I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tiga puluh



"kenapa ribut-ribut?" Tanya Sean yang menatapku malas, aku hanya memutar bola mataku dan menginjak jari tangannya.


"Ada wanita gila." Ujarku sambil bersiap-siap pergi ke kuil, ku dengar dia hanya tertawa saja, aku yakin sebenarnya Sean ini tahu hanya tidak mau repot-repot dengan urusan wanita.


"Menyebalkan." Cibirku sambil melirik Sean dengan sinis, dia terkekeh dan menarik tanganku hingga jatuh ke dalam pelukannya.


"Mau kemana?" Tanyanya lembut, aku berusaha melepaskannya namun tenaganya besar dan itu membuatku menyerah untuk lepas dari pelukannya.


"Kuil." Ujarku singkat.


Keadaan sudah mulai membaik, sapios telah menghilang tanpa jejak, meskipun aku tahu itu adalah tumbal, namun aku tak bisa mengatakannya kepada orang-orang tanpa bukti.


Orang-orang yang mengidap pneumonia juga sudah sembuh, rencananya besok kami akan pergi ke istana kekaisaran Ravnos untuk bertemu dengan kaisar.


Aku akan pergi ke kuil, cukup penasaran kenapa dewa athanatos menyuruh Falaina untuk menunjukkan sesuatu yang ada di kuil kepadaku.


Sejujurnya aku ragu apakah dewa athanatos itu benar-benar ada dan mengajakku untuk berkomunikasi, tapi jika aku tidak percaya lalu ini apa?


Aku menunggu Luther, Elios dan Arthur di dekat menara, terlihat Cecila menghampiriku dengan senyum lembutnya.


"Oh jadi kau akan ke kuil? Wanita seperti dirimu yang hina sedang berpura-pura suci ternyata." Ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Lihatlah wanita terkutuk ini, dia bahkan tidak sadar diri sendiri, aku menatapnya dengan dingin, mengapa dia ada dimana-mana sih bikin suasana hati orang tidak karuan.


"Harusnya kau bercermin, lihat dirimu sendiri. Oh atau kau sedang mengatai diri sendiri?" Ujarku dengan senyum sarkastik.


"Hehe, tentu saja aku memang wanita suci, tidak seperti dirimu yang palsu." Katanya sambil melihat kuku tangan cantiknya.


"Dasar wanita sesat." Balasku sinis.


"A-aku hanya ingin menyapa Liona, aku benar-benar ingin dekat denganmu, kenapa kau selalu dingin padaku?" Tanya Cecilia mendekatkan diri padaku.


"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku yang melihat Cecilia tiba-tiba bertingkah menjijikan.


"A-aku sangat menyukai kepribadianmu, aku benar-benar ingin berteman denganmu." Ujarnya lagi dengan air mata yang mengalir, aku menatapnya dengan shock apa-apaan wanita ini?


"Sebenarnya apa yang kau la-."


"Ada apa ini." Suara Sean dari arah belakangku mengintrupsi ku, aku berbalik dan melihatnya. Oh jadi ini, dasar wanita ular.


"Tu-tuan pemimpin saya hanya ingin dekat dengan Liona, maaf sudah membuat keributan dan membuat khawatir tuan pemimpin." Katanya dengan lembut.


Aku melihatnya dengan jijik, dia seperti pemain drama kerajaan yang berpura-pura polos di depan pria yang di sukainya, sangat menggelikan.


Sean mengernyitkan dahinya dan tidak mempedulikan Cecilia, dia melihat ke arahku dan menyelipkan rambutku yang berantakan akibat terpaan angin.


"Aku akan ikut denganmu." Sean berujar dengan lembut, ku lirik raut wajah Cecilia yang memerah sambil mengepalkan kedua tangannya.


Luar biasa, bahkan dia masih bisa tersenyum lembut, aneh sekali Cecilia tertarik pada Sean, harusnya dia bersama putra mahkota sekarang.


Aku juga cukup puas sih melihat raut mukanya, rasanya aku ingin melemparkan kotoran dan menyiramnya dengan air comberan, namun kalau begitu bukankah waktu hidupku jadi semakin berkurang?


"Yah, tunggu Elios, Luther dan Arthur." Jawabku sambil menggandeng tangannya.


Entahlah itu gerakan yang spontan, ku lihat raut wajah Sean yang bahagia, dan raut Wajah cecilia yang seperti kotoran sapi.


Terlihat Elios, Luther dan Arthur berjalan berdampingan, menunjukkan senyum dan melihat tangan yang ku gandeng, aku tidak peduli toh dia kontraktor ku.


"Kenapa wanita ini ada disini?" Tanya Luther berbisik ke arahku.


