpa membuang waktu, mereka pergi dari sana.
Entah karena suasana yang tegang atau memang mereka yang tidak berniat berbicara, pasukan itu begitu hening, hanya terdengar suara derap langkah kuda yang menginjak ranting.
Liona yang akan mengajak ngobrol pun merasa canggung, deheman kecil saja suaranya begitu menggema dan itu membuatnya agak ragu.
Jalan yang di tuju terlihat kelam, semakin dalam semakin gelap dan dingin, tanpa ada cahaya dan juga nafas makhluk hidup lain selain mereka.
"Seperti sedang uji nyali di bangunan tua kuno yang penuh dengan hantu dan paranormal." Celetuk Dave tiba-tiba, yang lainnya mengernyit bingung, apa itu paranormal?
"Manusia itu memang selalu mengucapkan hal-hal yang tidak kita mengerti, seolah dia menciptakan kosa kata baru." Ujar Edward dengan santai, Elios, Luther dan Arthur melirik Liona yang memalingkan wajah kikuk.
Pembicaraan singkat itu tidak terlalu mengubah suasana, masih suram dan gelap, walaupun tidak terlalu canggung namun tetap saja ini sangat tidak nyaman.
"Sial!" Marquees Leandro mengumpat kala dia menginjak sesuatu yang lembek dan juga basah.
Liona yang tepat berada di belakangnya melihat dengan kemampuan matanya yang luar biasa ke arah yang di injak Leandro.
"Berhenti!" Teriaknya.
Pasukan itu saling memandang, ada beberapa orang yang berada di barisan depan juga berhenti merasa aneh ketika benda lembek itu seperti menyedot mereka.
"Ada apa?" Sean melirik ke arah Liona yang merentangkan sebelah tangannya di atas, menandakan agar tidak bergerak.
"Ada lumpur hidup disini, daya tariknya sangat kuat karena itu adalah campuran air, pasir dan juga tanah liat. Jangan bergerak terlalu banyak karena itu bisa meningkatkan kecepatan menelan."
Beberapa orang yang berada di lumpur hidup terlihat panik, namun mereka berusaha untuk tenang karena dalam situasi ini ketenangan benar-benar di butuhkan.
Elios menyuruh orang yang tidak menginjak lumpur untuk turun dari kuda dan mengamankannya, karena kereta bawaan berada di paling belakang, orang-orang yang selamat dari lumpur dengan mudah membawa tambang.
Beberapa orang dengan mudah melemparkan tambang pada orang-orang yang sedikit demi sedikit terhisap ke dalam lumpur hidup. Sebelah tangan kiri memegang pelana kuda yang akan tenggelam dan sebelahnya lagi berpegang pada tambang.
Para wanita di biarkan menjaga dan melihatnya dari samping, takut-takut ada suatu bahaya saat mereka sedang menolong orang-orang yang terhisap.
"Terik terus!" Teriak seseorang.
Untungnya tidak ada korban jiwa, mereka memutuskan untuk berhenti sejenak seraya mengobati kuda dan beberapa orang yang terluka.
Bau menyengat tiba-tiba saja merasuk ke hidung semua orang, mereka saling melihat satu sama lain, karena itu benar-benar aneh, mereka tidak merasakan adanya makhluk hidup lain selain mereka.
Blukk blukk blukk
Suara lumpur yang dari tadi terus mereka abaikan mulai menjadi fokus perhatian, ada yang aneh disana, semua orang terlihat sangat waspada.
Cacing seukuran raksasa tiba-tiba saja muncul dari dalam lumpur, makhluk kenyal itu menggeliat menjijikan dengan semburan gas hijau yang keluar dari pori-pori kulit cacing.
Beberapa orang merasa mual saat mencium bau busuk dari gas hijau itu, cacing raksasa itu menggeliat-geliat seperti merengek minta sesuatu.
Lumpur-lumpur itu seketika menjadi mendidih seperti lava, melihat ke arah ekor cacing raksasa, ternyata dia sedang buang Kotoran. Sangat menjijikan!
"Kenapa makhluk yang tidak punya tulang itu harus membuang kotorannya di depan kita?" Celetuk Arthur dengan wajah pucat menahan bau.
"Dasar bodoh! Cacing itu makhluk yang tidak berakal, dia mana tahu harus buang kotoran di hadapan siapa atau dimana." Edward dengan kejam memukul kepala Arthur, berharap manusia ini bisa lebih pintar.
Semburan gas hijau yang lebih pekat keluar dari ujung ekor cacing, di sertai suara khas buang kotoran dan juga beberapa hal aneh yang keluar dari ujung ekor cacing yang menjijikan.
Bau busuk itu tercium lebih pekat, baunya sangat aneh seperti sampah yang tercampur hal-hal kotor di sertai bau bangkai dan telur busuk.
"Sialan! Bau apaan ini? Rasanya aku ingin mati saja." Salah satu prajurit menutup hidungnya mati-matian, bau itu memang sangat pekat dan benar-benar tidak enak.
Ngingg
Cacing itu menjerit lucu, dia keluar dari dalam lumpur lalu berjalan meninggalkan pasukan mereka begitu saja.
Melihat ke arah lumpur yang masih mendidih, terlihat beberapa serangga yang datang entah dari mana mengerumuni kotoran cacing.
Bentuk mereka sangat aneh, ukurannya sebesar kecoak, ada duri-duri halus pada kakinya juga terdapat gigi runcing yang mencuat dari sudut bibir mereka.
"Kita harus pergi dari sini, aku benar-benar tidak bisa menahan bau sampah ini. Bisa-bisa aku mati muda sebelum menikah." Ucapan Luther menyadarkan semua orang, mereka berniat berpindah ke tempat yang tidak terkontaminasi bau cacing.
Sebenarnya cacing itu benar-benar sesuatu yang baru pertama kali mereka semua temui, pertama cacing itu tidak memiliki nafas makhluk hidup.
Warnanya begitu pucat dan juga ukurannya sangat besar, lalu cacing itu mempunyai pori-pori yang terbuka lebar dan mengeluarkan gas berbau menyengat.
Saat akan buang kotoran juga, lumpur menjadi mendidih seperti lava. Namun bahkan cacing itu seolah-olah mengabaikan pasukan mereka yang kerdil.
Beberapa orang berpikir bahwa di hutan ini sangat luar biasa dan tidak masuk akal, ada juga beberapa serangga pemakan kotoran yang menjijikan.
"Jangan-jangan lumpur yang tadi itu sebenarnya kotoran dari cacing raksasa." Celetuk salah seorang prajurit yang justru di berikan tatapan tajam orang-orang yang terhisap.
"Maaf, aku hanya asal bicara saja." Ujarnya mengangkat bahu merasa tidak bersalah sama sekali.