
Sekitar dua minggu Liona tidak sadarkan diri, meskipun hidupnya seperti bergantung pada seutas benang, namun sekarang pernafasannya menjadi lebih stabil dan tenang.
Duke dan kedua kakaknya menjadi lebih tenang, mereka tidak lagi khawatir dan hanya menunggu Liona sadar.
Sebenarnya Liona bisa pingsan seperti itu karena sihir gelap yang ada di dalam kotak berpola naga sangat besar, meskipun awalnya memang miliknya namun butuh waktu untuk menyesuaikan.
"Aku merasa bahwa sebentar lagi aku akan sadar." Liona menatap Asmodian, Sean mengangguk membenarkan, dia merasakan kalau vitalitas Liona sangat baik.
"Jika begitu aku harus pergi, uang dan berlianmu akan ku ambil, lalu akan ku kirimkan kepadamu nanti." Sean mengelus kepala Liona.
Liona terkadang bingung dengan perasaannya pada Sean, saat seperti ini terkadang dia bertanya pada hatinya sendiri, 'apakah aku menyukainya?' namun tidak pernah ada jawaban.
Liona merasakan sedikit tarikan pada jiwanya, Asmodian dan Hades nenatapnya, Sean sudah pergi beberapa saat yang lalu.
"Oh sudah mau pergi." Hades dengan datar melihat ke arah Liona yang merasa tidak nyaman karena jiwanya mengalami guncangan.
"Yah, pergilah! Kita akan bertemu lagi." Entah apa yang di lakukan Asmodian, namun jiwa Liona menghilang dari tempat.
Di kediaman Asteria, Duke membuat keributan karena pelayan melihat tangan putrinya yang bergetar, itu membuatnya bahagia berharap sebentar lagi Liona akan bangun.
Akhir-akhir ini Duke Asteria sangat sibuk, Alex telah menyelidiki mata-mata di kediaman Duke, begitu di tangkap orang itu berubah jadi abu.
Menurut para mage yang ada di kediaman Asteria, mata-mata itu di mantrai, jika berniat membocorkan informasi tentang 'majikannya' maka akan langsung mati berubah menjadi abu.
"Apakah Liona menunjukkan pergerakan yang lain?" Tanya Duke kepada para maid yang berjaga.
"Iya, nona sempat mengerang tadi." Salah satu dari mereka menjawab dengan sopan.
Liona yang mengalami kejut sesaat karena jiwanya terbang ke alam bawah sedikit meringis, itu membuat beberapa orang yang berada disana menghampirinya.
"Liona, putriku."
Liona membuka matanya perlahan dan melihat ke arah Duke yang menatapnya terharu, Liona merasa tenggorokannya sangat kering, dia terbatuk pelan.
"Air." Katanya dengan suara serak, para pelayan disana buru-buru menuangkan air mineral, membuat Liona jauh lebih baik.
Duke memeluknya dengan erat, dia sangat khawatir. Bagaimana jika dia kehilangan orang yang di cintainya untuk kedua kalinya?
"Seharusnya ayah tidak membiarkan mu membuka kotak itu, maafkan ayah." Bahu Duke tampak bergetar dan suaranya seperti sedang menahan tangis.
Liona tidak menyalahkan Duke, lagi pula dari awal itu bukan salahnya, Liona malah bersyukur, dia merasa menjadi lebih kuat.
"Ayah, ini bukan salahmu. Ini sudah menjadi takdir, jadi jangan menyalahkan diri sendiri." Liona menepuk punggung Duke.
***
Setelah acara mengharu biru itu, Liona sudah menjalani kehidupan normalnya, pergi ke Akademi Mavros untuk belajar. Sean sudah mengirimkan uangnya dan berlian tanpa di ketahui oleh ayahnya.
Tentu saja dia menabungkan semua uangnya pada pusat bank kekaisaran, tidak ada gosip berharga saat Liona tidak sadarkan diri.
Pihak kekaisaran juga sudah mulai tenang, memang awalnya sangat gigih untuk tetap mendesak Duke agar menungangkan Liona dengan putra mahkota, namun saat ini mungkin mereka tidak lagi tertarik.
Cecilia juga sangat populer di pergaulan kelas atas ataupun akademi, dia sudah melaksanakan upacara kedewasaannya satu minggu yang lalu!
"Liona!" Arthur berteriak dan memeluk Liona, dia sempat menjenguk Liona bersama dengan Elios dan Luther, hanya saja Duke Asteria tidak mengizinkannya melihat Liona.
