
Beberapa hari ini Cecilia sangat tenang, bahkan gosip tentang Liona perlahan mulai menghilang, ketenangan yang harusnya seperti kedamaian justru terasa sangat aneh.
"Apakah wanita ular itu sudah mulai bertobat? Mengapa dia sangat tenang saat ini?" Tanya Arthur sambil memakan kacang Almond.
"Bukankah itu bagus jika dia sangat tenang, apakah kau sangat ingin di ganggu wanita sepertinya?" Edward menatapnya dengan aneh.
Tidak ada yang tahu Cecilia saat ini sedang kerepotan karena ilusi pada putra mahkota mulai memudar, sihir gelapnya tidak bekerja dengan baik, Cecilia juga sering merasa lelah dan pusing.
Apalagi sekarang pemimpin menara suci benar-benar menuntut Cecilia untuk melakukan eksperimen berbahaya, makanya dia sangat tenang lebih tepatnya sangat sibuk dengan hal lain, bahkan Cecilia sama sekali tidak memikirkan Liona.
"Bagaimana menurutmu Liona?" Luther menatap Liona yang sedang berbaring malas-malasan sambil membaca novel romansa dewasa.
Liona diam saja dengan wajah memerah karena malu, oh tuhan Liona menjadi anak yang sudah beranjak dewasa, dia tidak sengaja mendapatkan novel romansa dewasa dari pelayannya yang beberapa hari lalu mengantarkan pakaian ganti untuk Liona.
"Ehem, aku tidak peduli, dia tidak menggangguku saja sudah cukup." Liona berkata dengan sedikit terbatuk malu-malu.
"Kau ini kenapa?" Edward merebut buku bersampul merah muda itu dengan paksa, Liona terperanjat dari acara malas-malasannya.
"Sialan! Kembalikan buku ku!" Liona hampir berteriak, Edward membaca judul buku yang di baca Liona kemudian wajahnya memerah malu, karena penasaran Elios, Luther dan juga Arthur melihat judul bukunya.
Liona hanya berdiri dengan canggung dan para pria itu terbatuk dengan wajah memerah, apalagi pada awal bacaan terdapat gambar yang lumayan tidak senonoh.
"Aku tidak percaya kau akan membaca buku seperti itu, jika Senior Alex tahu apa yang akan dia lakukan padamu?" Celetuk Arthur, Liona hanya memelototinya dengan canggung dan mengambil buku yang sudah tergeletak menyedihkan di lantai.
Liona tidak menjawab dan hanya menyimpan bukunya pada tasnya, ngomong-ngomong mereka bolos dari pelajaran di perpustakaan yang saat ini sedang di renovasi.
"Kenapa kalian disini."
Suara berat itu menghentikan aktivitas mereka, melihat ke arah belakang sir Joseph tersenyum datar sambil memegang pedang kayu.
"Bolos ya?"
Edward yang biasanya disiplin dan rapi berdiri dengan canggung, entah kenapa sejak bergaul dengan Liona dia benar-benar seperti murid nakal dan tidak beradab, namun rasa seperti ini sangat baru baginya, dan itu lumayan seru.
"Selamat siang sir Joseph, saya harus pergi karena ada urusan, Permisi." Liona membungkuk kemudian berlari begitu saja, Sir Joseph berteriak menyuruhnya pergi ke lapangan untuk menerima hukuman.
"Edward! Kamu ini murid teladan, bisa-bisanya bolos bersama anak badung seperti mereka, Kembali ke kelasmu setelah menyelesaikan hukuman, SE KA RANG!"
Edward berbalik dengan canggung dan berlari, meskipun memalukan namun ini benar-benar terasa baru baginya, sedangkan Elios, Luther dan Arthur yang sering terpergok Sir Joseph hanya menunduk memberi hormat kemudian pergi dari sana dengan santai.
"Apakah nilai akademi ini sudah menurun? Bahkan para murid bisa bolos seenaknya." Gumam Sir Joseph, kemudian pergi untuk melaporkan kelakuan Liona dan teman-temannya pada kepala akademi.
***
Liona sudah mulai berlari mengelilingi lapangan tempat latihan pedang, beberapa murid jurusan pedang sudah tidak aneh jika Liona tiba-tiba berlari, karena memang dia sering di hukum!
