Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Tawar Menawar



Pada akhirnya Riko membiarkan saja ucapan dua pria kekar itu. Ia lantas fokus membuka amplop hitam yang baru dia terima dan membaca isinya dengan seksama. Seperti layaknya Guild terbesar, nominal yang ditawarkan oleh Ares memang fantastis. Satu senjata biasa saja dihargai tiga juta rupiah. Pendapatan Riko sudah lebih dari setengah milyar hanya dengan menerima pekerjaan ini saja.


Meski begitu, jumlah senjata yang harus diproduksi memang cukup banyak. Riko juga harus memilah uang itu untuk berbelanja material terlebih dahulu, atau kalau mau lebih hemat, ia bisa menambang sendiri. Akan tetapi Riko harus tahu kapan senjata-senjata itu dibutuhkan.


“Kapan batas waktunya?” tanya Riko kemudian.


“Kalau bisa senjata-senjata itu udah siap minggu depan karena kami juga harus mulai berlatih,” jawab salah satu pria itu.


“Satu minggu?” tanya Riko shock.


“Tidak perlu langsung jadi semua. Bapak bisa mengirimkannya secara bertahap. Kami juga bisa berlatih secara bergiliran,” sahut pria itu lagi.


Riko benar-benar kesal karena panggilan ‘Bapak’ itu. Ia jadi bertanya-tanya tentang penampilannya. Meski begitu Riko kembali mengarahkan fokusnya pada kontrak kerja tersebut. waktu satu minggu itu  terlalu cepat sepertinya. Apalagi perbedaan waktu antara dunia nyata dan dimensi bengkelnya juga belum sepenuhnya berhasil Riko pecahkan.


Saat membuat senjata milik Rhea kemarin saja Riko rupanya menghabiskan waktu lima hari tanpa sadar. Padahal saat berada di bengkel, rasanya baru satu hari berlalu. Atau paling lama dua hari. Perbedaan waktu itu pasti akan berpengaruh dengan lama pengerjaan yang dibutuhkan Riko.


“Aku nggak bisa janji bisa buat banyak senjata dalam waktu satu minggu. Paling cepat dua minggu aku coba buat separuh dari orderan,” tawar Riko kemudian.


Kedua pria kekar tersebut saling berpandangan. Salah satu di antara mereka lantas kembali menatap Riko dengan wajah sangar. “Guild war akan diadakan bulan depan. Kami perlu membiasakan diri juga untuk menggunakan senjata baru. Anda juga tahu, Pak, kalau pedang itu sudah seperti kepanjangan tangan swordsman,” tukasnya menolak.


Riko berdecak kesal. Karena panggilan Bapak, dan juga karena Gamaliel memberikan batas waktu pengerjaan yang tidak masuk akal. Memang pendapatannya sangat besar, senjata yang diminta juga tidak rumit. Akan tetapi mengerjakan jumlah sebesar itu dalam waktu sempit sama saja bunuh diri. Antara hasil senjata yang tidak maksimal, atau tubuh Riko sendiri yang akan tumbang.


“Sepuluh hari. Titik. Itu udah batas waktu tercepatnya. Nggak bisa ditawar lagi. Take it or leave it,” ujar Riko tak terbantahkan.


Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk berdiskusi terlebih dahulu. Satu di antara mereka terlihat membuat panggilan. Suaranya dari balik panggilan itu terdengar seperti Dirga, sang Wakil Ketua Guild Ares. Karena tidak ingin mengganggu panggilan pribadi orang lain, Riko akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur. Di sana ia menemukan Gladys serta Zein yang kedapatan menguping diam-diam.


“Ngapain?” tanya Riko sembari mengerutkan kening.


Keduanya langsung salah tingkah.


Gladys buru-buru meracik teh hangat, minuman yang lazim disuguhkan untuk tamu di tempat itu. “Astaga, iya lupa. Ini udah kusiapin kok, Rik. Tadi nunggu tehnya kental dulu,” ucap gadis itu gugup.


Riko cuma mendengkus kecil. Setelah menegak air putihnya, ia pun mulai bicara pada Zein. Gladys sudah melesat ke ruang tamu untuk menyajikan teh hangat.


“Jadi gimana, Rik?” tanya Zein membuka percakapan.


“Yah, kamu denger sendiri juga tadi. Kalau mereka setuju sama tenggat waktuku, mungkin aku bakal ada di bengkel selama beberapa bulan. Tolong urus guild ya. Aku titip anak-anak sama rumah ini juga.


“Mona pasti juga mungkin akan selesaiin administrasi untuk kepemilikan dungeon dalam waktu dekat. Kalau kita udah punya dungeon sendiri, tolong kamu cek kondisi dan lokasinya. Setelah Jaka sama Rizal dapet anggota baru, kalian bisa mulai latihan di sana,” ujar Riko panjang lebar.


Zein tampak menarik napas panjang. “Banyak bener kerjaan gue,” kelakar pemuda itu sembari tertawa kecil.


“Nanti biar Mona itungin gaji kalian juga. Aku kan harus cari duit,” ujar Riko tersenyum.


“Udah beneran kayak Ketua Guild gede lo,” sahut Zein tertawa. “Oke. Lo tenang aja. Serahin urusan di sini sama kita-kita. Nanti lo tinggal review aja proposal kita. Macam bos-bos perusahaan di sinetron,” lanjutnya menggoda.


Riko tertawa kecil. Zein mungkin terlihat tidak serius, tetapi Riko percaya kalau pemuda itu bisa diandalkan. Juga teman-temannya yang lain. Meski Riko mengenal mereka baru-baru ini, tetapi pengalaman hidup dan mati yang telah mereka lalui bersama saat di dungeon telah mempererat hubungan keenam orang itu.


“Rik, itu si bapak-bapak di depan manggil kamu katanya,” ucap Gladys yang kembali muncul di dapur sambil membawa nampan kosong.


Riko mengangguk pelan. Namun sebelum pergi, pemuda itu menyempatkan diri bertanya pada Gladys, anggota termuda sekaligus yang paling fashionable di Guildnya.


“Dys, menurutmu aku sama mereka tuaan siapa?” tanya Riko tiba-tiba, membuat Gladys dan Zein berpandangan bingung.


“Yah … ,” ucap Gladys sembari mengamati Riko. “Kurang lebih lah. Kayak seumuran,” jawab gadis itu tanpa beban.


Riko mendesis kesal lantas meninggalkan dua temannya itu sambil menggerutu.