I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Dua puluh tiga



Saat ini aku sedang berhadapan dengan ayahku, ketika aku bertanya siapa musuh keluarga ini dan siapa saja yang menjalin kerja sama, ayah menyeretku ke ruang kerjanya dan memasang sihir kedap suara.


"Kenapa kau bertanya? Apakah ada yang berusaha menyakitimu?" Tanya ayahku dengan serius.


"Aku sudah besar ayah, meskipun belum debutante di pergaulan kelas atas namun aku harus mengetahui siapa saja musuh keluarga kita, aku hanya takut di masa depan aku akan salah mengambil langkah." Ujarku dengan penuh penjelasan.


Ayahku menghela nafas lelah, dia kemudian membuka suatu kotak dari bahan kayu jati yang di ukir dengan pola naga.


"Ayah tidak mengerti mengapa kamu menanyakan hal itu, tapi kamu benar kamu harus tahu dari sekarang. Sebenarnya tidak ada yang benar-benar tulus menjalin hubungan dengan Asteria.


Ayah dan kaisar juga bisa sedekat ini bukan karena persahabatan, melainkan karena tujuan kita yang sama, kaisar akan memberikan ayah otoritas dan ayah akan melindungi keluarga kekaisaran.


Ayah bisa saja memberontak karena sejujurnya kendali atas militer ada di tangan ayah, hanya saja ayah tidak pernah menginginkan tahta." Jelas ayahku panjang lebar, disini aku sedikit mendapat kesimpulan.


"Lalu kenapa ayah bilang tidak ada yang benar-benar tulus menjalin kerja sama dengan keluarga kita?" Tanyaku tidak mengerti.


"Nak, sesuatu yang ada di dalam kotak ini sangat berharga, mereka mengincar kotak ini! Mereka tidak melawan karena, prajurit kita adalah yang terkuat dan bersumpah setia kepada ayah, lalu kotak ini hanya bisa di buka oleh salah satu keturuan Asteria yang sudah di takdirkan." Ujar ayahku menatap rindu pada kotak dengan pola ukiran naga itu.


"Lalu, pernahkah ada yang bisa membukanya? Kenapa ini sangat di incar?"


"Tidak ada yang pernah bisa membukanya, kotak ini di incar karena menurut Duke terdahulu, di dalamnya terdapat sesuatu yang bila terjatuh pada orang dengan sifat serakah maka akan terjadi kehancuran benua."


Sekarang aku mulai mengerti, apakah itu karena kotak ini semua keluarga duke di eksekusi? Namun bukannya hanya bisa di buka oleh keturunan langsung Asteria yang sudah di takdirkan? Lalu kenapa mereka harus membunuh duke bukannya mengancam untuk membuka kotak tersebut?


Lalu kemana pasukan terkuat yang bersumpah setia kepada ayah? Mengapa mereka tidak melawan saat ayah dan kedua kakakku di eksekusi?


"Ayah, apakah aturan sumpah kuat?" Tanyaku pada ayah yang sedang menyimpan kotak itu.


"Tentu saja, nak sumpah itu tidak bisa di ucapkan sembarangan, jika kita melanggar sumpah maka akhirnya hanya ada kematian yang tragis." Ujar ayahku.


***


Setelah berbincang cukup lama, aku kembali ke kamarku dan menulis point penting dari informasi yang ku dapatkan dari ayahku.


Hal pertama yang memungkinkan terjadinya eksekusi pada duke adalah karena keserakahan terhadap kotak yang di percaya jika jatuh pada orang jahat bisa menyebabkan bencana benua.


Tunggu!


Kata terjatuh pada orang jahat bisa menyebabkan hancurnya benua berarti bahwa kotak itu bisa di buka bukan hanya oleh keturunan Asteria yang sudah di takdirkan saja.


Apakah saat mereka mengeksekusi ayah, mereka telah menemukan cara agar bisa membuka kotak itu?


Katanya kotak itu tidak bisa di hancurkan, bahkan oleh api paling kuat pun, sebenarnya apa isi kotaknya.


Ah aku benar-benar tidak mengerti! Lalu yang kedua, karena pasukan ksatria duke lebih kuat dari yang lain dan bisa saja memberontak, tapi duke tidak melakukan itu! Lagipula kenapa para ksatria tidak menolong sih?


