Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Terpicu



Riko sudah kehilangan selera untuk makan. Pada akhirnya dia memutuskan untuk memesan makanan secara online saja dan kembali ke kos-kosannya. Dihadapkan pada dua tawaran kerja dengan gaji menggiurkan ternyata cukup membuat energi Riko terkuras.


Pemuda itu lantas merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari membuka lagi kontrak kerja yang dia bawa dari Guild Ares. Riko kemudian membuka surelnya, lalu membandingkan kontrak kerja lainnya dari Guild Corsage yang dikirimkan oleh Rhea.


Dalam hati kecilnya, Riko sebenarnya bangga pada dirinya sendiri. Ternyata ia bisa dihargai dengan nilai sebesar ini. Meskipun sangat disayangkan karena kedua ketua guild ini terlalu nyentrik untuk bisa ditolerir oleh Riko.


“Kenapa aku nggak coba cari guild  lain aja ya? Siapa tahu dapet bos yang oke, terus bisa gaji gede juga.” Mendadak ide melintas dibenak Riko. Pemuda itu pun akhirnya membuka mesin pencari dan memindai informasi yang dia butuhkan mengenai guild-guild yang sudah terbentuk dan kira-kira cocok dengannya.


Rupanya sudah ada cukup banyak guild yang terdaftar di Asosiasi Guild  Galatean, sebuah lembaga milik perusahaan Alcanet Tech yang menjadi penanggungjawab seluruh guild-guild yang sudah terdaftar secara resmi. Mulai dari guild kecil yang hanya beranggotakan tiga player level C, hingga yang terbesar adalah Guild Ares dengan total 81 anggota yang rata-rata memiliki level A.


Riko menghela napas panjang dengan kecewa. Sesuai dugaan, Ares memang merupakan guild terbesar yang sudah merekrutnya. Tidak mungkin akan ada guild lain yang bisa membayar sebesar penawaran yang diberikan oleh guild Ares.


“Pantas aja pada sombong-sombong … ,” celetuk Riko sembari menutup matanya dengan satu lengan.


Lagipula, kalau dia nekat mendaftar ke guild lain, belum tentu mereka percaya pada kemampuan Riko. Atau mungkin kalau pun mereka percaya, bisa saja mereka justru hanya akan mengeksploitasinya dengan semena-mena tanpa bayaran karena menganggap Riko hanya seorang player level F.


“Kenapa susah banget sih jadi orang kaya. Apa aku yang pemilih ya?” gerutu Riko pada dirinya sendiri.


Padahal pagi tadi ia sudah merasa puas dengan pendapatan lima juta yang baru dia terima. Namun setelah melihat nominal yang tertera di kontrak kerja yang diberikan oleh Gama, membuat Riko semakin serakah. Rasanya lima juta hanyalah nilai yang sangat kecil dibandingkan dengan tawaran guild Ares tersebut.


Makanannya datang tepat saat Riko sudah pusing memikirkan nominal-nominal uang yang dia lewatkan. Akhirnya pemuda itu pun menyantap makanannya sambil masih mencoba mencari guild-guild yang sekiranya tidak terlalu antik bagi Riko. Namun kemudian, matanya berhenti pada satu nama yang terlihat familiar: Silverdeath.


Itu adalah nama yang sering digunakan Rangga dalam setiap karakternya bermain game online. Riko tidak yakin apakah guild tersebut memang berhubungan dengan Rangga atau tidak. Namun ia tetap ingin memastikannya. Dan benar saja, ketua guild yang tertera di Silverdeath adalah Rangga Sasmita.


Riko nyaris menyemburkan seluruh nasi yang tengah dia kunyah di mulutnya. Ia mencoba membaca berulang kali dan memastikan matanya tidak salah melihat.


Silverdeath | Ketua: Rangga Sasmita | Anggota 23 | Guild Rank: 12/30


Mata Riko memang tidak salah. Rangga, musuh bebuyutannya itu, sudah membuat guild sendiri dan memiliki 23 anggota. Guild orang itu bahkan sudah berada di rangking 12 dari total 30 guild yang terdaftar.


“What the … ,” desis Riko tak terima. “Orang ini bisa bikin guild sendiri? Banyak lagi pengikutnya,” lanjut pemuda itu mengomel sembari melempar sendoknya ke atas piring plastik.


