Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Panggilan Misi



Esok harinya Riko terbangun dengan seluruh tubuh terasa sakit. Terutama persendiannya di tubuh bagian atas. Bahu, siku, punggung hingga pinggangnya terasa seperti mau patah. Sepertinya seharian kemarin Riko sudah terlalu memaksakan diri. Di usia mudanya itu ia merasa sangat rapuh gara-gara tubuhnya yang kurang terlatih.


“Serius, aku harus ningkatin vitalitas sama staminaku deh. Jompo banget jadi orang,” gerutunya sembari berjalan terbungkuk-bungkuk. Satu tangannya memijat pinggang yang terasa pegal sekaligus nyeri.


Riko hendak pergi mandi ketika mendadak ponselnya kembali berbunyi. Riko sudah malas membukanya. Mungkin Tera, atau orang tuanya, atau Jaka dan yang lainnya, yang sejak beberapa hari lalu memang dihindari oleh Riko karena malu. Meski begitu Riko tetap memaksakan diri untuk melirik notifikasi ponselnya.


Seketika Riko terperangah. Notifikasi tersebut ternyata berupa email pemberitahuan tentang misi perburuan dungeon selanjutnya. Riko dikabarkan sudah terdaftar sebagai salah satu anggota tim pemburu!


Berulang kali Riko membaca surel pemberitahuan tersebut hanya untuk memastikan bahwa matanya tidak salah membaca. Namun sesuai dengan pemahaman awalnya, Riko memang sudah terdaftar dalam tim pemburu dungeon di Gua Cerme. Sebuah dungeon break muncul di area tersebut dan harus ditutup hari ini juga oleh lima orang player dalam tim pemburu termasuk Riko.  


Dengan terheran-heran Riko membaca pemberitahuan tersebut berkali-kali. Jelas ia sama sekali tidak mencoba untuk mendaftar sebagai tim pemburu. Bahkan sekalipun ia melakukannya secara tidak sadar, seharusnya ada jejak digital di ponselnya. Namun semua nihil. Ponselnya bersih, dan ingatannya pun jernih. Ia memang tidak mengajukan diri untuk menjadi anggota tim pemburu hari itu. Bahkan ia juga tidak berminat untuk menyetujui ajakan Tera yang mengundangnya masuk ke tim pembersihnya lagi. Tidak. Riko sudah terlalu lelah hari itu untuk melakukan kegiatan semacam itu.


Dalam dilemanya, Riko pun memutuskan untuk mengabaikan surel tersebut. otaknya memutuskan bahwa mungkin itu hanya spam atau orang iseng yang ingin menggodanya. Riko kembali menata hatinya lalu bersiap mandi. Sekali lagi ponselnya berbunyi saat ia sudah berniat berdiri. Kali ini panggilan telepon.


“Apa sih,” gumamnya terganggu.


Nomor tak dikenal. Riko ragu untuk mengangkatnya, tetapi juga penasaran. Panggilan itu muncul tepat setelah masuknya email tentang perannya sebagai tim pemburu. Riko pun mengangkat panggilan itu pada akhirnya.


“Halo?” sapanya datar.


“Lo nggak berniat kabur, kan?” sebuah suara licik yang sangat dikenal Riko terdengar menyapa di ujung panggilan.


Riko tertegun sejenak. “Rangga?” tanya Riko dengan alis bertaut.


Dalam rangka apa manusia satu itu meneleponnya. Apa pun yang dia rencanakan pasti hanya bertujuan untuk mencelakainya. Riko sudah hapal betul jalan pikir Rangga.


“Jam delapan nanti, gue tunggu lo di Akademi,” ujar Rangga seolah tak peduli pada pertayaan Riko.


“Ngapain?” tanya Riko lebih tidak peduli lagi.


Rangga terdengar mendengkus penuh ejekan. “Yah, gue sih cuma mau kasih kesempatan buat lo untuk nyoba masuk jadi tim pemburu dungeon. Tapi kayaknya lo nggak tertarik. Kalau gitu gue cabut aja rekomendasinya. Biar orang lain yang gantiin lo,” ungkap Rangga terang-terangan.


Riko mengernyit lagi sambil menautkan dua kejadian aneh pagi ini. Dengan cepat ia kembali membuka email dari Akademi di ponselnya. Riko kembali membaca dengan seksama dan pada akhir email tersebut akhirnya RIko menemukan nama Rangga Sasmita sebagai salah satu anggota tim pemburu bersamanya.


