
Tepat tiga puluh menit kemudian, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun muncul. Dari dalam kawah lava yang meletup-letup, mendadak muncul sesosok monster raksasa bersisik merah menyala-nyala: seekor naga. Naga itu terbang melesat ke atas sambil mengeluarkan suara raungan yang sangat dahsyat.
Suara raungan itu rupanya menyebabkan efek fear bagi para player. Semua orang, kecuali Riko, langsung gemetar ketakutan ketika mendengar raungan naga tersebut. Riko menyadari adanya efek fear itu dari notifikasi yang terus-terusan muncul di hadapannya.
Fear Resistance activate. Anda tidak terpengaruh pada efek fear dari Fire Dragon.
Notifikasi semacam itu terus-terusan bermunculan, dan membuat Riko yakin bahwa raungan naga itu memiliki debuff berbahaya bagi mental para player. Riko bisa bertahan semata-mata karena ia memiliki tittle Fear Resistance. Pemuda itu pun lantas melihat kondisi kawan-kawannya yang lain.
Rizal, tidak perlu ditanya lagi, ia adalah orang dengan mental terlemah. Sekarang priest itu bahkan sudah jatuh berlutut di tanah sambil gemetaran. Syukurlah Rizal sudah memberikan buff pada semua anggota Tim. Riko bisa membiarkan Rizal untuk sementara ini.
Jaka juga terlihat gemetaran. Tetapi junior kampusnya itu masih tetap berdiri sembari menghunus pedang barunya. Sepertinya peningkatan equip sedikit banyak mempengaruhi mental Jaka menjadi lebih kuat.
Kondisi Gladys kurang lebih sama seperti Jaka. Gadis itu merentangkan busur dan anak panahnya dengan gemetar. Entah apakah tembakan Gladys bisa tepat mengenai target atau tidak kalau dia bergetar hebat begitu.
Akan tetapi, saat melihat Zein, Riko mendesah lega. Warlock level S itu masih berdiri teguh dan terlihat tidak terpengaruh. Tongkat sihirnya teracung ke atas, siap melemparkan serangan dahsyat. Itu sudah cukup bagi Riko. Yang terpenting saat ini adalah damage dealer kuat seperti Zein.
Jaka menoleh ke arah Riko, dan setelah mendengar ucapan penuh semangat itu, Jaka terlihat lebih yakin dari sebelumnya.
Naga api itu terbang membumbung di atas langit. Suara raungannya sudah berhenti dan kini ia sibuk memamerkan kemampuan menyemburkan api dari hidung dan mulutnya. Setelah beberapa kali putaran di udara, naga tersebut lantas menukik ke arah Riko dan kawan-kawannya.
“Bersiap! Sekarang!” seru Riko memberi perintah.
“Pro, Provoke!” Jaka menanggapi dengan meneriakkan skillnya untuk memancing naga api tersebut menuju ke arahnya.
Provokasi Jaka rupanya berhasil. Sang naga segera mengalihkan fokusnya pada Jaka dan mulai terbang ke arahnya. Zein segera merapal mantra, sementara Gladys sudah mulai menembakkan anak-anak panah ke arah sang naga. Beberapa anak panah memantul karena kulit naga yang begitu keras. Tetapi berberapa di antaranya berhasil menusuk bagian-bagian vital dari naga tersebut seperti perut dan dada.
Meski begitu, serangan Gladys itu belum cukup untuk mengalahkan Naga Api. Riko turut menyerbu ke arah sang naga yang sudah terbang begitu dekat dengan daratan. Jaka sudah mulai mengayunkan pedangnya untuk melawan sekaligus mempertahankan diri. Sang naga melemparkan bola api besar yang membakar tubuh Riko. Jaka segera menarik Riko mendekat padanya. Rupanya Jaka sudah membuat shiled transparan yang berhasil melindungi mereka dari semburan api naga. Sayangnya pandangan Riko menjadi tertutup api. Ia tidak bisa melihat dimana naga itu berada saat ini.