I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Dua puluh dua



Setelah semuanya kami memutuskan untuk pulang, lampion sudah tidak terlihat lagi namun bintang masih terus berjatuhan dan masih banyak juga orang-orang yang sedang berharap.


Sekarang aku tidak menyangka bahwa Cecilia dan Putra mahkota datang ke festival bersama, agak aneh sebenarnya karena mereka tidak terlihat dekat, karena dari pengamatanku selama ini bahkan mereka seperti tidak saling mengenal, atau mereka bertemu di tempat yang tidak ku ketahui?


Jika hubungan mereka kembali seperti alur novel, aku hanya tidak perlu mengganggu Cecila agar tidak di bunuh putra mahkota, namun masalahnya jika benar-benar berjalan seperti alur novel, maka keluarga ku terancam di eksekusi mati.


Maka dari itu, sekarang aku harus benar-benar menyelidiki tentang kekaisaran, para bangsawan dan juga orang-orang yang dekat dengan keluargaku, aku juga harus mengetahui siapa yang tulus dan siapa yang memusuhi keluargaku.


Aku berpapasan dengan putra mahkota dan Cecilia, namun aneh sekali putra mahkota bahkan melewatiku begitu saja, bukannya ingin di sapa hanya saja kemarin dia begitu perhatian dan sekarang bersikap bahwa kita hanyalah orang asing, dasar orang aneh!


"Tolong aku." Gumaman pelan Cecilia membuatku menatapnya, memang jika dilihat dari dekat mata Cecilia terlihat menghitam dan tubuhnya lumayan kurus


"Ada apa dengannya?" Aku bergumam, tidak ingin peduli dan mencampuri urusan orang lain aku beranjak dari sana dengan kedua kakakku.


Bomm


Suara ledakan kembang api mengagetkan ku, karena tidak berpegangan tangan aku terseret orang-orang yang berlari karena kaget dan terpisah dari kedua kakakku.


Berusaha untuk tidak panik aku berlari ke daerah yang tidak banyak orang berlarian, kalau aku terus disana bisa-bisa aku mati terinjak.


"Jangan kebanyakan delusi."


"Aku membencimu!"


"Aku tahu."


"..."


"...'


Suara-suara ribut dua orang dekat gang sangat menganggu, memang itu jalan umum tapi tetap saja jika ingin bertengkar sebaiknya lakukan di tempat yang benar-benar sepi.


Sebenarnya aku tidak ingin menguping, aku menjauh dari sana sehingga yang terdengar hanya seperti bisik-bisik tidak jelas.


Tapi, jika ku dengarkan lebih jelas suara itu seperti mirip dengan putra mahkota, namun suara wanitanya begitu kecil sehingga aku tidak bisa memastikan itu siapa, namun bukannya dia bersama dengan Cecilia?


Suara-suara itu menghilang dan aku memeriksanya karena penasaran, aku mengendap-endap seperti pencuri. Aku mengutuk diriku sendiri karena menjadi tidak tahu malu.


Setelah ku lihat, disini memang tidak ada siapa-siapa, bahkan bekas auranya pun menghilang seolah disini tidak pernah ada sesuatu yang terjadi.


"Kau sedang apa?" Suara berat yang berbisik mengagetkan ku, hampir saja aku memukul pria yang menatapku sambil tersenyum.


"Luther sialan, kau mengagetkanku!" Sinisku sambil menginjak kakinya karena kesal.


"Aw, dasar wanita iblis, kau menguping?" Luther bertanya dengan penuh selidik.


"Sembarangan, aku hanya ingin mengecek sesuatu disini." Aku membalas dengan sengit, meskipun aku memang sedikit menguping, bukan berarti aku ini berniat untuk menguping.


"Bau energi gelap." Luther tiba-tiba menarikku dan menjauhkan ku dari sana, dia menjelaskan bahwa jejak aura memang sudah menghilang namun energi gelapnya sangat pekat.


Bagi Luther energi gelap yang dia hirup tadi sangat memuakkan, makanya dia langsung menyeretku agar tidak tersentuh sesuatu yang gelap itu.


"Siapa yang mempunyai energi gelap yang sangat busuk?"


"Ya mana ku tahu."


"..."


Sebelumnya aku pernah bertanya pada Luther, apakah dia punya suatu reaksi jika mengobrol atau berdekatan dengan putra mahkota, namun Luther bilang kalau putra mahkota adalah manusia normal.


