Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Ancaman Pembunuhan



Semua anggota tim segera memulai penyerangan. Elang dengan pedang besarnya melakukan serangan pertama dengan menghambur mendekati kawanan Wild Wolf tersebut. Sabetan pedangnya menghasilkan damage kuat dan berhasil membunuh tiga ekor serigala sekaligus. Ivan merapalkan mantra sihir dengan sebuah buku yang melayang di hadapannya. Beberapa menit kemudian tongkat kayunya yang bertatathkan batu opal memunculkan sebuah bola besar bercahaya kebiruan. Dengan satu hempasan dilontarkannya bola cahaya itu hingga mengenai kawanan serigala dan membentuk lubang di lantai gua.


“Lo lihat kan kemampuan para player yang sebenarnya. Lo bisa apa pakai kapak lusuh itu?” ejek Rangga sembari melirik ke arah Riko.


Riko tak bergeming. Ia hanya menggenggam erat kapaknya dan mencoba mencari kesempatan untuk menyerang salah satu serigala yang berlari mendekat. Tak lama kemudian Rangga menyatukan kedua daggernya dan mengeluarkan skill bayangan yang beraura gelap. Bayangan hitam menyulur dari kaki Rangga dan menangkap dua ekor serigala yang hendak menerkamnya dari dua arah yang berbeda. Seketika kedua serigala tersebut tercekik oleh aura gelap yang dikeluarkan oleh bayangan Rangga dan mati dalam waktu tak lebih dari satu menit.


“Udah. Lo duduk manis di sini aja sambil nunggu giliran,” ujar Rangga menyeringai penuh cemooh. “Giliran mati maksud gue,” lanjutnya lantas berjalan menuju medan pertempuran di depan mereka.


Riko hanya bisa menggenggam kapaknya dengan penuh emosi. Akan tetapi para player lain agaknya sengaja membunuh serigala-serigala liar itu dengan cepat, tanpa memberi kesempatan pada Riko untuk turut menunjukkan aksinya. Kawanan serigala terus berdatangan hingga puluhan bahkan ratusan ekor. Namun, Rangga dan kawan-kawannya sama sekali tidak terlihat kepayahan. Alih-alih mereka justru menunjukkan skill-skill luar biasa hanya demi melihat Riko yang terbengong-bengong tanpa kerjaan.


Riko mencoba membaur di medan pertempuran. Namun setiap serigala yang diincarnya selalu lebih dulu dibunuh oleh salah satu dari mereka. Alhasil Riko sama sekali tidak bisa menaikkan levelnya karena tidak diberi kesempatan untuk membunuh satu ekor monster pun. Ia hanya berlari kesana kemari seperti orang bodoh.


Serangan ratusan kawanan serigala yang bertubi-tubi itu pun akhirnya selesai. Semua monster berhasil dibasmi dengan cemerlang oleh empat anggota tim pemburu dan hanya Riko yang masih berdiri bengong tanpa luka segores pun.


Rangga mendengkus penuh ejekan ketika mereka selesai bertarung. “Emang nggak guna bawa lo ke dungeon sebagai tim pemburu. Udah paling bener lo itu jadi tukang bersih-bersih aja. Tuh, mau sekalian nambang Kristal sekarang? Biar bisa lo bawa pulang sendiri?” ejeknya sembari menatap Riko.


Tiga player yang lain turut menatapnya dengan pandangan merendahkan. Riko tak bisa lagi menahan kesabarannya. Ia mengangkat kapaknya dengan penuh tenaga dan menghempaskannya seolah sedang menghalau serangga yang mengganggu. Kibasan kapak Riko pun menghasilkan kekuatan yang cukup besar hingga membelah lantai gua. Rangga dan yang lainnya hanya menatap tingkah laku Riko dengan sebelah mata.


“Aku juga punya kekuatan. Berhenti ngeremehin orang,” geram Riko penuh amarah.


Tawa Rangga meledak, diikuti oleh para player lain yang seolah geli melihat tingkah Riko. “Sebenarnya kita mau ngehabisin lo setelah kelar ngelawan bos monster. Tapi kayaknya lo udah nggak sabar buat mati. Oke, gue ladenin,” ujarnya sembari memutar dual daggernya di tangan.