Sup kaki kambingnya pun muncrat hingga mengotori lantai. Akan tetapi Riko tidak peduli. Berita ini terlalu memuakkan untuk dibiarkan.


Akhirnya Riko pun mendapat ide baru. “Kalau orang itu aja bisa punya guild sendiri, aku juga bisa. Nggak bakal aku biarin kamu seenaknya ngambil reputasi orang lain demi kepentinganmu sendiri. Orang kayak kamu nggak pantas jadi ketua guild.” Riko mendesis dengan penuh amarah.


 


Riko akhirnya mencari tahu cara membuat sebuah guild. Dengan rajin ia mendatangi Asosiasi Guild Galatean untuk menanyakan syarat-syarat pembuatan guild.


“Syaratnya tidak sulit kok. Kakak hanya perlu membayar seratus ribu Kristal sebagai biaya pendaftaran. Tidak ada syarat khusus untuk menjadi ketua guild, tetapi ada jumlah minimal anggota. Kakak bisa mendaftarkan guild jika mimiliki minimal tiga orang anggota, tidak termasuk ketua.” Seorang wanita resepsionis bergaya kasual memberi penjelasan para Riko sembari menyodorkan selembar formulir.


Riko menarik napas panjang. “Tiga anggota?” gumamnya dengan berat hati.


Dari mana RIko bisa mendapatkan tiga orang player lain sementara selama ini ia hidup terisolasi karena malu dengan level F-nya.


“Betul, Kak. Cukup ajak tiga teman Kakak untuk bergabung, lalu isi formulir ini, lampirkan fotocopy kartu tanda identitas player masing-masing anggota dan ketua, setelah itu kami proses perizinannya,” lanjut sang wanita menjelaskan dengan nada ramah dan bersahabat.


Sayangnya penjelasan tersebut sangat tidak bersahabat bagi Riko. Ia harus mencari tiga player lain yang bisa diajak bergabung. Untuk perkara Kristal, itu masalah sepele karena Riko bisa menambang sebanyak yang dia mau jika mendaftar dalam tim pembersih.


“Oh, ya. Untuk hak dan kewajiban masing-masing guild bisa dibaca di lembar sebaliknya ya. Tapi saya jelaskan secara singkat. Setiap guild wajib menyetor sejumlah Kristal sesuai dengan level guild yang akan dinilai setiap tiga bulan sekali.


“Semakin tinggi level guild, maka semakin banyak jumlah Kristal yang harus dibayarkan ke Asosiasi. Tapi sebagai gantinya, guild dengan level yang tinggi akan mendapat kesempatan yang lebih besar dan lebih sering untuk dipekerjakan di dungeon-dungeon kelas atas.


“Bahkan untuk lima guild teratas, berhak untuk menguasai dungeon permanen yang bisa di-raid berkali-kali. Sementara Guild level rendah hanya bisa memasuki satu dungeon setiap bulannya. Penentuan level guild berdasarkan tiga aspek, yaitu: jumlah anggota, jumlah Kristal yang dimiliki guild, jumlah total akumulasi kekuatan seluruh anggota guild,” terang sang wanita panjang lebar.


Riko semakin patah arah. Syarat pertama dan kedua jelas sudah memadamkan semangat Riko. Tidak akan mudah menemukan player berbakat yang sangat kuat untuk bisa bergabung dengannya.


“Ah, tapi ada perkecualian. Guild dengan anggota sedikit bisa langsung naik ke level atas jika memiliki artefak. Semakin langka dan tinggi level artefaknya, maka semakin bisa dipertimbangkan. Bahkan kalau bisa memiliki artefak level Legend, bukan tidak mungkin guild Kakak langsung menjadi guild nomor satu,” tambah resepsionis itu dengan senyuman ceria.


Angin segar seperti menerpa wajah Riko. Baru kali ini ia melihat senyuman resepsionis itu begitu tulus. Jika itu masalahnya, maka Riko pun bisa mengatasi dengan mudah. Ia terlahir sebagai pembuat artefak.


“Oke, Mbak. Makasih ya infonya. Ini formnya saya bawa dulu biar diisi di rumah,” ucap Riko sambil nyengir gembira. Pemuda itu memasukkan form pendaftaran tiga rangkap tersebut dalam tas selempangnya.


Ketika hendak berbalik pergi, tiba-tiba Riko menabrak seseorang pemuda bertubuh kecil dengan rambut ikal. Orang yang sebenarnya sangat dihindari Riko.