
Karena tidak ada petunjuk yang pasti Sean menyuruh bawahannya untuk menyelidiki sekitar, pekerjaan bandit cat flower sangat rapi.
Bahkan bekas kereta kuda dan langkah kaki di samarkan dengan mudah, makanya bandit cat flower sangat sulit untuk di lacak.
"Tuan, ada laporan baru-baru ini, bandit cat flower sering menculik anak-anak dan perempuan, lalu lelang di perbatasan elefantas dan Pulchra sudah dibuka, apakah ada hubungannya?" Seorang bawahan melaporkan.
Sean berpikir itu mungkin saja, karena bawahannya melaporkan jika bandit cat flower sering berada di elefantas atau Pulchra.
Untuk tujuan mereka berada disana tidak di ketahui, karena informasi tentang bandit cat flower sangat tertutup, bahkan ada rumor di balik bandit cat flower adalah orang-orang besar yang berpengaruh di setiap kekaisaran.
"Baiklah, selidiki lebih lanjut!" Perintah Sean. Bawahan itu menurut dan menghilang secepat cahaya.
Sedangkan di sisi lain, Liona di tempatkan di kereta kuda yang sangat pengap dan penuh dengan jerami, bersama dengan beberapa perempuan lain dan juga Gressia dan Leila.
Karena pemulihan tubuh Liona yang cepat, dia bisa lebih dulu tersadar dari racun itu, seharusnya dia berjaga-jaga, namun Liona benar-benar lengah.
Saat akan menggunakan sihirnya Liona menyadari kalau itu di segel, seharusnya tidak terlalu berpengaruh padanya, tapi kenapa dia tidak bisa menggunakan sihirnya?
"Itu karena gelang sihir di gunakan hanya pada tawanan eksekusi mati atau penjahat kelas kakap." Suara Tenebris muncul di kepalanya.
Liona sangat bersyukur karena masih bisa mengobrol dengan Tenebris, saat ini dia harus tenang jangan sampai para bandit itu menyadari kalau dirinya sudah bangun.
Untung saja kemampuannya tidak terbatas pada sihir, ingat Liona adalah seorang ahli pedang!
"Kita ada dimana ini?" Tanya Liona kepada Tenebris, untung saja Cerbe ada dalam pelukannya.
"Perbatasan antara Pulchra dan Elefantas, sepertinya kau akan di jual sebagai budak."
"..."
Liona tidak berbicara lagi dan hanya fokus untuk tetap tenang, tenebris tidak bisa menghubungi Sean karena Liona tidak bisa menggunakan sihir.
"Coba kau gunakan sihir gelapmu untuk membuat sesuatu, Tuan akan merasakannya." Saran Tenebris.
Sihir kegelapan Liona sangat kuat, meskipun belum bisa di kendalikan dengan sempurna namun untuk meninggalkan jejak masih bisa.
Liona mencoba berkonsentrasi dan membaca mantra-mantra dasar untuk membuat sesuatu, dalam percobaan pertama dia berhasil.
Hal yang di buat Liona sangat mirip dengan bayangan hitam menjijikan yang dulu di buat Cecilia, namun bayangan hitam ini sangat murni dan tidak berbau busuk.
"Pergi ke arah Sean dan beritahukan jalannya pada mereka!" Seperti mengerti ucapan Liona, bayangan hitam itu merayap seperti ular ke arah Sean dan yang lainnya.
Kereta kuda tiba-tiba saja berhenti, para bandit itu melemparkan dua wanita yang sangat Liona kenali.
Cecilia dan Prasina!
Mereka juga ternyata korban penculikan dari para bandit ini, meskipun nasib Liona sangat sial, namun dia merasakan kebahagiaan tersendiri karena melihat musuhnya yang terbaring tak sadarkan diri.
"Ugh." Seorang budak kurus, kering dan tampak kurang gizi meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
Liona tahu kalau budak itu menderita Marasmus, melihat ke arah budak yang lain kondisinya sama persis terkena Marasmus.
