
Lewat jam sepuluh, acara peresmian markas guild Forging Master pun akhirnya selesai. Para tamu sudah pulang ke rumah masing-masing dan kini tinggal tersisa para pekerja pembersih yang disewa oleh pihak event organizer.
Karena bangunan tersebut adalah bekas hotel, maka ada banyak kamar kosong yang sudah dibersihkan dan ditata ulang untuk bisa ditinggali para anggota guild. Riko tentu saja mendapat ruangan terbaik dengan bekas kamar bertipe Suite. Kamar itu luas dengan sebuah Jacuzzi mewah yang menghadap ke laut.
Sayangnya hari sudah gelap saat Riko memutuskan untuk berendam air hangat sambil menyortir pikirannya. Jadi pemandangan lepas pantai tidak terlalu terlihat dengan baik. Meski begitu suara debur ombak dan aroma laut tetap membuatnya merasa seperti sedang berlibur.
Riko memikirkan banyak hal malam itu, termasuk pertengkarannya dengan Sita, juga permintaan dua master guild yang menginginkan senjata pemusnah masal. Belum lagi tentang sikap Jaka yang janggal. Kepalanya penuh dengan beragam kemungkinan. Riko harus memutuskan perkara mana dulu yang harus dia selesaikan.
Saat tengah tenggelam dalam pikiran itu, mendadak suara bel pintu kamarnya berbunyi. Sambil mendesah pelan, pemuda itu pun terpaksa keluar dari tempatnya berendam dan menyambar sebuah jubah mandi yang sudah disiapkan. Ia berjalan menuju pintu kamar untuk melihat siapa yang datang.
“Sorry, ganggu waktu istirahatmu ya?” sapa seorang perempuan yang tampak terkejut melihat Riko hanya mengenakan jubah mandi, tanpa selembar pakaian apa pun di dalamnya. Rupanya Mona.
“Oh, nggak, kok, Mon. Cuma baru mandi doing. Gimana? Ada apa nyari aku?” tanya Riko kemudian.
Wajah Mona sedikit tersipu melihat penampilan Riko yang seperti itu. Dada bidangnya yang telanjang mengintip dari balik belahan jubah mandi. Riko buru-buru berdeham dan menutup jubahnya sampai ke leher.
“Sorry, belum sempat ganti baju,” kilahnya tak kalah malu.
“Oh, nggak. Aku yang datang tiba-tiba padahal udah malem. Sebenarnya aku mau bahas tentang permintaan guild Minerva sama Rangerbone. Cuman kayaknya udah kemalaman sih kalau sekarang. Kalau gitu, besok aja aku … .”
Mona sedikit terkesiap. Gadis itu tampak ragu, tetapi akhirnya tetap memilih masuk ke dalam ruangan kamar suite Riko yang mewah.
“Permisi, kalau gitu,” ucapnya sedikit malu-malu.
Riko mengangguk pelan lantas menutup pintu. Pemuda itu membiarkan Mona duduk di ruang tamu sementara ia sendiri masuk ke kamar tidur untuk memakai pakaian yang pantas. Sepuluh menit kemudian mereka berdua sudah duduk bersama membicarakan masalah pekerjaan.
Beberapa lembar kontrak kerja sudah terhampar di meja ruang tamu kamar suite tersebut. Rupanya Abyaksa telah menitipkan tawaran kerja sama kepada Mona, dan tentu saja nilai kontrak itu sangatlah fantastis. Riko mungkin bisa membeli jet pribadi, atau bahkan pulau pribadi untuknya sendiri dengan uang sebanyak itu.
“Tapi resikonya nggak main-main, Mon. Kalau senjata itu dipakai buat monster aku nggak masalah. Tapi si cewek itu, ketua Guild Minerva, dia … agak rada-rada menurutku,” komentar Riko setelah membaca detail kontrak untuk tawaran kerja sama pembuatan senjata Balistik.
“Iya. Memang riskan buat bikin senjata seperti itu. Namamu juga pasti bakalan langsung mencuat di kancah internasional. Dan itu nggak cuma mendatangkan manfaat tapi juga ancaman,” timpal Mona tampak setuju.
Gadis itu lantas mencoba menelaah klausal-klausal lain dalam perjanjian tersebut yang mungkin bisa dinegosiasikan. Riko awalnya mendengarkan dengan baik hingga mendadak ia samar-samar merasa tubuhnya seperti memanas. Rasa panas yang datang dari dalam dirinya, tepatnya di area perut.
Riko mencoba untuk mengabaikannya, tetapi rasa terbakar itu lambat laun semakin parah dan terus menyebar hingga ke dada dan lehernya. Riko mulai mengerang pelan, sambil memegang perutnya. Jelas ada yang salah darinya. Pemuda itu lantas mencoba untuk memberitahu Mona tetapi tubuhnya mendadak kehilangan tenaga. Napasnya tersengal dan pendek-pendek. Rasa panas membara itu menyebar hingga ke seluruh tubuh Riko dan membuatnya sangat kesakitan.
Riko mengerang keras. Kepalanya seperti mau pecah dan seluruh tubuhnya menderita nyeri luar biasa. Mona yang akhirnya menyadari keadaan Riko pun langsung memekik memanggil namanya. Namun Riko tak kuasa mempertahankan kesadarannya. Rasa sakit tak tertahankan telah membuat pemuda itu jatuh pingsan.