
Sebelum kembali ke apartemennya, Riko menyempatkan diri untuk meninjau lokasi dungeon yang sudah diambil alih oleh guildnya. Lokasinya ada di ujung selatan kota, tepat di daerah pantai yang dulu sering didatangi Riko.
Sejak terbukanya celah dimensi dan menjadi dungeon, tempat itu menjadi tertutup untuk umum. Kini aksesnya terbatas pada anggota Guild Forging Master, atau siapa pun yang masuk atas izin guildnya tersebut.
Sebuah pos penjaga menyambut kedatangan Riko dan Zein ke tempat itu. Zein lantas menunjukkan kartu identitas yang entah kapan sudah dibuat oleh Mona. Mereka diizinkan masuk ke dalam setelah identitas dikonfirmasi.
Mona bahkan sudah mempekerjakan dua penjaga untuk mengawasi tempat tersebut. Riko semakin harus berpikir untuk menghasilkan uang lebih banyak lagi. Sepertinya Guildnya berkembang pesat lebih dari perkiraanya.
Tentu saja Riko merasa puas. Akan tetapi di balik kesuksesan itu, ada tanggung jawab yang harus dia emban. Belum lagi ia juga harus mencari markas untuk tempat guildnya berkumpul nanti. Semakin banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh Riko.
Memasuki area portal, beberapa pekerja penambang Kristal tampak berlalulalang. Mereka sepertinya blacksmith yang dipekerjakan Mona melalui pihak ketiga. Para blacksmith itu bekerja dengan sistem bagi hasil dari jumlah Kristal yang diperoleh.
Seandainya Riko punya waktu untuk menambang, hasilnya pasti akan lebih banyak, mengingat ia punya kelebihan dalam skill menambangnya. Namun untuk saat ini, rencana itu sepertinya harus dia kubur lebih dulu. Ada pekerjaan lain yang nominalnya lebih besar.
“Mau cek ke dalem?” tanya Zein setelah keduanya turun dari mobil.
“Nggak perlulah. Lihat dari luar aja. Mona nggak ada di sini?” Riko balik bertanya.
“Mungkin masih urus administrasi di kantor Asosiasi. Akhir-akhir ini dia sibuk banget. Ngalah-ngalahin pejabat. Lo nggak mau tunjuk Wakil Ketua Guild, Rik? Ngelihat cara kerja Mona, menurut gue dia cocok. Kalau kayak gue, Jaka atau Rizal suruh urus begituan males deh. Belum lagi lobby-lobby kesana-kesini. Pungutan dari Asosiasi buat Guild berkembang kayak kita kejem banget. Mona ngurus semuanya sampai negosiasi biar nggak perlu kena pajak terlalu besar. Takutnya cuma dikorup sama pihak Asosiasi. Lo tahu sendiri kayak gimana lembaga-lembaga macam itu,” terang Zein panjang lebar.
Riko merenungi kata-kata Zein. Dia belum terpikir untuk menunjuk Wakil Ketua Guild mereka. Dan pendapat Zein memang ada benarnya. Ia banyak terbantu sejak Mona masuk dalam Guildnya. Setidaknya urusan birokrasi yang rumit dan membuat sakit kepala tidak perlu dia hadapi.
“Nanti kita bicarain setelah kerjaan dari Guild Ares kelar,” jawab Riko kemudian.
Setelah puas berkeliling, pemuda itu pun memutuskan untuk kembali ke apartemennya dan melanjutkan sisa pekerjaan dari Gamaliel. Mungkin dia akan menghilang lagi di bengkel kurcaci selama lebih dari satu minggu.
Zein berjanji akan memasang pengamanan tercanggih di apartemen Riko, termasuk CCTV dan beragam jebakan sihir yang bisa dia rekayasa. Pantas saja semua ketua guild lain begitu kuat. Rupanya menjadi pimpinan Guild yang terpandang harus menghadapi marabahaya semacam itu sehari-hari. Meski sebenarnya Riko tahu bahwa Rangga secara khusus mengincarnya. Namun tak menutup kemungkinan juga kalau Rhea serta Gamaliel sama-sama menghadapi ancaman pembunuhan semacam itu.
Rhea memiliki kemampuan mendengarkan pikiran. Dia juga seorang Sage yang hebat. Karenanya, tidak mudah bagi siapa pun untuk melakukan serangan mendadak. Sementara Gamaliel juga swordsman terkuat saat ini. Mereka berdua termasuk irregular yang disegani. Rhea dengan kemampuan Mind Whisperer, dan Gamaliel yang memiliki skill spesial Steel Body.
Skill Gamaliel tak kalah tangguh, dimana ia bisa mengubah tubuhnya menjadi logam keras. Jadi meskipun ia mendapat ancaman pembunuhan saat tidur, sang assassin toh tidak bisa dengan mudah melukainya karena Skill Steel Bodynya bisa aktif secara otomatis. Tubuhnya langsung kebal senjata karena berubah menjadi metal. Sementara Riko hanya punya kemampuan spesial Pure Luck. Berguna untuk menjadi pedagang senjata dan equip. Namun tidak membantu sama sekali dalam pertempuran.