"Tolong beri aku makanan."
Salah satu dari bandit itu menampar budak yang meminta makanan, Liona membelalakan matanya karena kesal.
Mengapa wanita di perlakukan lebih rendah dari seekor hewan? Liona berharap kalau para bandit ini akan bertemu dengan monster yang akan memakan mereka!
"Ini makanlah!"
"Terimakasih." Budak itu memakan roti dengan rakus, sudah berapa lama dia tidak makan?
Kereta berhenti lagi, kali ini semua budak telah terbangun, tentu saja Liona juga pura-pura bangun, itu karena ada bau penawar.
"Kalian ikuti dia, jangan membantah! Jika kalian berusaha untuk kabur maka jangan salahkan kami bersikap tidak sopan."
Liona mencibir, tindakan penculikan secara paksa dan menjual tanpa izin juga merupakan tindakan yang tidak sopan!
Tidak ada yang membantah, mereka berbaris untuk mengikuti pria berjubah menuju ruang bawah tanah yang lembab dengan bau darah samar.
Melihat ke arah kiri, di dalam sel terdapat anak-anak kecil, pria cantik dan juga wanita yang sedang di siksa.
"Kejam sekali." Gumam Liona.
Mereka di tempatkan di sel paling sudut, banyak bekas darah dan kulit yang terkelupas, itu sangat menjijikan!
Cecilia, Prasina, Gressia, Leila dan Liona di tempatkan dalam satu ruangan sel, mereka tidak di beri makan!
Untuk berjaga-jaga agar tidak memberontak, para budak di pasangi dengan kertas budak, jadi jika budak berniat memberontak akan di setrum secara otomatis.
Itu mengingatkan Liona akan kematiannya karena tersengat arus listrik.
"Mengapa kalian bisa berada disini?" Tanya Gressia pada Cecilia dan Prasina.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku merasa mengantuk dan saat terbangun sudah berada di tempat yang asing."
***
Al menerima laporan kalau wanita incarannya di jual di pelelangan, tentu saja dia harus menyelamatkannya, menjadikan permaisuri, memiliki anak dan hidup bahagia sampai tua.
"Berani sekali bandit cat flower menculik dan berniat menjual wanita itu." Al mengetuk singgasananya dengan seringai kejam.
Para bawahannya berkeringat dingin, kaisar mereka begitu mendominasi dan tekanannya sangat menyesakkan.
"Huh, berani bermain dengan kaisar ini?" Nada kesombongan dan arogansi terdengar di dalam aula.
"Persiapkan pasukan dan kita akan pergi untuk menjemput wanita itu!" Perintah Al atau Alston kaisar dari Elefantas.
Dia sudah mengamati Liona sejak di kota Empty, dia mempunyai orang-orang yang sangat overprotective dan juga pria yang terus menunjukkan rasa suka.
Alston tahu kalau pria itu adalah Pemimpin pasukan Tiger dan pangeran ke-empat dari Ravnos, dan hubungan mereka terlihat cukup dekat, itu membuat dia merasa terancam.
"Sial sekali, andai saja aku dekat dengannya lebih awal dari bajingan itu, tapi tetap saja kau akan menjadi milikku Liona Eftychia Asteria."
Tidak ada yang tahu, sebenarnya Alston adalah seorang pria ginofobia, atau rasa takut yang berlebihan terhadap perempuan.
Bukannya takut karena mereka agresif, tapi takut mereka akan menyentuhnya, itu memberikan perasaan jijik akan kuman.
Namun berbeda saat dekat dengan Liona, tidak ada perasaan seperti itu, hanya ada rasa nyaman, makanya Alston bertekad untuk memiliki Liona.
Di satu sisi Sean yang sedang melacak keberadaan Liona lewat bayangan hitam tiba-tiba merasakan krisis aneh di hatinya.
Mungkin ini ada hubungannya dengan bajingan yang menggendong Liona tempo lalu, benar-benar sangat menyebalkan!