Dengan satu anggukan pendek, Rangga memberi perintah pada tiga rekannya untuk menyerang Riko secara bergantian. Seperti sebelumnya, Elang maju pertama. Pedang besarnya dia arahkan langsung kepada Riko yang sudah menduga kalau hal itu akan terjadi cepat atau lambat. Riko menahan serangan Elang dengan gagang kapaknya yang sudah diperkuat. Tebasan Elang berhasil ditangkis, namun efek skillnya merobek armor Riko dan membuat lengan serta wajah Riko terkoyak.


“Udah gue duga lo emang berniat ngeroyok aku sampai mati. Dasar pengecut!” geram Riko.


Rangga hanya tersenyum simpul dan berjalan mendekati Riko. “Mana bisa gue lewatin kesempatan bagus ini, Riko. Lo tahu sejak dulu gue nggak suka sama lo yang sok hebat itu. Lo udah memperdaya Sita sampai dia rela hidup susah demi lo. Padahal jelas-jelas Sita bakal lebih bahagia kalau sama gue daripada cowok miskin pengangguran kayak lo.”


Kini giliran Riko yang mendengkus pelan. “Sampai kapan kamu mau bawa-bawa Sita dalam kebencianmu sendiri. Kamu itu cuma kalah sekali dariku. Soal Sita yang milih aku. Selebihnya hidupmu jauh lebih baik, tapi kenapa kamu selalu nggak puas dan ganggu hidupku? Sekarang pun aku udah putus dari Sita. Kamu bisa leluasa deketin dia. Toh dia juga sekantor sama kamu.”


“Kesombongan lo itu yang bikin gue nggak suka. Lo itu nggak punya apa-apa tapi sok memiliki segalanya. Dan Sita itu bukan ‘cuma’. Lo yang nggak bisa ngehargain cewek tahu apa soal dia? Seberapa besar pengorbanan dia buat lo? Sedangkan lo yang selalu bikin dia menderita selama ini justru enak-enakan mau jadi player hebat? Gue jelas nggak bakal biarin hal itu terjadi,” kata Rangga lantas melesat ke arah RIko dengan dual dager yang diarahkan padanya.


Riko dengan sigap mengangkat kapaknya, mencoba menangkis serangan Rangga. Namun kecepatan Rangga jauh di atas Riko. Saat Riko hendak menangkis serangan tersebut, Rangga memutar tubuhnya dan kembali menyerang punggung Riko yang tidak terlindungi. Salah satu dagger Rangga menancap di pinggul Riko dan menimbulkan nyeri yang luar biasa. Satu tangan Rangga yang masih bebas kembali melancarkan serangan dengan menancapkan dagger yang lain di bahu Riko.


Riko mengerang kesakitan dan ambruk berlutut di atas tanah dengan darah segar yang keluar dari kedua luka tusukan tersebut.


“Silakan ucapkan salam perpisahan, Riko,” gumam Rangga tersenyum penuh kemenangan.


“Dasar gila,” geram Riko sembari menahan rasa sakit.


Detik berikutnya, Rangga mencabut daggernya yang menancap di pinggang Riko, lantas mengangkatnya tinggi-tinggi, bersiap untuk membunuh. Riko sudah menggenggam kapaknya erat-erat dan berusaha untuk melindungi dirinya semampu yang dia bisa. Akan tetapi mendadak sebuah raungan mengerikan terdengar dari kedalaman gua, diikuti gempa bumi yang sangat kuat. Rangga yang tidak siap dengan guncangan tersebut pun berdiri goyah. Riko memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menebas kaki Rangga dengan kapaknya dan melepaskan diri.


Rangga menggerang kesakitan. Sayangnya tebasan Riko tidak berhasil mematahkan kaki Rangga dan hanya melukainya. Luka yang cukup dalam dan menyakitkan. Riko masih berusaha bergerak menjauh dari Rangga di tengah goncangan hebat tersebut, ketika akhirnya sang pemilik raungan mengerikan itu pun muncul. Sang Bos Monster, Lycan.