I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tiga puluh delapan



Sudah 2 hari sejak Liona dan teman-temannya sampai di Mavros, setibanya di rumah, Duke mengurung Liona di bagian terdalam kastil.


Tidak ada kabar dari teman-temannya atau sebenarnya ada kekacauan apa di luar.


"Nona bertahanlah lagi untuk beberapa waktu." Seorang pelayan memandang Liona dengan prihatin sambil memberikan makanan.


"Ada apa di luar? Mengapa ayah menyeretku tanpa memberikan penjelasan?" Liona bertanya dengan penuh keheranan.


"Tidak apa-apa, nona cukup diam disini." Pelayan itu tersenyum, kemudian pamit karena dia tidak bisa berlama-lama di ruangan itu.


Tuk tuk


Seekor merpati kecil mengetuk-ngetuk kaca pentilasi yang ada di ruangan Liona, meskipun tempatnya paling dalam di kasil, jika seseorang meninggalkan jejak aura maka itu akan tetap ketahuan.


Liona membuka kaca dan membiarkan merpati masuk, ada surat kecil di kakinya, suratnya kosong.


"Siapa sih yang mengirim surat kosong begini? Apakah dia tidak punya pekerjaan dan usil begini?" Gerutunya.


Namun teringat dengan metode aneh yang menulis dengan perasan air lemon, Liona mengambil lilin dan mendekatkan kertasnya.


Tulisan perlahan muncul dengan huruf kode jika itu pesan rahasia.


"Luther menghilang! Prasina menyebarkan kalau Luther mempunyai darah demon, dia berkhianat dan berteman baik dengan Cecilia."


Deg


Liona terdiam karena terlalu terkejut, Prasina? Kenapa dia berkhianat? Liona merasa kalau dia dan teman-temannya tidak pernah menyinggung Prasina.


"Kenapa?" Gumamnya dengan kilatan mata yang dingin.


Sementara tempat Prasina berada dia sedang bersama Cecilia menikmati anggur mahal yang hanya di produksi 1 tahun sekali.


"Bagaimana reaksi jalang itu ya?" Prasina bertanya dengan riang.


"Heh, kau benar-benar kejam! Mereka itu temanmu dan kau benar-benar berkhianat?" Meskipun nadanya prihatin, namun itu penuh dengan jejak ejekan.


"Jalang dan para pria itu benar-benar naif, mereka mempercaiku dengan mudah, aku benci mereka, apalagi perhatian yang di terima si jalang sialan itu!" Umpat Prasina.


Prasina adalah orang yang lembut dan dewasa, jika Liona dan teman-temannya melihat Prasina seperti ini, mungkin mereka akan segera menamparnya sampai mati.


"Benar-benar manusia sialan, padahal aku juga cantik namun perhatian selalu tertuju pada Liona, padahal aku ada namun orang-orang tidak pernah melirikku, bahkan sekarang ayahnya menekan keluargaku, sialan aku membenci dia dari awal." Prasina memarahi Liona dengan menggebu-gebu.


"Pilihan bagus kau bersamaku sekarang, menara suci akan mengumumkan kalau aku seorang sage sebentar lagi, kita bisa menekan jalang sialan dan Duke." Ujar Cecilia yang menyeringai kejam.


Mereka berdua tidak mengobrol lagi dan memilih untuk pulang ke rumahnya.


Karena mabuk Prasina berjalan sempoyongan ke dalam kamarnya, berganti pakaian dan berniat untuk tidur.


"Wah setelah berkhianat kau masih tetap santai ya breng*ek."


Prasina terkejut, karena masih mabuk dia tidak bisa melihat jelas 3 orang berjubah yang berada di sudut kamarnya.


"Kita apakan ya pengkhianat ini?" Tanya seorang pria dengan suara di redam.


"Potong tubuhnya, keluarkan semua organnya dan beri makan pada para monster di luar." Balas seseorang dengan suara yang feminin.


"Bagaimana jika menggunakan racun tulang yang akan membuatnya busuk namun tidak bisa mati?"


Diskusi dengan suara keras itu sedikit menyadarkan Prasina dari mabuknya, dia membawa tongkat bisbol dengan waspada.


"Siapa kalian?"


Tampak Liona, Elios dan juga Arthur yang menatap malas pada Prasina ketakutan.