"Ledakan apa itu tadi?" Tanyaku.


"Si sialan kiship, dia bermain kembang api di dekat bahan peledak kimia, orang-orang mengira itu serangan monster, sekarang wajahnya gosong dan dia di larikan ke rumah sakit." Luther berujar dengan jijik, aku tertawa terbahak-bahak.


Kiship adalah anak seumuran kami yang sangat sering berkeliaran di akademi, tujuannya tidak jelas hanya mengagumi ornamen, mencari kecantikan atau bahkan dia ikut berlatih pedang dan membuntuti Luther.


Para guru sudah lelah karena kiship benar-benar keras kepala, meskipun sudah di tegur, di marahi dia tetap datang ke akademi, biasanya rakyat jelata pun bisa mendaftar, apalagi anak jenius bisa mendapat beasiswa, namun kiship benar-benar bukan murid akademi, bisa di katakan kalau dia punya kemauan tapi tidak punya bakat.


"Dia benar-benar pembuat onar." Ujarku di sela tawa yang terus-menerus tanpa henti.


"Kalau bisa aku ingin menenggelamkannya di danau, si sialan itu tidak bisa di andalkan." Luther berkata lagi dengan emosi.


Kiship sangat suka mendekati Luther, katanya saat Kiship kelaparan dulu, Luther sering memberinya makan dan dia ingin balas budi.


"Adik." Ah kedua kakakku yang khawatir terlihat sangat menggemaskan, aku memeluk mereka berdua sambil mengatakan kalau aku baik-baik saja.


Kami pamit kepada Luther, dan kedua kakakku mengucapkan terimakasih karena sudah menemukanku, di kereta terjadi keheningan karena aku sudah benar-benar lelah.


Setelah sampai kastil, ku lihat duke yang sedang menunggu kami dengan cemas mungkin karena mendengar adanya ledakan yang di sebabkan oleh orang konyol.


Ku lihat tadi juga banyak knight dan paladin, memang sih setelah kasus adanya monster yang masuk ke dalam wilayah kekaisaran meskipun itu tidak berbahaya tapi tetap saja waspada.


"Aku sangat khawatir." Ujar duke sambil membantuku turun dari kereta.


"Ayah tidak usah khawatir kami baik-baik saja, aku akan pergi dahulu aku sangat lelah." Balasku dengan mata terkantuk-kantuk, benar-benar melelahkan! Aku sangat ingin istirahat.


Maria mengantarku ke kamar, menyiapkan air hangat, pakaian tidur dan juga kasur yang empuk, kehidupan bangsawan memang sangat luar biasa.


"Selamat malam nona, jika ada sesuatu yang anda butuhkan tolong panggil saya." Ujar Maria sambil menutup pintu kamarku.


Setelah Maria benar-benar keluar aku melirik ke arah sudut kamar yang lumayan gelap, terlihat siluet hitam dari seseorang yang seperti penyusup.


"Keluar!" Ujarku malas.


"Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?" Tanyanya dan duduk di samping tempat tidurku.


"Siluet." Balasku dengan singkat.


Pria ini adalah Sean, siapa lagi kalau bukan dia yang suka seenaknya, entah sejak kapan dia sudah ada disini.


"Kenapa kau membawa serangga menjijikan?" Tanya sean sambil memungut sesuatu di atas kepalaku.


Dia menunjukkan serangga berwarna hitam, namun bukan monster, aku saja tidak bisa merasakan kehadirannya, dan benar itu membawa perasaan buruk yang menjijikan.


"Siapa yang kau temui hari ini?" Tanya Sean setelah membakar serangga itu dengan api berwarna biru.


"Banyak, aku berpapasan dengan banyak orang namun yang berinteraksi denganku hanya Marquess Leandro, Tuan Erick dan Luther, lalu yang benar-benar berpapasan denganku adalah putra mahkota dan Cecilia." Jelasku.


Dia mengerutkan kening.


"Hati-hati dengan orang yang kau temui, jika Luther itu tidak masalah dia bisa melindungimu, energi yang dimiliki keturunan darahnya lumayan kuat." Katanya.


Aku hanya mengangguk saja, dia menyuruhku tidur dan aku memang akan tidur meskipun tidak di suruh.


"Baiklah istirahat dan selamat malam." Katanya sambil membenarkan selimutku dan pergi menggunakan teleportasi.