Rangga terdengar tertawa kecil di balik telepon. “Yah, gue cuma kasihan aja liat lo kemarin. Padahal katanya lo itu dulu player tingkat tinggi di Genesis. Ternyata cuma pengecut di dunia nyata. Yah emang sih karakter orang di real life suka dipalsuin kalau di dunia maya. Yaudah, kalau lo nggak mau terima kebaikan gue kali ini biar orang lain aja yang gantiin,” ujar Rangga sarkastik.


“Tunggu!” seru Riko mencegah musuhnya itu menutup telepon.


Seratus persen Riko yakin Rangga pasti merencanakan sesuatu terhadapnya. Meski begitu kesempatan bagus seperti ini sangat langka. Ia bisa masuk ke dungeon sebagai tim pemburu yang membunuh monster. Riko mungkin bisa menaikkan levelnya dengan cepat, sekaligus mendapat banyak exprience. Sepertinya peluang itu layak dicoba, sekalipun harus mempertaruhkan keselamatannya sendiri di tangan Rangga yang punya rencana jahat. Riko yakin dia bisa melindungi dirinya sendiri. Toh ada tiga player lain. Tidak mungkin Rangga akan macam-macam dengannya secara terbuka.


“Oke. Aku mau join. Jam delapan kita ketemu di Akademi,” tantang Riko kemudian.


“Keputusan bagus. Lo nggak bakal nyesel, Riko,” desis Rangga dengan nada yang sangat amat mencurigakan.


Detik berikutnya panggilan tersebut terputus. Riko bahkan belum sempat menjawab salam perpisahan Rangga yang menyebalkan itu. Meski begitu Riko tidak terlalu peduli. Ia memang cukup antusias untuk melakukan perburuan dungeon. Akan tetapi ia juga harus mewaspadai apa pun rencana terselubung Rangga.


Masih ada dua jam sebelum waktunya Riko harus berada di Akademi. Sepertinya ia harus menunda rencananya untuk mandi. Riko harus bersiap-siap untuk menjadi seorang blacksmith petarung. Set Noctoriousnya sudah hancur. Ia harus memiliki senjata dan armor yang layak lainnya. Maka sambil duduk di atas kasur busa usangnya, Riko pun memanggil sistem dan menyuruhnya untuk membuka fitur toko.


Sebuah hologram luas terhampar di hadapan Riko. Beragam panel-panel bergambar senjata dan armor tampil memenuhi hologram tersebut. Riko memilah-milan namun seluruh senjata yang ada kebanyakan berupa pedang, tombak atau busur panah.


“SIstem, carikan aku kapak untuk blacksmith,” perintah Riko kemudian.


Ia mungkin bisa nekat menggunakan senjata lain seperti pedang. Namun tingkat kompatibilitas senjata tersebut dengan job rolenya sebagai blacksmith sangat rendah. Karena itu senjata lain selain kapak hanya akan menghasilkan damage yang kecil.


Setelah mengikuti perintah Riko, panel hologram toko itu memunculkan beragam jenis kapak mulai dari kapak kayu sederhana level satu hingga Forger God’s Axe yang memiliki level 100. Jelas Riko tidak bisa memakai keduanya. Ia pun memilih sebuah kapak level medium yang bisa dia gunakan dengan levelnya saat ini.


“Hmm … karena aku masih di level 17, jadi batas maksimal senjata yang bisa kugunakan itu level tiga puluh. Jadi sampai aku di level segitu aku harus pakai kapak ini,” gumam Riko sembari menscroll hologram di depannya.


“Nah ini cocok!” serunya pada diri sendiri.


Riko menyentuh salah satu gambar kapak berwarna merah terang. Dua mata pisaunya berukuran besar kecil sesuai dengan fungsinya sebagai senjata tebas atau potong. Genggamannya terbuat dari baja kokoh yang sederhana.


“Wah gila … mahal banget. Masa kapak level segini harganya lima ratus ribu Moonstone? Ini yang aku kumpulin seratus dua puluh ribu Moonstone,” keluh Riko kesal.


"Sayang banget sebenernya kalau harus beli kapak semahal ini. Belum lagi nanti armornya, terus footgear dan asesoris. Tapi kalau aku nggak persiapan apa-apa, Rangga pasti bakal dapet kesempatan buat celakain aku," gumam Riko terus memutar otaknya.