"Oh jangan berteriak, kami sudah memasang sihir kedap suara dan penjaga mu sudah Liona lumpuhkan." Arthur mendekat dan menarik dagu Prasina.


"Dasar tidak tahu diri! Jadi kau hadiah dari Cecilia ya, kemampuan aktingmu begitu bagus, sampai aku ingin menjejelkan kaos kakiku pada muka dan mulut jahanammu." Arthur mengeluarkan tekanan mananya membuat Prasina memuntahkan darah mudanya.


"Menjijikan, dimana Luther?"


"A-apa maksudmu?" Prasina mengalihkan pandangannya tidak berani menatap mata Arthur yang horor.


"Heh kau seharusnya sudah tahu kami, kami tidak melembut meskipun kau orang yang kami kenal." Elios menjambak rambut Prasina dengan keras.


"Cih meskipun aku tidak menyiksa wanita, namun karena ini dirimu, aku tidak akan begitu malu."


Liona melihat itu dengan senyum datar, berpikir rasanya seperti dalam film psychopath bergenre Action yang akan menyerang pengkhianat.


Liona menendang dada Prasina dengan keras, Prasina memuntahkan seteguk darahnya lagi.


"Kalian tidak bisa membunuhku, atau kalian akan menerima akibatnya."


"Ckck, kami tidak akan membunuhmu, hanya menyiksamu saja agar kau tidak mati, kami akan menculikmu dan menempatkan mu di ruangan rahasia, lalu count tidak akan mencurigai kami."


Liona berkata dengan kejam, sebenarnya dia bisa keluar karena teleportasi, Sean sudah mengajarkannya beberapa mantra sederhana dan juga mantra telepati dan teleportasi.


"Kau tahu? Aku menciptakan racun baru, namun aku hanya mengujinya pada katak dan tikus, jika pada manusia bagaimana ya reaksinya." Liona berujar dengan tampang psychopath.


(Adegan di atas tidak merubah genre🗿)


Waktu di Ravnos, Liona dan Luther menciptakan racun thilos, jenis racun yang jika meminumnya tidak akan mati, hanya akan mengalami penyiksaan yang tidak di terima oleh akal sehat.


Meskipun hanya di coba pada katak dan tikus, namun reaksinya sangat memuaskan. Prasina gemetar ketakutan, dia kira mereka akan melepaskannya jika tertangkap atau dia bisa datang ke menara suci, namun siapa sangka hal-hal berubah jadi seperti ini.


"Aku bertanya sekali lagi, dimana Luther?" Tanya Arthur dengan suara yang dalam.


Prasina tidak menjawab, mengambil sesuatu dari sakunya! Itu kertas sihir teleportasi, kertas sihir merupakan edisi terbatas, karena teleportasi jarang, makanya harganya sangat mahal.


Elios mengambil itu dengan paksa, menyerahkannya padaku, aku menyimpannya karena mungkin akan di temukan petunjuk adanya Luther.


"Kita pergi, bawa dia!" Ujar Liona, mereka pergi menggunakan teleportasi milik Liona.


Mereka pergi dari sana membawa Prasina yang meronta-ronta dan berteriak putus asa.


Mereka membawa Prasina ke rumah Elios uang terpisah dari keluarganya yang berada di tengah ibukota, karena letaknya tidak akan di curigai dan disana ada ruangan rahasia yang tidak bisa di deteksi dengan sihir.


Mereka tiba di ruangan rahasia dan mengikat Prasina di tiang yang tampak suci, energi positif di ruangan ini sangat nyaman.


"Dimana Luther?" Liona berbisik ke arah Prasina dan menjambak rambutnya sekuat tenaga.


"A-aku tidak tahu, sungguh aku bersumpah." Cecilia berkata dengan susah payah.


"Kau pikir kami bodoh? Lebih baik kau mati saja, agar mengurangi populasi orang tidak berguna." Arthur dengan kejam memelototi Prasina.


"Berikan racunnya, jika dia sudah mau mengaku berikan penawarnya, jika tidak maka lupakan saja!" Liona melempar racun pada Elios.


Elios memberikan Racun itu pada Prasina dengan paksa.


"Dasar manusia terkutuk, kau benar-benar makhluk paling hina Prasina." Arthur dengan kecewa memandang Prasina yang sedang menahan reaksi dari racun.