Meskipun kami berbisik, namun suara itu masih terdengar, raut wajah Cecilia menjadi semakin buruk dan itu membuatku senang di dalam hati.


Sial Liona! Hentikan candaanmu atau nyawamu akan berkurang!


"Ka-kalau begitu Celia pamit dulu tuan pemimpin." Ujarnya dengan malu-malu, ingin ku tendang rasanya. Sabar Liona!


"Hm." Balas Sean singkat yang masih menatapku dengan lembut.


Cecilia pergi dengan langkah yang elegan dan anggun, mengangkat kepalanya membuktikan bahwa dia wanita kuat dan mampu, meskipun kepercayaan dirinya patut di acungi jempol, namun sifatnya sangat memuakkan.


"Ayo berangkat." Ujar Arthur.


Kami semua pergi menjauh dari menara, hanya berjalan kaki menikmati indahnya sunset hari ini, angin semilir menerbangkan setiap rambutku.


Walau suasana hatiku buruk, namun setelah berbincang dengan temanku dan Sean aku merasa lebih baik, apalagi berjalan di sore hari saat matahari mengeluarkan cahaya apinya.


Aku baru menyadarinya, desa ini meskipun kecil namun sangat indah, banyak bangunan kuno tua yang terkesan seperti peninggalan sejarah.


Bukit tinggi, jalan setapak yang di tumbuhi bunga di setiap sisinya, apalagi dengan semilir angin yang sejuk, sangat menyenangkan.


"Apakah ada perkembangan tentang orang yang menumbalkan sebagian masyarakat yang terkena sapios?" Tanya Luther tiba-tiba.


"Belum ada informasi yang penting saat ini, hanya saja bawahanku berkata ada gerakan mencurigakan di kekaisaran Pulchra, hanya saja informasinya benar-benar terbatas." Jelas Sean.


Kekaisaran Pulcha terletak di bagian timur benua ini, itu adalah kekaisaran yang sukses dan banyak berkontribusi untuk benua, jarang ada hal buruk tentang Pulchra.


"Ku dengar mereka mendirikan semacam sekte tertutup, katanya yang lulus dari sana adalah orang yang sangat berbakat." Ujar Elios.


"Iya itu benar, namun belum di pastikan kebenarannya itu hanyalah rumor belaka."


Aku mendengarkan mereka dengan serius sepanjang jalan, banyak informasi yang ku dapatkan tentang kekaisaran Pulchra.


Namun saat Sean berkata bahwa Pulchra adalah negara yang tidak percaya pada dewa athanatos, aku ragu. Apakah itu ada hubungannya dengan orang-orang yang menyembah iblis?


"Aku juga mendengar kalau Pulchra lebih banyak koneksi di banding dengan Mavros." Ujar Luther.


"Yah memang benar, pusat perdagangan Pulchra benar-benar maju."


"Katanya Pulchra menculik para dwarf untuk membuat pedang, sehingga perdagangan Pulchra bisa berkembang dengan baik."


"Yah aku dengar juga begitu."


Diskusi-diskusi itu membuatku semakin mencurigai Pulchra sebagai dalang di balik terjadinya penumbalan masal di Ravnos.


Namun jika begitu, mengapa mereka tahu kalau kotak dengan pola naga ada di duke Asteria, sedangkan Pulchra dan Mavros sangat jauh sekali.


"Tidak usah di pikirkan kita telah sampai di depan kuil." Ujar Arthur.


Aku menatap kuil berwarna putih di depan, kacanya dihiasi dengan banyak Glitter membuat sinar matahari menjadi titik-titik bercahaya yang indah berwarna orange.


Rasanya seperti saat berada di dalam mimpi, seperti di peluk oleh ibu, ingin menangis padahal masih ada di luar.


Seorang wanita dengan pakaian putih menghampiri kami dan dengan lembut menyuruh kami meninggalkan senjata dan bisa beribadah di dalam kuil.


Memang senjata tidak di perbolehkan untuk di bawa, katanya bisa mempengaruhi kesucian benda peninggalan athanatos.


*Fyi, jadi begini gaiseu kemungkinan untuk hari besok ke depan Thor cuman up satu chapter atau bahkan ga up sama sekali. kenapa? karena Thor mau fokus belajar buat sbm, thor ga lulus snm hiks😭 tapi thor bakalan tetep usahain buat up meskipun cuman satu chapter, dan buat para readers yang thor cintai, terimakasih sudah selalu menunggu cerita ini dan mohon di maklumi ya, terus Thor juga mohon doanya ya teman-teman, untuk yang senasib sama thor ga lulus di snm semangat ya, buat yang udah lulus selamat. Pokoknya itu aja sih informasinya, see u di chapter berikutnya gaiseu😉