
Dalam kegelapan Liona menahan sakit luar biasa, para syaitan itu memberontak dalam tubuhnya, tenebris terus memberi instruksi agar Liona tidak menyerah.
"Mereka juga akan melemah, nona kau harus terus berjuang, pikirkanlah orang-orang yang kau sayangi."
Liona duduk dalam posisi lotus dan terus bersabar memurnikan para syaitan, dalam dunia nyata Liona terus berkeringat deras.
Seprai sudah di ganti berkali-kali, namun tetap saja itu basah, menurut Sean, Liona sedang berjuang melawan syaitan, dia tidak bisa memberitahu kalau Liona sedang memurnikannya.
Sean terlihat tidak khawatir karena dia percaya pada Liona dan Tenebris, jika Liona mati maka dirinya pun sama, tidak ada yang perlu di takuti.
"Berjuanglah, aku menunggumu!" Bisikan Sean menguatkan tekad Liona yang hampir goyah, benar! Keluarga yang dia sayangi akan di eksekusi, orang-orang yang dia cintai sedang menunggu, dia tidak boleh mati disini.
Para syaitan terus menerus berusaha menerobos inti sihir Liona, meskipun terjadi lonjakan tidak seimbang setiap element, namun karena kemampuannya dia bisa menahannya.
"Tenangkan dirimu Liona." Suara yang sudah Liona kenal, suara yang sangat menenangkan jiwa dan membuatnya hampir menangis.
Dewa Athanatos membantunya!
"Murnikan dengan sabar anakku." Suara pria asing yang kasar berbisik di sisi kirinya.
"Dia akan membantumu Liona, dengarkan dia." Dewa Athanatos mengelus rambut Liona.
Entah siapa pria yang berada di sisinya, dia terus menerus memanggil Liona anaknya dan memberikan instruksi agar Liona lebih mudah untuk memurnikan syaitan.
"Masukan syaitan yang telah menjadi energimu ke dalam sel-sel darahmu, kemudian bawa pada inti sihir gelapmu."
Liona menuruti perintahnya, memang itu terasa lebih mudah dari saat pertama kali dia memurnikan.
"Bagus! Perlahan lakukan seperti itu, jika semuanya sudah masuk pada inti sihirmu, seimbangkan dengan sihir cahayamu."
Liona menekan sihir gelapnya, menyeimbangkan dengan sihir cahayanya, sebuah bola bulu berwarna putih terbangun dari inti sihir cahaya.
Matanya berwarna emas, bentuknya agak mirip dengan tenebris, seperti saudara kembar hitam dan putih, sangat lucu.
Perlahan bola bulu yang lain terbangun dalam inti sihir element yang lain, Liona sangat terkejut.
Roh yang selalu menemaninya ternyata bisa berubah menjadi bola bulu, berarti itu roh level yang sangat tinggi, lebih dari level tinggi.
"Saya ignis, saya adalah pemimpin dari roh cahaya."
"Saya Undine, saya pemimpin dari roh air."
"Saya Sylph, saya adalah pemimpin dari roh angin."
"Saya salamander, saya adalah pemimpin dari roh api."
"Saya gnome, saya adalah pemimpin dari roh tanah."
"Cahaya ungu dan biru muda pada tubuhmu bukanlah sebuah roh, itu perpecahan antar kita yang menciptakan element mutan seperti itu." Jelas Ignis saat Liona melihat inti sihirnya yang lain.
"Lalu bukannya Sylph dan Ignis di berikan oleh pria tua yang ada di hutan kaktus?" Tanya Liona.
"Maksud anda Ariel pria tua menyebalkan yang bisa melihat masa lalu orang lain? Huh kami hanya di titipkan, dari awal kami adalah milikmu." Sylph mendengus kesal.
Liona melihat para bola bulu itu dengan geli, sangat menganggumkan dan lucu, dia akhirnya bisa memurnikan syaitan.
Tidak merasa sakit dan juga dia bisa melihat cahaya yang lain, dia juga membangunkan para roh element.
"Tunggu, bukannya aku hanya mempunyai sihir gelap, api, es dan petir?"
"Kau masih tidak mengerti? Kami dari dulu sudah berdiam di tubuhmu, hanya saja kamu tidak pernah menyadari keberadaan kami.
Karena kamu terluka parah kami pun ikut terluka. makanya tidak pernah ada yang berkontrak dengan raja roh setelah sekian lama."
Para roh itu menghela nafas menyesal dan menatap Liona kasihan, jika dia ingat masa lalunya yang lain bagaimana tanggapannya?
"Dulu? Kapan?"
"Bukan apa-apa, jangan terlalu di pikirkan! Sekarang bangunlah kau sudah tidur tiga hari semua orang khawatir padamu."
"Kamu berterimakasihlah kepada dewa athanatos dan dewa iblis, meskipun dia dewa iblis menyebalkan, namun sejak awal kau adalah anaknya."
