I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tujuh puluh satu



Debutante Liona berjalan dengan lancar, meskipun di awal acara sempat mengalami kejutan. Sekarang Liona memutuskan mengambil cuti Akademi dan ikut dengan Sean menuju Padang pasir.


Tentu saja Elios, Luther dan Arthur akan mengikuti Liona, namun Edward juga ikut kali ini, dia merasa kalau hidup di dalam Akademi sangat membosankan setelah bergaul dengan Liona dan teman-temannya.


"Kapan kita akan berangkat? Apakah akan naik kereta kuda?" Elios menatap Liona.


"Dua hari lagi, setelah persiapan selesai kita akan segera berangkat, dan kita akan naik kuda bukan kereta." Sebenarnya Duke Asteria melarang Liona habis-habisan, Duke sempat menyalahkan Sean yang mengajak anaknya menuju bahaya.


Namun Liona berkata dia ingin menjadi lebih kuat, pertarungan langsung akan di butuhkan, lagi pula Elios akan ikut, dia ahli strategi terbaik, jadi tidak mudah untuk mengusik mereka.


Sekarang pun Edward akan ikut, jika strategi kedua orang itu di gabungkan mungkin melawan Liona dan teman-temannya akan sangat merepotkan.


"Bawalah jubah karena disana mungkin akan sangat panas, jangan lupakan masker dan juga pelembab kulit, tidak usah membawa sesuatu yang merepotkan, cukup bawa dua pasang sepatu bot dan pakaian pria yang tidak rumit."


Untuk bahan makanan, mereka hanya akan bergantung pada alam, meskipun banyak sekali monster, namun hewan buruan juga sangat melimpah.


Jika salah satu populasi punah maka keseimbangan ekosistem akan sangat terganggu, jadi meskipun monster banyak berkeliaran, mereka tidak mengganggu hewan normal yang lain.


***


Dua hari setelah itu, Liona benar-benar pergi, meskipun tidak ada murid wanita dari akademi yang akan ikut dengannya, namun pasukan Tiger mempunyai beberapa anggota wanita, Duke juga merasa nyaman.


Lagi pula orang-orang itu tidak mau repot-repot pergi ke padang pasir untuk meningkatkan pengalaman dengan mempertaruhkan nyawa.


"Berapa lama waktu yang akan kita butuhkan untuk pergi kesana?" Tanya Liona sambil melihat ke arah Sean.


"Dua puluh hari, namun jika harus bertarung dengan monster kuat kemungkinan satu bulan. Perjalanan mungkin agak santai kalau di sekitar empat kekaisaran karena ada knight dan paladin yang membereskan monster, namun setelah keluar itu berbahaya."


Liona menganggukkan kepalanya, dia mengambil cuti tiga bulan dari Akademi, meskipun begitu Akademi akan tetap memberikan nilai karena cuti Liona dan teman-temannya bukan untuk hal yang tidak berguna, meskipun tidak di masukkan ke dalam tugas resmi.


Sepanjang jalan Sean terus menjelaskan situasi yang ada disana, dia juga mengatakan kalau Dave akan menunggu mereka di dekat hutan Black Forest bersama dengan Marquess Leandro.


"Marquess Leandro juga akan ikut?" Liona agak terkejut, Sean mengernyit tidak suka, mengapa wanitanya juga kenal pria seperti dia?


"Marquess Leandro teman dari kakak, tentu aku mengenalnya." Cibir Liona setelah melihat raut wajah Sean yang sangat tidak baik.


Sean menghela nafas, berpikir jika di masa depan dia akan benar-benar mengurung Liona agar tidak terlalu banyak menarik perhatian para lelaki hidung belang, wanitanya ini sangat cantik, bahkan Sean merasa ingin terus memohon pada Liona untuk tetap bersamanya.


"Dia juga ikut, walau bagaimanapun Leandro juga merupakan ksatria di bawah Duke." Memang di jelaskan dalam Novel sebenarnya Leandro merupakan jenius, bakatnya sangat bagus sehingga dia sudah di angkat menjadi ksatria sejak kecil.


Meskipun tidak terlalu menonjol, tapi Leandro benar-benar hebat, dia hanya banyak diam, dan Liona juga tidak dekat dengannya.