Meskipun Sir Joseph tidak memberi instruksi, tapi hukuman itu adalah mutlak! Sir Joseph akan bertanya apakah Liona dan teman-temannya menjalankan hukuman atau tidak.
"Hosh hosh." Menarik nafas dalam-dalam Edward benar-benar kelelahan, bagaimana bisa Liona yang bertubuh rapuh dan juga teman-temannya yang lain kuat berlari 20 putaran pada lapangan yang seluas ini?
Dia saja yang baru berlari 17 putaran merasa ingin mati kelelahan karena diameter lapangan yang sangat luas.
"Maklum saja kau kelelahan, kau kan bukan orang jurusan seni pedang, lagi pula kami sudah terbiasa, jadi ini tidak terlalu berat." Luther menepuk punggung Edward.
"Apakah kalian bangga di hukum seperti ini?" Teriak Edward, orang-orang yang berada disana berhenti beraktivitas dan memperhatikan perkumpulan orang bodoh yang sedang ribut.
"Volume suara mu kurangi, kau membuat gendang telingaku rusak." Elios mencibir.
Benar-benar seperti perkumpulan orang bodoh, bahkan Liona hanya menggelengkan kepalanya saja, merasa bahwa dia adalah yang paling normal dan masuk akal di antara mereka.
"Kami bangga bisa di hukum, berlari membuat tubuh sehat dan kuat, ini juga suatu macam bentuk pelajaran." Arthur menjelaskan dengan hidung terangkat.
"..." Sepertinya hanya dirimu saja yang bangga karena di hukum, pikir orang-orang yang mendengar perkataan Arthur.
Liona tidak mempedulikan para idiot itu, bergegas kembali ke kamarnya karena jam pelajaran sudah habis, Liona tidak punya teman sekamar, dia tinggal sendirian sekarang.
Mandi dan mengganti pakaian, lalu mengeringkan rambutnya yang basah dengan ekspresi jenuh.
"Kau sudah mandi?" Sean tiba-tiba saja datang dan memeluknya dari belakang, mencium aroma sabun mawar yang semerbak dari tubuh Liona.
"Ya, kenapa kau datang?"
"Kau mau ikut aku ke padang pasir?"
"Untuk apa? Waktu itu aku sudah kesana untuk ekspedisi." Jawab Liona melepaskan pelukan Sean.
"Bukan padang pasir yang berada di Mavros, tapi negara padang pasir yang tidak masuk ke dalam wilayah kekaisaran."
Negara padang pasir yang tidak termasuk dalam wilayah kekaisaran di kenal sebagai tempat yang sangat berbahaya, bukan hanya monsternya saja yang sangat ganas, penduduk asli sana bahkan lebih buruk sifatnya di bandingkan para bangsawan kekaisaran.
Disana, benar-benar menghormati yang kuat, tidak peduli laki-laki ataupun perempuan selama dia punya kekuatan, maka akan banyak sekali pengikut.
Peperangan antar suku juga tidak bisa di cegah, mereka tidak mementingkan diplomasi, gencatan senjata untuk perdamaian atau apapun yang berhubungan dengan itu. Mereka sangat senang bersaing menjadi yang terkuat!
"Memangnya kenapa aku harus kesana?" Liona mengernyit, dia tidak paham dengan Sean, bagaimana bisa pria ini mengajaknya ke tempat yang berbahaya? Ayah dan kakaknya tidak akan mengizinkan itu!
"Kau ingat saat aku memberitahumu ada pergerakan aneh di pegunungan Xeros? Di Padang pasir juga terdapat gejala yang sama, dan juga ada beberapa petunjuk dari tumbal penyakit sapios dan cacing-cacing yang mengeluarkan tinta seperti cumi-cumi."
Liona agak terkejut, dia sudah lupa tentang hal itu karena banyak yang terjadi, Sean menjelaskan kalau cacing itu bernama cacing kloun.
Para peneliti kekaisaran Ravnos menemukan itu pada catatan kuno di kuil suci, itu benar-benar tercatat pada buku usang yang memakai bahasa kuno khas padang pasir.
"Bukannya cacing berada di tempat yang lembab? Sedangkan padang pasir sangat panas."