***
Bulu mata lentik bergetar di wajahnya yang lembut, beberapa orang yang sedang menunggu tampak sangat bersemangat, mereka benar-benar khawatir.
"Kakak." Suara serak Liona membuat Alex yang selalu diam menitikan air mata, tidak ada yang tahu dia tersiksa setiap malam, bagaimana cara memberitahu ayahnya, bagimana jika Liona tidak bangun kembali.
Jadi Alex yang pertama memeluk Liona dengan erat, Xavier yang melihatnya membiarkan Alex memeluk adiknya duluan.
"Kau bangun, kakak sangat bersyukur." Pundak Liona basah, Alex menangis! Liona sangat terkejut, namun kemudian dia tersenyum.
"Maaf kakak, aku sudah membuatmu khawatir, aku benar-benar minta maaf."
"Tidak, jangan lakukan itu lagi, atau aku akan marah." Suara Alex bergetar, Liona tahu kalau kakaknya begitu ketakutan.
Liona yang berada di pelukan Alex, sedang berusaha menanggil para roh untuk menanyakan apa maksudnya pernyataannya tadi di dalam mimpi.
"Nona, mereka sangat lemah jadi tidak bisa di panggil sepertiku, karena aku berbagi dengan Tuan Sean, dan energi gelapmu sangat besar, aku bisa keluar dengan bebas." Jelas Tenebris dalam kepala Liona.
Liona tidak mempedulikannya, dia akan tahu jika sudah saatnya, dan Liona tidak mau memaksa, itu karena dia takut bahaya, dan bisa mengancam keluarganya, jadi cukup kuat terlebih dahulu.
"Oh bagaimana dengan pertarungannya?" Tanya Liona, dia masih ingin tahu kabar tentang Cecilia.
"Semuanya terjadi begitu aneh, ada yang menyerang putri Liliyana dengan sihir gelap, itu melukai jantungnya."
Deg
Jantung Liona berpacu dengan cepat, dalam novel Cecilia melawan putri Liliyana, lalu putri Liliyana tergeletak begitu saja karena di serang sihir hitam.
Dalam novel tidak di jelaskan siapa yang menyerang Liliyana dengan sihir hitam, bahkan sampai di juluki misterius black, karena sampai tamat novel si penyerang tidak pernah di ketahui.
Ternyata yang memberi sihir gelap Cecilia! Tapi bagaimana bisa?
Liona tidak bisa berpikir, Liona teringat, selanjutnya Liliyana akan mati dengan tulisan aneh yang ada di tubuhnya.
Banyak yang bilang kalau dia di kutuk karena sudah berbuat jahat, bahkan mayatnya tidak di makamkan secara resmi dan hanya di makamkan di pemakaman tempat rakyat jelata!
"Apakah putri Liliyana semakin membaik?" Liona dengan hati-hati bertanya.
Namun mereka semua hanya menghela nafas, kabarnya nafas putri tersendat-sendat dan muncul akasara aneh pada tubuhnya.
Namun itu sekejap ada dan sekejap hilang, jadi tidak bisa di pastikan apa itu.
"Aku ingin melihat putri Liliyana!" Liona dengan tampang keras kepala merengek ingin melihat.
Bagaimana bisa mereka menolak, jadi membawa Liona ke tempat putri Liliyana di rawat.
Bau mayat yang menyengat memasuki indra penciuman, padahal belum mati namun sudah tercium bau mayat, Cecilia ini benar-benar kejam!
"Apakah ada perkembangan?" Tanya Liona melihat seorang dokter tua yang raut wajahnya lelah.
"Tidak, kemungkinan putri Liliyana tidak akan bertahan lebih dari 24 jam." Balasnya dengan nada menyesal.
Dokter pergi dari sana, Liona bisa tahu kesedihannya, bagi seorang dokter kesembuhan pasien adalah hal utama, jika tidak bisa di sembuhkan dokter akan sedih dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Arthur saat melihat Liona memegang denyut nadinya.
"Memang benar, dia bisa mati kapan saja, tapi aku akan mencoba menyelamatkannya, jadi bisakah kalian keluar? Aku hanya membutuhkan Arthur saja."
"Tapi kau baru saja bangun." Alex dan Xavier ingin menolak, namun melihat kekeras kepalaan Liona, akhirnya mereka mengizinkan.
Setelah kakak-kakaknya dan temannya pergi, Liona menyuruh Arthur untuk menjaga vitalitas Liliyana.
Sihir cahaya Liona masuk ke dalam jiwanya, jiwa Liliyana sedang tertidur dengan pulas, tampak sangat kesakitan.
Liona memberikan energi positifnya pada jiwa Liliyana, memang sangat sulit dan menghabiskan banyak tenaga namun Liona puas karena tubuh Liliyana berangsur-angsur pulih.
"Waw, kemampuan mu sudah meningkat."