Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Kecurigaan



Seusai pertemuan dengan Mr. Murakami, Riko dan teman-temannya diberi tempat tinggal di kediaman tersebut, yang sekaligus merupakan markas guild mereka. Riko dan kawan-kawannya beristirahat sejenak sebelum bersiap-siap untuk melihat pintu masuk Dungeon keesokan harinya.


Mr. Murakami berkata bahwa Dungeon tersebut akan terbuka saat Bulan baru, yaitu fase ketika bulan, bumi, dan matahari berada dalam satu garis lurus. Menurut perhitungan, bulan baru akan terjadi dua hari lagi, sebelum memasuki fase setengah purnama awal.


Riko dan teman-temannya hanya punya waktu satu kali itu saja untuk bisa memasuki dungeon Snow Island. Dan kalau mereka gagal, maka harus menunggu kurang lebih tiga puluh hari lagi sampai pintu dungeon terbuka kembali.


Suasana baru serta perbedaan zona waktu membuat Riko tidak bisa tidur malam itu. Padahal besok pagi ia harus berangkat pagi-pagi sekali bersama teman-temannya. Namun, dipaksakan seperti apa pun, tubuh Riko tidak juga terlelap.


Akhirnya pemuda itu pun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar menyusuri taman guild Kaguya. Baru belakangan tadi Riko mengingat nama Guild itu. Sebelumnya ia terlalu fokus pada tujuannya ke Dungeon Island. Setelah pembicaraan bisnis dengan Mr. Murakami siang tadi, ia akhirnya mulai merasa perlu mengingat nama guild tempatnya bernaung tersebut.


Angin malam terasa menggigit di sana. Riko mengeratkan jaket bulunya sambil melipat tangan untuk menjaga kehangatan tubuh. Pemuda itu berjalan di teras taman yang beralaskan kayu. Beberapa lentera Kasuga, sebutan untuk lampu taman bergaya Jepang yang terbuat dari batu, bertebaran di seluruh taman dan menghiasi pemandangan dengan cahaya kuning remang-remang yang indah.


Secara keseluruhan taman itu memang elok. Rapi dan terkesan penuh filosofi. Riko sebelumnya hanya pernah melihat pemandangan seperti ini melalui foto saja. Namun, sekarang semuanya terhampar di depan matanya secara nyata. Dulu, ia mungkin tidak akan pernah bermimpi untuk bisa berada di posisi ini. Akan tetapi, meski melalui jalan terjal yang berliku, Riko sudah bisa membawa hidupnya sampai di titik ini.


“Anda tidak bisa tidur?” Sekonyong-konyong sebuah suara pria menyapa Riko.


Riko menoleh dengan tenang. Kepekaannya sudah meningkat sekarang. Ia bisa merasakan kehadiran orang lain di sekitarnya tanpa perlu melihat sosoknya terlebih dahulu. Seorang pemuda yang mengenakan Hakama, baju tradisional Jepang untuk laki-laki, berjalan mendekat. Rambutnya yang sepanjang punggung diikat rapi ke belakang.


“Itu wajar. Mungkin perlu beberapa hari untuk menyesuaikan diri,” timpal pemuda Jepang itu turut menatap taman bersama Riko. “Saya belum memperkenalkan diri. Saya Hajime Murakami, yang akan mengawal kalian masuk ke dalam Dungeon,” lanjutnya memperkenalkan diri.


Riko cukup terkejut mendengarnya. Meski ia berpura-pura tetap tenang, tetapi kini dalam benak pemuda itu tengah berpikir keras. Jadi timnya tidak akan masuk sendiri, tetapi bersama seseorang dari Guild Kaguya? Ini sedikit beresiko karena itu artinya ia harus memperlihatkan kondisi di mana skill Weapon Masterynya hilang. Jika itu yang terjadi, maka kesepakatan dengan Guild Kaguya mungkin akan batal. Bahkan mereka bisa dianggap penipu.


“Tidak perlu khawatir. Kami sudah tahu kalau kau kehilangan salah satu skill terbaikmu.” Mendadak Hajime bicara tanpa menoleh.


Riko berusaha tetap datar, sekali pun hatinya sekali lagi dikejutkan oleh pernyataan lawan bicaranya itu. “Apa maksudnya?” tanya Riko pura-pura polos.


Hajime tersenyum tipis. Riko semakin waspada. Bagaimana kalau ini jebakan? Kalau sejak awal mereka sudah tahu, lantas kenapa ia dan teman-temannya diterima di sini? Pertanyaan demi pertanyaan menggantung di benak Riko, tanpa ada satu pun yang terjawab.


“Pencurian Skill sudah lebih dulu terjadi di Jepang. Para Irregular yang skillnya dicuri lantas dibunuh dengan kejam. Kalian pasti juga sudah mendengar bagaimana persaingan player di Negara ini,” kata Hajime mengabaikan pertanyaan Riko sebelumnya. Pemuda itu lantas menoleh dramatis ke arah Riko, dengan seringgai tipis yang mencurigakan.


“Ada alasannya kenapa kami menerimamu di sini, padahal kami tahu kau sudah kehilangan skill itu,” gumamnya dengan nada rendah.


Riko hanya bisa menahan napas, sembari bersiap mencabut kapaknya dari inventory sistem.