Sekembalinya ke apartemen, dinding kamarnya sudah selesai diperbaiki. Zein memberitahunya bahwa tukang yang direkrut memang para blacksmith tingkat rendah yang bisa mengerjakan pekerjaan semacam itu dengan cepat. Sendainya Riko bukan irregular, ia mungkin akan bekerja menjadi seperti mereka. Meski begitu Riko cukup berterima kasih karena rumahnya sudah kembali seperti sedia kala.
Pemuda itu merebahkan tubuhnya sejenak sebelum mulai bekerja lagi di bengkel. Gladys sudah ada di sana dan menyiapkan makan malam. Ia berkata bahwa sudah mencari informasi mengenai Lana di kampusnya. Namun rupanya gadis assassin itu sudah mengajukan cuti kuliah sejak awal semester. Riko tidak terlalu memusingkan hal itu sekarang. Cepat atau lambat dia harus berhadapan langsung dengan Rangga. Karenanya ia lebih fokus pada pertarungan yang adil itu di masa depan.
Selepas makan, Riko sudah kembali berada di ruang kosong tempatnya menggunakan skill Weapon Mastery. Sebelum masuk ke bengkel pemuda itu menyempatkan untuk melihat rekeningnya secara online. Pembayaran kedua dari Dirga sudah masuk. Uang itu cukup besar, bahkan ditambah tips karena telah menggunakan mithril untuk senjata mereka.
Riko tidak pernah menyangka kalau saldo rekeningnya bisa menggembung sampai sebanyak itu. Tiga digit angka dengan banyak nol di belakangnya. Itu hasil yang fantastis jika dibandingkan dengan tawaran gaji dari Guild Corsage maupun Ares sebelumnya. Riko tidak pernah menyesali keputusannya untuk menolak tawaran mereka.
Sejenak, pemuda itu pun mengingat keluarganya di luar kota. Sudah lama ia tidak menghubungi mereka. Beberapa kali ibunya menelpon tetapi Riko tidak sempat bicara banyak. Pemuda itu lantas punya ide untuk mengirimkan sedikit pendapatannya pada sang ibu. Sambil sibuk melakukan transfer dana online, Riko membayangkan bagaimana bahagianya kedua orang tuanya nanti. Sebaiknya ia menelpon ibunya sebentar sekarang. Ia ingin mendengar ungkapan kebanggaan dari ibunya.
“Riko? Gimana kabarmu, Nak. Akhirnya kamu telpon Mama juga. Gimana kuliahmu?” sambut sang ibu setelah dua nada sambung terdengar. Hati Riko langsung mencelos ketika ibunya menanyakan tentang kuliah.
“Aku baik, Ma. Mama sama Papa gimana? Rika sehat juga kan?” sahut Riko mengalihkan pembicaraan, mencoba menghindari topik mengenai perkuliahan.
“Sehat semua, Rik. Kamu kapan pulang? Katanya sekarang kamu bikin apa itu, guild-guild gitu. Kemarin cerita cuma sepotong-sepotong aja. Kalau nggak menghasilkan pulang aja, Nak. Kamu juga udah nggak kuliah, kan?” sambung ibunya kembali pada topik bahasan utama.
Riko menarik napas panjang, mencoba bersabar menghadapi cercaan itu. Orang-orang terdekat selalu mudah membuat hatinya terluka. Meski begitu Riko mencoba abai.
“Mah, aku tadi transfer sedikit uang hasil kerjaku. Semoga bisa buat bantu-bantu rumah sama sekolahnya Rika. Aku di sini sehat kok, Mah. Udah settle juga. Kapan-kapan Rika libur main-mainlah kesini, Mah. Nanti biar aku beliin tiketnya,” ucap Riko kembali berkilah.
Ibunya terdengar menghela napas dari balik panggilan. “Mama sama Papa nggak mau ngerepotin kamu, Rik. Tapi terima kasih udah dikirimin uang. Kerja itu bagus, tapi tetap jangan lupa sama tanggung jawabmu kuliah. Mama sama papa masih pengen lihat kamu wisuda, jadi sarjana. Biar bisa jadi contoh buat adikmu juga.”
Riko terdiam sejenak. Sementara semua orang di luar sana sudah mengakui kemampuannya, tetapi ibunya masih selalu memiliki ekspektasi yang lain terhadapnya. Riko tidak ingin berdebat. Karenanya ia pun memilih mengalah.
“Iya, Mah. Nanti aku urus kuliah juga. Yaudah, Mah, ini aku masih ada kerjaan. Besok aku telepon lagi, ya,” pungkas pemuda itu kemudian.
Akhirnya panggilan itu pun berakhir, diikuti dengan setitik rasa kecewa di dalam hati Riko.