
Hari berikutnya, kegiatan Riko benar-benar padat. Karena ia bangun siang, maka pemuda itu barus sempat pergi ke guild Ares selepas jam makan siang. Bersama Zein mereka menyelesaikan transaksi pembelian senjata. Gamaliel rupanya sudah menyiapkan jamuan mewah untuk merayakan selesainya kerjasama mereka berdua.
Riko yang sebenarnya baru selesai makan pun akhirnya terpaksa makan lagi bersama Zein. Mereka mencicipi beragam menu yang bahkan belum pernah dilihat Riko sama sekali. Foie Grass, makanan khas Perancis yang terbuat dari hati angsa, caviar dan beragam hidangan mahal lainnya tersaji di hadapan Riko. Kekayaan Gamaliel Gunawan sepertinya tidak terukur dan hal itu membuat Riko terpacu untuk bisa berada di posisi tersebut.
“Terima kasih atas kerja kerasmu, Riko Sanjaya. Semoga ke depannya, kita bisa terus bekerja sama dengan baik,” tukas Gamaliel sembari mengangkat gelas anggurnya.
Hanya ada empat orang yang duduk di meja ruang makan mewah kediaman Gamaliel. Akan tetapi jumlah pelayan yang membantu mereka ada lebih dari enam orang. Riko turut mengangkat gelas anggurnya untuk bersopan santun.
“Terima kasih atas kepercayaan Guild Ares pada kami,” sahut Riko.
Keduanya lantas menyesap anggur masing-masing diikuti oleh Zain dan Dirga yang turut duduk bersama.
“Delapan hari lagi guild war pertama akan diadakan. Kalau kamu ada waktu, silakan datang untuk menonton. Meski ini gerakan bawah tanah, tapi tempatnya udah kami persiapkan dengan baik. Jadi semuanya bisa terselenggara dengan aman dan nyaman. Nanti aku kirim undangan resminya. Di sana ada alamat lokasi guild war yang sekarang masih rahasia,” ucap Gamaliel tampak ceria.
Sepertinya orang itu diam-diam menikmati acara tersebut. Gama memang bukan orang yang tenang, dia lebih terlihat seperti maniak pertarungan daripada siapa pun. Meski Riko juga tahu bahwa seorang pengguna pedang biasanya tetap menghormati prinsip-prinsip pertarungan yang adil. Bagi mereka kehormatan tetaplah penting.
Berbeda dengan para assassin yang tujuan utamanya adalah menghabisi lawan bagaimana pun caranya. Meski harus curang atau tak beradab.
“Apa banyak yang bakal ikut?” tanya Riko penasaran.
“Sejauh ini, selain Ares, lima guild utama tentu saja akan turun ke lapangan. Tapi kami cuma akan bertarung di final saja. Nggak adil untuk guild-guild lainnya. Mungkin kamu juga tahu kalau sebenarnya target utama kami adalah Silverdeath. Dia ada di urutan enam rangking guild. Tapi karena Minerva dan Rangerbone sepertinya mihak mereka, makanya agak susah buat nyingkirin Silverdeath,” ucap Gamaliel.
Riko kembali mengingat urutan rangking Guild yang terbaru saat ini. Ares masih di peringkat pertama, diikuti Corsage milik Rhea. Peringkat ketiga diisi oleh guild milik para alkemis yang bernama Minerva. Rangerbone tempat para Archer berada di urutan keempat. Guild ke lima yang bersikap netral adalah Holy Bible yang berisi para priest.
“Tapi bukannya kalau lawan Ares, pasti Silverdeath bisa langsung kalah?” tanya Zein penasaran. “Atau nggak perlu Ares, Corsage aja udah kuat banget. Kalian dua teratas di rangking guild,” lanjut pemuda itu sembari mengunyah hati angsa.
Pencernaan Zain sepertinya bekerja dengan baik karena dia bisa langsung makan lahap padahal sebelum ini sudah menghabiskan seporsi nasi padang ekstra besar.
“Nggak semudah itu. Waktu Ares kirim tantangan ke Silverdeath, Minerva dan Rangerbone langsung turun tangan. Mereka melawan balik dan nggak mungkin kami juga ikut melibas mereka berdua kan. Tatanan peringkat bisa kacau balau. Nantinya guild-guild kecil bisa merangkak naik dan nggak sekuat sebelumnya.
