
Banyak hal terjadi setelah Riko menghilang dalam bengkel kurcaci. Forging Master telah masuk ke rangking sepuluh besar guild di Indonesia. Anggota guildnya juga sudah bertambah. Bahkan setelah Mona masuk, akhirnya Gladys pun ikut tertarik untuk bergabung. Kini jumlah total timnya ada enam orang.
Selama beberapa waktu Riko bisa mengirim anak-anak itu untuk melakukan raid dungeon sementara ia mengerjakan pesanan senjata dari Guild Ares yang datang tak lama setelah Riko keluar dari bengkel. Gama menghubunginya tepat satu hari setelah Riko muncul. Sang ketua guild terbesar saat itu berkata bahwa ia akan datang ke apartemen Riko untuk membahas kontrak kerja pemesanan senjata.
“Hari ini aku ada janji sama orang lain. Kalau mau datang mungkin maleman, Gam,” ujar Riko dalam panggilan telponnya dengan sang ketua Guild Ares. Kini mereka berdua sudah cukup akrab untuk bisa memanggil nama pendek masing-masing.
“Mau ketemu orang Corsage ya? Katanya kamu ngerjain senjata ketua guild mereka, si Rhea,” tukas Gamaliel dari seberang telepon.
“Wah, gosip cepet banget nyebarnya,” kelakar Riko menanggapi. “Ya, gitulah. Aku janji ketemu siang ini. Mungkin sampai sore. Nanti kuhubungi kalau udah balik,” lanjut pemuda itu berjanji.
“Nggak usah. Bisa-bisanya Ares kalah sama guild nomor dua. Yaudah kalau kamu nggak bisa hari ini, kapan-kapan aja.” Gama terdengar kesal. Orang narsistik ini memang tidak bisa dinomorduakan. RIko harus berusaha membujuknya demi gar tidak kehilangan klien potensial.
“Gini aja, daripada kamu repot, biar aku yang mampir ke Ares gimana? Sekalian kita makan malam. Nanti aku bawain pizza deh,” bujuk pemuda itu santai.
Gamaliel berdecih. “Pizza doing, kayak kurang duit aja aku beli pizza sendiri nggak mampu. Tapi yaudahlah, kalau kamu mau ke sini, nanti biar chef di rumah siapin makan malam.”
Riko bersorak dalam hati. Setidaknya ia berhasil membuat janji temu lebih dulu. Selanjutnya mereka bisa mulai membicarakan tentang bisnis. “Oke,” jawab Riko semringah.
Setelah semuanya siap, Riko pun langsung melesat pergi. Alih-alih mengendarai motor bututnya, kini Riko memilih untuk menggunakan jasa taxi online agar terlihat lebih professional. Dalam benaknya, ia sepertinya harus mulai mempertimbangkan untuk membeli mobil sendiri. Toh Riko sebenarnya juga bisa menyetir mobil. Hanya saja selama ini ia tidak punya mobil yang bisa dia kendarai sendiri.
Perjalanan selama lima belas menit akhirnya membawa Riko pada sebuah gedung kantor bertingkat dua puluh yang ada di tengah kota. Gedung itu tampak mentereng dengan kesan seperti sebuah perusahaan besar yang sangat terstruktur dan terorganisir.
Sebuah papan nama dengan logo burung hantu tersemat di puncak gedung, bertuliskan nama Guild mereka, Corsage. Petunjuk itu saja sudah cukup membuat Riko yakin bahwa tujuannya sudah tepat.
Akan tetapi masalah mendadak muncul. Taksi yang dia kendarai justru berjalan lurus dan melewati gedung guild Corsage itu begitu saja. Dengan bingung Riko mencoba bicara dengan sang supir taksi, seorang bapak-bapak tua berambut putih.
“Pak, kelewatan tempatnya. Itu kantor yang besar tadi, lho,” kata Riko tanpa rasa curiga.
Anehnya supir taksi itu diam saja. Riko mencoba melihat ke arah kaca di tengah mobil dan menyadari bahwa kedua mata sang sopir itu sudah terbelalak ketakutan, entah karena apa.
“Pak, pak … kenapa, Pak?” tanya Riko lagi.
Sang supir kembali diam saja dan justru memacu taksinya lebih kencang. Sontak Riko menyadari bahwa ada sesuatu yang jelas janggal terjadi padanya. Taksinya sedang disabotase!