Dan yang ketiga adalah, mungkin karena duke Asteria tidak bersumpah setia kepada kaisar dan hanya menandatangani kontrak di atas kertas saja, dan pihak kekaisaran menganggap itu sebagai ancaman.


Dan kemungkinan yang terkahir adalah kesalahan dari Duke itu sendiri.


Ah aku tidak mengerti itu semua kemungkinan kenapa semua keturunan Asteria bisa di eksekusi, ini benar-benar membuatku bingung tidak ada hal pasti disini.


Dalam novel alasan Duke di eksekusi benar-benar random, dan bukankah alasan itu harus di sebar ke masyarakat dan juga apa yang Duke perbuat harus di beberkan di depan kuil sebagai tanda bukti pantas atau tidaknya sebuah keluarga di eksekusi?


"Ck rumit sekali." Gumamku sambil mengacak-acak rambutku depresi.


"Sejak kapan kau ada disini?" Tanyaku setelah dia duduk di hadapanku.


"Sejak kau masuk." Balasnya santai.


Untung saja aku bergumam di dalam hatiku, untung saja aku menggunakan huruf abjad dalam menulis sesuatu.


"Penyusup!" Aku berkata dengan sinis, dan dia hanya tersenyum tampan saja mendengar ucapanku.


"Sedang apa?" Tanya nya.


"Tidak ada, apakah kau betah disini? Festival bintang hanya tinggal beberapa hari saja kau tidak akan keluar?" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Jika di temani olehmu maka aku akan keluar!" Sialan, dia memanfaatkanku.


"Tidak." Dengan nada datar aku menolaknya, dia terkekeh pelan dan mengelus rambutku yang entah kenapa sangat nyaman.


Aku memandangi wajahnya yang tampan, rasanya sangat familiar aku tidak tahu kenapa, seperti pernah bertemu di suatu tempat dan akrab, namun kenapa rasanya menyesakkan, bahkan aku tidak bisa membencinya?


"Leon."


Dia terkejut, aku pun terkejut entah kenapa nama yang asing namun akrab ini terucap begitu saja oleh mulutku, aku merutuki diriku sendiri.


"Maafkan aku, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba berkata seperti itu." Ujarku yang dengan gampang menjelaskan, padahal seharusnya aku biasa-biasa saja toh semua yang ku ucapkan adalah hakku sendiri.


Dia tersenyum dan berkata tidak apa-apa dan mengelus rambutku pelan, sekilas wajahnya tampak sendu yang bahkan lebih membingungkan, apakah dia cemburu karena aku menyebut nama pria lain saat dengannya?


"Apa kau bisa pergi denganku hari ini, besok aku harus pergi karena ternyata situasi disana sangat tidak terkendali." Ujar Sean tiba-tiba.


"Ah benar, aku juga besok harus pergi katanya berangkat dengan pasukanmu nanti agar tidak terjadi apa-apa saat perjalanan." Balasku.


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak tahu? Aku kan menjadi suka relawan disana, asal kau tahu aku ini jenius dalam bidang kedokteran." Aku membanggakan diri.


"Berbahaya!"


"Tidak mau, aku akan tetap pergi kesana!"


"Kau... Hah kau memang keras kepala."


Dia kalah debat dan pamit pergi, rencana pergi untuk ke festival bintang pun tidak terjadi karena aku yang harus beristirahat dan bersiap-siap untuk perjalanan besok.


Katanya dari Mavros ke Ravnos memerlukan waktu 10 hari jika perjalanan menggunakan sihir tanpa berlama-lama istirahat.


Aku juga ingin terjun praktek langsung, meskipun healer ku bagus dan Alcemist ku luar biasa, ilmu kedokteranku masih kurang karena aku yang mati saat koas.


Healer hanya bisa menyembuhkan luka ringan dan luka luar, sedangkan Alcemist hanya membuat ramuan sebagai obat, beda dengan dokter yang mampu mendiagnosa penyakit dalam.


Peradaban ini ilmu kedokteran masih kurang, mungkin disana akan ada orang-orang yang menderita penyakit dalam dan aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan itu.


Tadinya thor mau up tu besok gaiseu, cuman bener-bener gemes aja gtu pengen up sekarang, emg thor ini labil banget sih wkwk tapi ya mau bagaimana lagi😭