Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Mencurigakan



Pembicaraan dengan Abyaksa dan Kemala selesai lebih cepat dari seharusnya. Riko belum bisa memutuskan apakah akan mengambil proyek dari mereka atau tidak. Rasanya terlalu berbahaya untuk membuat senjata pemusnah masal seperti itu. meski sebenarnya dalam game, senjata itu memang ada dan digunakan untuk grinding moster. Tapi jelas bukan untuk membunuh banyak manusia.


Waktu bergulir dengan cepat, hingga tiba saatnya Riko dan kelima anggota inti Forging Master melakukan prosesi potong pita. Pada kesempatan itu, Riko pun memberikan lima senjata baru buatannya kepada masing-masing temannya itu.


Abrey Bow untuk Gladys, Survival Staff untuk Mona, Arcane Codex untuk Zein, Divine Eye untuk Rizal dan Dragon King Sword untuk Jaka. Mereka semua menerimanya dengan gembira, tetapi entah kenapa Jaka tampak sedikit canggung saat itu.


Riko merasakan keganjilan itu. Pemuda itu juga lantas menyadari kalau beberapa waktu belakangan Jaka jarang sekali kelihatan. Biasanya ia mondar-mandir ke apartemen Riko untuk sekedar bermain bersama Zein dan Gladys. Tapi akhir-akhir ini hanya Rizal yang rutin melapor pada Riko tentang perkembangan jumlah anggota baru.


“Kamu mau ke mana, Jak?” tanya Riko seusai acara formal selesai. Pemuda itu mendekati Jaka yang tampak akan meninggalkan ruangan.


“Eh, Rik. Sorry aku kayaknya nggak bisa sampai selesai ikut acara. Sebenarnya ada masalah urgendt di rumah yang susah aku tinggal,” ucap Jaka tampak merasa bersalah.


“Hah? Masalah apa Jak? Mamamu sakit lagi? Kamu nggak apa-apa kan? Kalau ada masalah cerita-cerita Jak. Atau butuh bantuan apa gitu,” tukas Riko menanggapi gelagat Rizal yang memang tampak gelisah.


Jaka menggeleng pelan. “Nggak segawat itu kok. Santai Rik. Nanti aku cerita kalau udah ada waktu, ya. Sorry banget kalau jadi bikin kamu kepikiran,” sahut pemuda itu cepat-cepat.


Riko menghela napas pelan lantas memutuskan untuk tidak menahan Jaka lebih lama. Meski sikap Jaka memang tidak seperti biasa, Riko memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.


“Yaudah, Jak. Kabari ya kalau ada apa-apa,” ujar Riko kemudian.


Jaka hanya mengangguk pelan lantas langsung meluncur pergi tanpa mengatakan apa-apa. Wajahnya tampak pucat dan itu membuat Riko sedikit kepikiran.


“Jaka pergi duluan lagi,” tanya Zein yang mendadak muncul dari balik punggung Riko. Pemuda penyihir itu membawa dua gelas cocktail yang salah satunya dia berikan pada Riko.


“Iya, kata Rizal si Jaka sekarang jarang ikut ngelatih anak baru. Padahal dia penanggung jawab divisi penyerang, kan. Terus beberapa kali waktu lo sering di bengkel itu kan kita juga sering adain rapat. Nah si Jaka isinya izin pulang duluan mulu. Cuma nggak pernah ada yang tahu anak itu lagi kena masalah apa,” kata Zein berkisah panjang lebar.


“Kenapa anak itu?” gumam Riko bertanya-tanya sendiri.


“Gue pikir dia cerita sama lo. Kan lo yang paling deket sama dia di antara kita semua,” sahut Zein.


Riko menggeleng pelan.”Aku juga nggak tahu apa-apa Zein,” jawabnya. Entah kenapa Riko punya firasat tidak enak tentang ini. Meski begitu Riko berusaha untuk tidak terlalu berpikiran negatif terhadap Jaka.


“Minta Mona kirim orang buat awasin Jaka. Siapa tahu dia emang lagi nyembunyiin masalah keluarga karena nggak enak sama kita,” ujar Riko kemudian.


“Lo khawatir atau curiga?” sergah Zein tampak terkejut.


Riko menarik napas panjang. “Bukannya kalian juga sewa stalker buat ngawasin Sita? Kamu pikir aku nggak tahu?” balas pemuda itu tajam.


Zein terkesiap sejenak, lantas mendengkus pendek. “Itu idenya Mona. Lo … Ah, ya gitulah. Sorry karena nggak bilang dulu sama lo. Tapi emang beberapa kali si Rangga itu ketahuan ngikutin Sita sih, meski kami nggak pernah dapet bukti kalau cewek itu berbahaya buat lo,” kilah Zein.


Riko mengangkat bahunya dengan ringan. “Ada alasan kenapa aku percaya sama Sita. Meski begitu, aku nggak keberatan kalau kalian juga awasin dia. Sejauh ini nggak ada laporan ke aku, jadi kupikir Sita emang baik-baik aja.”


“Kita nggak pernah tahu, Bos,” kelakar Zein sambil terkekeh. “Jadi lo beneran mau awasin si Jaka juga?” lanjutnya mengembalikan topik pembicaraan.


Riko mengangguk. “Sikapnya nggak biasa. Perasaanku nggak enak,” ujarnya kemudian.