
Sejak hari dimana kami menemukan Khimera yang tersegel, kami tidak pernah berjalan-jalan untuk mengitari istana, rasanya selalu ada yang memperhatikan kami dimanapun kami berada.
"Benar-benar tidak nyaman, harusnya kita tidak usah masuk ke dalam ruangan itu." Ujar Arthur sambil memakan buah anggur.
"Karena sudah terjadi jangan di sesali, bagaimanapun kita hanya tidak sengaja masuk ke sana karena penasaran." Luther menendang kaki Arthur.
Kemarin malam aku bertanya pada Sean, dia hanya berkata sebaiknya tidak usah terlalu di pikirkan, katanya lebih baik tidak tahu.
Aku cukup terkejut, karena biasanya Sean akan selalu memberitahuku, mungkin memang itu adalah rahasia Ravnos, dan aku tidak berhak mencampuri urusan negara orang lain, jadi aku melupakannya dan tidak bertanya lagi.
"Apakah hari ini kau akan pergi melihat laut?" Elios menatapku yang sedang tiduran di atas pangkuannya.
"Iya, Sean mengajakku." Aku mendongkak melihat Elios yang mengelus rambutku, rasanya sudah lama tidak bermanjaan dengan Elios.
"Aku malas, aku akan menunggumu di istana, jadi hati-hati pergi kesana." Luther mengingatkan, aku hanya berdehem dengan malas saja.
Sean sudah menjemputku, kami akan pergi menggunakan sapu terbang, meskipun aku bisa mantra penerbangan, aku tidak pernah berjalan-jalan keluar menggunakan sapu terbang.
Aku hanya pergi dengan Sean dan jenderal besar saja, terlihat aneh seorang jenderal besar yang seharusnya naik kuda dengan gagah, naik sapu terbang menggunakan baju zirah.
Aku berpamitan pada Elios, Luther dan Arthur, terbang bebas di udara, rasanya seru seperti burung yang tidak takut apapun, aku bisa melihat pemandangan kota di bawah, angin sejuk menerpa wajahku.
Sudah berapa lama ya aku tidak merasa sebebas ini, perasaan hampa yang menyesakkan menjalar pada hatiku, entah kenapa aku ingin menangis.
Kami turun di pelabuhan Limania, terlihat para nelayan bersiap-siap untuk pergi ke laut, mereka di temani oleh para soldier karena di laut selalu saja ada monster.
Laut tidak masuk dalam sihir perlindungan, konon katanya atmosfer laut mempengaruhi sihir, makanya sihir perlindungan tidak di pasang, selain karena percuma, laut juga sangat luas.
"Nona Liona."
Aku berbalik dan terlihat pria tampan yang memakai baju berwarna putih, Erick Chamagela! Second male lead dalam novel 'The Happiest Princess'
"Saya tidak menyangka akan bertemu dengan nona pahlawan yang membanggakan Mavros disini." Sapanya dengan senyum lembut, rasanya punggungku panas.
"Ah ya, saya juga tidak menyangka akan bertemu dengan Tuan Erick disini." Balasku dengan canggung.
"Memang, karena Ravnos membuka jalur perdagangan, aku jadi sangat untung, namun tetap saja pajak Mavros menjadi lebih tinggi." Keluhnya.
Sial sekali harus bertemu pemeran utama pria lain disini!
"Kalau begitu saya pamit dulu." Aku dengan terburu-buru pergi tanpa mendengar jawabannya, memang tidak sopan namun itu membuatku tidak nyaman.
Aku menggandeng tangan Sean dan masuk ke dalam kapal pesiar, rencananya kami akan menikmati sunset di kapal dan pulang larut malam.
Kapal melayar, luar biasa kapal pesiar di zaman kuno meskipun tidak secanggih kapal pesiar zaman modern, namun ini sangat nyaman dan dilapisi dengan sihir.
Aku merentangkan kedua tanganku, menikmati sejuknya angin yang menerbangkan setiap helai rambutku, rasanya seperti sedang syuting film Titanic.