Dalam novel Liona dan Leandro saling membenci, Liona membenci Leandro karena bodoh menyukai Cecilia sampai mati, Leandro membenci Liona karena dia selalu menyiksa Cecilia.


"Apakah Tuan Erick juga ikut?"


"Tidak, dia lemah!" Sean mencibir "Tapi meskipun begitu, dia sering berpergian antar benua, cakupan dagangnya sangat luas, dia sering menggunakan jasa Pasukan Tiger dan membayar banyak uang."


Tidak ada pembicaraan lagi disana, mereka lebih memilih fokus pada perjalanan agar tidak terlalu menghambat waktu. Dan benar saja para monster yang menyerang sudah di kalahkan duluan oleh knight dan paladin.


Perjalanan mereka menjadi lebih mudah, itu karena monster-monster ini adalah monster tingkat rendah, tidak terlalu repot untuk mengurusnya.


"Bukankah sebentar lagi gelombang monster akan terjadi? Makanya monster saat ini lebih lemah dan sedikit." Ujar Arthur.


Memang selalu ada gelombang monster setiap setahun sekali, saat akan terjadi gelombang, para monster akan menyiapkan diri, hibernasi atau bersembunyi.


"Berarti akan lebih berbahaya saat di padang pasir." Elios mengernyit, tidak terlalu masalah baginya, hanya saja ada Liona disini, meskipun tahu Liona kuat, tetap saja seorang wanita!


Sean juga sempat memikirkan ini saat akan mengajak Liona, namun karena percaya dengan kekuatannya dia pasti bisa melindungi Liona apapun yang terjadi.


"Apakah ada tempat yang aman disana? Tidak mungkin bukan setiap saat kita akan bertarung dengan monster?" Tanya Luther.


"Ada markas pasukan Tiger disana, sangat aman karena sihir perlindungannya kuat, meskipun tidak selalu bertemu dengan monster, Padang pasir itu berbahaya. Jadi tetap waspada!"


***


Terlihat Marquess Leandro bersama dengan Dave sedang menunggu, mereka saling menyapa dan memutuskan langsung berangkat tanpa istirahat.


Leandro tidak datang dari Mavros karena harus berjaga di perbatasan, meskipun ada pasukan Duke Asteria, namun tetap saja tugas harus di jalankan.


"Lama sekali." Dave mencibir, dia sudah menunggu Liona dan yang lainnya sejak pagi, namun pasukan ini benar-benar terlambat.


"Kalau lama jangan menunggu." Liona mendelik sinis, sejak dulu Dave memang selalu begitu, kebiasaan menyindirnya tidak pernah sirna.


"Jangan berdebat lagi, kita membuang waktu cukup banyak." Seorang pria berkulit hitam manis dengan dingin menyela pembicaraan mereka.


Liona melihatnya agak aneh, merasa familiar, orang yang di tatap begitu intens hanya melihat Liona tanpa minat.


Mereka melanjutkan perjalanan tanpa banyak bicara, para monster rendah yang menyerang di tebas sekaligus tanpa banyak kesusahan, memang pasukan Tiger yang terbaik!


"Kenapa pasukanmu begitu kuat?" Dave agak iri melihat bawahan yang di pimpin oleh Sean, memang dia juga salah seorang yang tahu tentang alur novel dan kehebatan pasukan Tiger, namun tetap saja dia penasaran.


"Pasukan ku terlatih antara hidup dan mati, tentu saja mereka sangat kuat." Meskipun suara Sean sangat datar, namun ada nada kebanggaan di dalamnya.


"Aku sering bertemu dengan pasukan Tiger saat di padang pasir, mereka tersebar ke seluruh benua dan sangat kuat, aku cukup kagum." Pria berkulit hitam manis ikut mengomentari.


Pembicaraan mereka terdengar membosankan di telinga para gadis, Liona melirik gadis cantik yang tampak dingin di sisinya.


Kata Sean dia adalah salah satu orang kepercayaannya, tidak mempunyai ekspresi dan di juluki dengan Ice sugar.


"Apakah ada yang ingin anda katakan?" Tanyanya menatap Liona.