"Aku baik-baik saja sekarang, tidak ada yang perlu di perhatikan." Liona tersenyum menatap temannya, ah seperti sudah tidak bertemu bertahun-tahun, dia sangat merindukan mereka!
"Kami sangat merindukanmu Liona, rasanya sangat sepi saat kau tidak hadir." Luther terdengar mengeluh, Liona hanya tertawa, dia juga tidak ingin mengalami ini.
Namun berkat ketidaksadarannya, Liona mendapatkan banyak uang dan berlian akibat menipu para iblis yang ber-IQ rendah.
"Aku juga merindukan kalian, tapi aku harus ke ruangan kepala Akademi, banyak hal yang harus di perhatikan, aku tidak masuk hampir tiga Minggu!"
Elios, Arthur dan Luther memilih untuk menemani Liona ke ruangan kepala Akademi, Liona juga melihat jika pelindung sihir akademi menjadi lebih tebal dan kuat.
"Permisi."
"Masuk."
Liona melihat kepala Akademi yang seperti biasa sedang mengerjakan tumpukan dokumen yang tampak memuakkan. Kepala Akademi mengalihkan perhatiannya dan menatap Liona.
"Ah, silahkan duduk." Tanpa sopan Liona duduk berhadapan dengan Kepala Akademi.
"Syukurlah kau sudah sembuh, maaf aku tidak bisa menjengukmu karena urusan akademi." Kepala Akademi tersenyum minta maaf, Liona hanya mengatakan tidak apa-apa karena dia mengerti.
"Karena kau sudah lama tidak masuk, para profesor lain mengirimkan tugas mereka padaku, kau bisa mengerjakannya perlahan." Kepala Akademi menyerahkan berbagai macam tugas saat Liona tidak masuk.
Ada berbagai buku filsuf, buku sosiologi, sejarah, matematika, ilmu perbintangan dan buku obat-obatan.
Liona menerimanya dengan hati yang berat, dia sudah belajar mati-matian di kehidupannya yang dulu, sekarang setalah berpindah dimensi, dia juga harus belajar dengan rajin.
Menghela nafas, dia mengucapkan terimakasih dan pergi dari ruangan kepala Akademi, tidak bisa mengeluh karena memang sudah menjadi tanggung jawabnya.
Teman-temannya hanya bisa bersimpati dengan kemalangan Liona, tidak ada yang tahu kalau Liona sebenarnya pemalas akut yang tidak suka belajar.
"Kami akan membantumu, jadi perbaiki ekspresimu, benar-benar tidak enak dilihat terlihat sangat busuk." Ujar Arthur
Liona hanya memelototi Arthur dan menendang tulang keringnya, teman macam apa dia yang mengatakan busuk pada wanita secantik Liona?
"Ah, kenapa kau menendangku?" Arthur mengerutkan kening dan berekspresi seolah dia telah dianiaya.
Luther dan Elios yang melihat itu hanya menatap dengan datar, bisa-bisanya mereka berteman dengan idiot seperti Arthur.
"Kau sangat menyebalkan." Liona berkata dengan dingin, Arthur hanya terdiam ternistakan.
"Kau sudah sembuh? Ku pikir kau akan mati, sayang sekali." Cecilia yang entah dari mana muncul tiba-tiba di hadapan Liona dan teman-temannya.
"Oh, kau pasti kecewa karena aku tidak mati? Tapi maafkan aku, aku akan berumur panjang, lebih panjang dari umurmu."
Setelah mengucapkan itu Liona merutuki dirinya sendiri, jika dia seperti ini bukannya alur asli akan kembali, harusnya dia menahan diri.
Jika memang kesal, harusnya melawan dalam kegelapan bukannya terang-terangan, tapi karena putra mahkota dalam pengaruh ilusi kemungkinannya kecil kalau dia berniat membunuh Liona.
Tentu saja Liona mempunyai kepercayaan diri ini karena dia bisa mematahkan ilusi yang di berikan Cecilia.
"Ternyata kemampuan bicara mu sudah meningkat setelah tidak sadarkan diri, memang patut di apresiasi." Cecilia berkata dengan ironis.
Sebelumnya thor minta maaf kemarin ga up huhuu, thor lagi sakit pusing kalau lihat hape😭 Tapi sekarang udah agak membaik. Selamat membaca♥️