"Kau suka?" Sean berdiri di sampingku, entah kenapa aku berharap dia memelukku dari belakang seperti poster film Titanic.
"Yah, laut adalah hal yang paling ku suka, meskipun laut lebih misterius, namun ketenangan alam dan keindahannya berbeda." Aku memejamkan mata menikmati angin.
"Syukurlah jika kamu suka."
Brukk
Kapal pesiar menabrak sebuah sesuatu yang menyebabkan ku kehilangan keseimbangan, untung saja Sean menatapku, dan aku tidak jadi terjun ke laut.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir.
"Iya tidak apa-apa, terimakasih." Aku membenarkan posisiku dan berkata dengan canggung.
Seseorang berlari menuju ke arah kami, menyampaikan bahwa ada gurita raksasa yang tidak sengaja tertabrak kapal pesiar.
Katanya gurita itu mengamuk dan menyerang kapal, meskipun ada perlindungan sihir, namun kapal tidak akan bertahan lebih lama.
"Aku akan pergi denganmu." Sean mengangguk dan kami pergi bersiap untuk melawan gurita raksasa.
Seperti yang di duga, makhluk bertangan yang seperti tentakel akan selalu beregenerasi dengan cepat, aku heran mengapa rata-rata monster yang kutemui semuanya sangat cepat beregenerasi?
Namun, dibandingkan hewan invertebrata yang lain, gurita memiliki kecerdasan yang luar biasa, gerakan tangannya rumit dan sulit di baca, terkadang dia meniru sesuatu yang di lakukan orang lain.
"Sial! Kenapa guritanya sebesar ini?" Seseorang mengumpat sambil terus memotong kedelapan tangannya yang terus bergerak.
Untung kapal pesiar ini terbuat dari material yang bagus dan di lengkapi dengan sihir, serangan gurita tidak menyebabkan kapal menjadi rusak.
Sean mengeluarkan pedangnya dan memasukkan sihir api, aku pun sama membantu orang-orang memotong tangan gurita, meskipun benar-benar percuma.
"satu orang, satu tangan! setiap tangan yang akan tumbuh langsung potong!" Teriak Sean, cara itu memang paling bagus karena tangan yang terus menerus di potong regenerasinya akan melambat dan itu memberikan waktu untuk bisa membunuh gurita.
Gurita itu menggeram marah dan menyerang kami dengan lebih brutal.
"Ah, tolong!" Seorang pekerja tertangkap tangannya yang lengket, aku berlari dan bergegas memotong tangan gurita.
Karena sudah lama tidak menggerakkan tanganku, aku melatih kelenturan otot lengan dan kecepatan mencari titik-titik lemah gurita.
Gurita adalah hewan Moluska, jantungnya ada 3 dan itu adalah titik lemahnya.
Namun saat ini, gurita menyemprotkan tintanya karena merasa terancam sebagai bentuk pertahanan diri.
Tinta gurita membentuk kabut hitam dan menyebabkan pandangan menjadi buram, namun karena mataku khusus, aku bisa melihat pergerakkan gurita yang sedang berencana menyerang kami!
Sebelum itu terjadi, aku berlari dan menusuk salah satu jantungnya, para pengendali sihir angin, menyingkirkan kabut tinta gurita sehingga pandangan menjadi lebih baik.
Karena krisis, gurita berencana untuk kabur! Namun bagaimana bisa kami membiarkannya begitu saja dan mengganggu orang lain.
"Titik itu adalah 2 jantung gurita yang lain, satu jantungnya telah ku tusuk." Aku berteriak pada Sean.
Sean mengangguk dan bergegas dengan kecepatan yang seperti cahaya, kecepatannya seperti teleport untuk orang-orang yang tidak bisa melihat dengan jelas.
Namun karena mataku khusus, aku bisa melihat perpindahan cepat kilat yang membuatku diam-diam sangat terkejut.
Dia menusuk kedua jantungnya sekaligus, satu jantung dengan pedang dan satunya lagi dengan belati.
Sean memotong mayat gurita, dan memasukannya ke dalam wadah, meskipun itu gurita monster, namun tidak beracun dan bisa di konsumsi.