
Tak lama setelah pertengkaran Zein dan Mona itu, keadaan dungeon kembali berubah. Altar batu yang berada tepat di tengah dungeon tersebut tiba-tiba mengeluarkan cahaya berwarna emas terang. Cahaya tersebut muncul dari ukiran huruf-huruf kuno yang ada di sekeliling altar berbentuk lingkaran tersebut.
Seluruh perhatian pun tercurah ke arah altar. Riko dan kawan-kawannya pun segera memasang kuda-kuda waspada. Tanah mulai bergetar pelan, menandakan kalau bos monster akan segera muncul. Kondisi tersebut berlangsung selama kurang lebih sepuluh menit.
Rizal mulai melemparkan buffnya kepada seluruh anggota tim. Riko memperkuat menggenggam erat kapaknya. Ia menggunakan armor di seluruh tubuhnya. Semua orang di dungeon tersebut berdiri dengan tegang, menantikan kedatangan Fallen Angel yang merupakan bos monster. Bahkan Mona tampak sudah mulai merapal mantra-mantranya.
Semakin lama menunggu, cahaya emas di altar tersebut menjadi semakin terang menyilaukan. Riko dan rekan-rekannya sampai harus menutup mata karena cahaya menyilaukan tersebut.
Detik berikutnya, setelah Riko kembali bisa membuka mata, tampaklah di hadapannya sesosok pria berwajah rupawan yang melayang-layang di atas altar. Kedua sayapnya membentang megah di balik punggungnya, dengan dua warna yang berbeda: hitam dan putih.
Pria bersayap itu hanya mengenakan celana tunik pria berwana gading. Ia bertelanjang dada, dengan otot-otot tubuh yang liat dan begitu gagah. Pria tersebut memejamkan mata. Rambut hitamnya berkibar-kibar karena aliran energi yang melingkupi tubuhnya. Dengan kulit sedikit gelap, seluruh penampilan sang bos monster benar-benar terlihat agung sekaligus mengintimidasi.
“Fallen Angel,” bisik Mona tampak sangat waspada. Ia menatap bos monster itu dengan tajam, seolah sudah siap untuk melakukan pertempuran hidup dan mati.
“Serius nih kita harus ngelawan makhluk ini? Kayaknya bakalan berat,” gumam Jaka terlihat tidak percaya diri.
Riko tak menjawab apa-apa. Ia hanya menggenggam erat Kapaknya sembari bersiap melakukan serangan pertama. Tiba-tiba sebuah sulur serupa asap berwarna hitam pekat muncul dari tongkat Mona. Asap itu bergerak cepat ke arah sang monster dan membelitnya tanpa ampun.
Fallen Angel tersebut tak bergeming. Ia masih melayang-layang setinggi satu meter dari atas tanah. Begitu belitan sihir gelap Mona menjadi semakin ketat, makhluk tersebut lantas membuka kedua matanya secara perlahan. Manik mata kiri dan kanannya juga berbeda. Yang kanan berwarna emas berkilau, sementara mata kirinya berwarna ungu gelap.
Tatapnnya sangat dingin dan menusuk. Makhluk itu lantas mengangkat sebelah tangannya yang membawa sebilah tombak panjang. Ia menepis serangan asap gelap Mona semudah menghalau lalat yang mengganggu. Aliran energi yang sangat kuat langsung menerpa Mona begitu sang bos monster itu melambaikan tangannya.
Mona memekik keras dan terlempar sejauh sepuluh meter. Riko tersentak karena teriakan Mona tersebut. Ia pun akhirnya mendapatkan kesadarannya kembali setelah selama beberapa waktu terkesima dengan penampilan Fallen Angel.
“Serang, Jak!” seru Riko sembari berlari menyerbu ke arah bos monster itu. Jaka mengikutinya dari belakang sembari ikut meraung keras. Pertempuran sengit pun dimulai. Forging Master, guild berisi lima orang player tersebut, kini harus melawan sesosok malaikat raksasa dengan kekuatan yang sangat besar.