“Jadi kami terpaksa menunggu pertarungan Ares dengan guild-guild yang setara dengan mereka. Masalahnya assassin-assassin itu sama sekali nggak peduli soal pamor atau kehormatan. Aku curiga mereka bakal sengaja kalah semata-mata biar nggak perlu dihabisi sama Ares,” geram Gamaliel dengan mata berkilat-kilat marah.
Riko setuju dengan asumsi tersebut. Manusia selicik ular seperti Rangga pasti memilih berkelit dengan segala cara daripada harus berada di mulut jurang.
“Terus gimana rencanamu?” tanya Riko kemudian.
“Holy Bible? Mereka bukannya nggak punya kemampuan tempur?” tanya Zein terheran-heran. “Priest, kan?” lanjutnya beralih menatap Riko untuk mendapat dukungan.
Namun Riko mengerti pertimbangan Gamaliel dan Dirga. Jika Holy Bible bisa bergabung, maka mereka akan menjadi lawan tanding Silverdeath karena rangking mereka memang berurutan. Holy Bible sudah pasti tidak akan bisa melawan jurus-jurus mematikan para assassin dan kalah dalam pertandingan tanpa perlu merusak reputasi mereka.
Toh selama ini para priest tersebut menempati posisi kelima karena kemampuan penyembuh mereka dan bukan kemampuan bertarung. Karena itu, meski terlihat seperti mengorbankan Holy Bible dalam pertempuran yang tidak bisa mereka tangani, tetapi para anggota Holy Bible juga tidak akan banyak terluka karena mereka bisa menyembuhkan diri.
“Masalahnya ketua Guildnya alot banget. Mereka bersikeras tidak ingin terlibat pertarungan karena tugasnya adalah support,” keluh Dirga sembari menghela napas.
“Si Noel itu, kan. Yaampun padahal dia brutal juga kalau di dalam dungeon. Sekarang maunya cuma partisipasi jadi tim penyembuh di guild war,” ujar Gamaliel merujuk pada ketua Guild Holy Bible, Noel Sadewa.
“Noel Sadewa itu irregular dari kelas priest, kan? Orang yang kabarnya nggak bisa mati karena skill Resurrection, bangkit dari kematian,” sambung Zein, si paling update berita.
Gamaliel mengangguk. “Ada dua irregular di kelas Priest. Dan dua-duanya berada di guild tersebut. Selain Noel, ada satu cewek yang namanya Diva. Dia irregular dengan kemampuan Future Sight. Jadi semacam oracle gitu. Cuman, saking sucinya mereka, atau sok suci, nggak tahu juga, mereka nggak mau sembarangan baca ramalan atau bangkitin orang mati. Holy Bible eksklusif cuma untuk member mereka sendiri. Udah kayak kultus agama baru,” ujar Gamaliel sembari berdecih mencela.
Riko mengerti kekesalan Gama. Padahal rencananya sudah sempurna untuk menghancurkan Silver Death. Akan tetapi tantangannya bergitu berliku. Dan para Guild lain seperti tidak mendukung Ares untuk menergakkan keadilan.
Tergerak atas masalah tersebut, mendadak Riko mendapat selentingan ide gila. “Kalau gitu, biar kami yang jadi lawan Silverdeath di putaran pertama,” ujarnya tanpa pikir panjang.
Sontak semua orang di meja itu pun terkejut. Bahkan Zein pun sampai tersedak anggurnya sendiri.
“Rik, mabok, lo?” ucap sang penyihir masih dengan sedikit terbatuk.
“Silverdeath itu bukan guild main-main, Rik. Dia punya lebih dari lima puluh member. Semuanya assassin yang kejam, jahat, brutal, licik, dan semua sebutan jelek lainnya. Guildmu emang luar biasa karena bisa langsung melejit ke sepuluh besar. Tapi secara sumber daya Forging Master jelas belum siap untuk ikut Guild War,” cegah Dipa serius.
“Bukannya kalian emang butuh lawan yang bakal kalah sama Silverdeath?” tanya Riko yang sengaja mencari-cari alasan agar tetap bisa menghadapi Rangga dengan tangannya sendiri. Kesempatan besar itu sama sekali tidak bisa dia lewatkan.
Akan tetapi mendadak Gamaliel menggebrak meja dengan sangat keras. Ekspresi wajahnya menunjukkan kemurkaan luar biasa.
“Aku emang mau hancurin orang-orang brengsek itu sampai nggak bersisa. Tapi bukan berarti dengan cara sengaja mengorbankan orang nggak bersalah,” geramnya marah.
Riko langsung terdiam. Ia sempat lupa betapa kuatnya prinsip seorang swordsman.