
“Aku senang kamu akhirnya lanjut fokus kuliah, Rik,” ucap Sita sembari mengaduk soto di hadapannya.
Rasanya sudah lama sekali Riko tidak menghabiskan waktu di tempat itu. Kantin kampusnya tidak banyak berubah. Ibu-ibu penjual soto bahkan masih mengenali Riko dan Sita. Tempat itu juga masih dipenuhi mahasiswa tingkat bawah yang sebagian besar sudah tidak dikenal Riko lagi.
“Kemarin nyoba masukin judul buat terakhir kalinya. Ternyata diterima. Katanya karena udah kejar tayang biar nggak ngerusak akreditasi kampus. Makanya dipermudah,” tutur Riko apa adanya.
“Nggak masalah. Yang penting akhirnya bisa selesai. Sayang juga kamu udah kuliah lama dan keluar banyak uang kalau nggak diselesaiin padahal tinggal selangkah. Kalau butuh bahan buat skripsiku, bilang aja. Nanti aku bantu buat garapnya,” ucap Sita dengan senyum terkembang.
Riko menghela napas pelan. Sotonya masih mengepul panas, belum diberi jeruk. Namun perasaan Riko sudah kecut sendiri. Entah kenapa Riko merasa kesal. Hanya gara-gara skripsi saja sikap Sita sudah langsung berubah. Sebenarnya kenapa hidupnya selalu dipandang dengan tolok ukur lulusan sarjana? Apa usahanya yang lain selama ini sama sekali tidak penting?
“Aku masih harus sambil urusin guild juga. Kerjaan itu nggak kalah pentingnya sama kuliah. Dan lagipula aku dapat banyak uang dari sana. Jadi nggak tahulah nanti soal skripsi ini. Aku kerjain aja sebisaku.” Riko meluapkan kekesalannya dengan sengaja melempar pernyataan ketus seperti itu.
Namun Sita tampak sabar. Sepertinya gadis itu sudah langsung memaafkan semua kesalahan Riko di masa lalu hanya gara-gara judul skripsinya di-ACC. “Nggak apa-apa. Sambil jalan aja dua-duanya. Pasti bisa,” ucapnya.
Riko menarik napas panjang. Ditatapnya gadis yang sudah pernah dia pacari selama bertahun-tahun itu. Masih membekas di ingatan Riko tentang bagaimana Sita mencampakannya tanpa ampun gara-gara statusnya sebagai pengangguran. Sekarang gadis itu duduk di depannya, makan soto dan menyemangatinya untuk kuliah lagi. Seperti dulu.
Yah, perasaan ini nggak buruk juga. Pikir Riko kemudian.
Keduanya pun bercakap-cakap ringan sembari makan siang. Satu jam kemudian Sita mengatakan bahwa ia harus kembali ke kantornya. Melihat Sita yang kerepotan memesan taksi online, Riko pun menawarkan untuk mengantar gadis itu ke tempat kerjanya, sekaligus memamerkan mobil barunya yang masih berplat putih.
Sita dengan senang hati menerima tawaran Riko. Keduanya berkendara dengan santai membelah kota Jogja yang padat di jam makan siang.
“Ngomong-ngomong kamu nggak terluka lagi kan?” tanya Sita saat mereka berhenti di lampu merah Jogokaryan.
“Terluka? Emang terluka kenapa?” tanya Riko kebingungan.
“Waktu kamu bilang gas meledak di apartemenmu. Itu nggak bener kan? Aku tahu ada seseorang yang coba celakain kamu waktu itu,” ungkap Sita tampak khawatir.
Riko mengernyitkan dahinya dengan curiga. “Kamu tahu darimana? Soal aku diculik juga. Kok bisa kamu tahu?” tanya pemuda itu mencoba mengulik.
Sita menggeleng salah tingkah. “Itu … aku cuma nebak aja. Kehidupan player kan emang penuh resiko kaya gitu. Apa kamu beneran ma uterus geluti bidang itu Rik? Setelah lulus kamu bisa kerja di tempat lain,” bujuknya mengalihkan topik.
“Aku tahu di masa lalu emang aku bukan cowok yang bisa kamu andalkan, Sit. Dan aku juga ngerti kenapa akhirnya kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Justru aku yang berterima kasih karena kamu udah bertahan samaku selama bertahun-tahun padahal aku nggak bisa kasih jaminan masa depan yang pasti buatmu,” sahut Riko kemudian.
“Tapi sekarang aku udah berubah. Walaupun aku masih peduli samamu, aku juga masih punya malu buat nggak berusaha ngajak kamu balikan. Aku masih nata hidupku sendiri dan berusaha buat melakukan hal-hal yang kuminati. Meski menurutmu pilihan hidupku ini beresiko, tapi aku tetap mau jalani ini karena aku menikmatinya. Jadi nggak perlu khawatir. Mulai sekarang kamu bisa fokus sama hidupmu sendiri aja dan nggak usah mikirin aku lagi,” lanjut Riko serius.
“Sebenarnya, aku juga masih peduli sama kamu, Rik. Aku … nggak bisa lupain kamu,” ucap Sita lirih.
...***...
Kata-kata Sita telah membuat Riko goyah. Selepas pertemuannya dengan Sita, pemuda itu sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun. Saat meninjau lokasi markas Guild yang sudah berhasil dibeli oleh Mona; bahkan saat dibawa oleh Rizal bertemu dengan tiga belas anggota baru Guild mereka. Riko seperti kehilangan fokusnya. Pikirannya melayang-layang ke tempat lain, angan-angan jika ia bisa kembali bersama Sita lagi di masa depan.
“Rik, heh! Riko. Itu si Ridho nanya,” bisik Rizal sembari menyenggol lengan Riko.
Kini ia, Rizal serta tiga belas anggota baru guild mereka sedang makan bersama di Warung Makan Pelem Golek. Tempat makan lesehan yang terkenal di kotanya.
“Hah? Ridho? Siapa?” tanya Riko kebingungan. Sedari tadi fokusnya terpecah karena sibuk berkirim pesan singkat dengan Sita. Hubungan mereka menjadi akrab lagi seperti pasangan yang sedang melakukan pendekatan.
Rizal mendesis kesal. Ekspresi yang sangat jarang ditunjukkan oleh sosok priest berhati lembut itu. “Yang kacamata itu loh. Dia knight yang nanya soal senjata tempaan,” bisik Rizal dengan bibir terkatup karena berusaha bersabar.
“Oh, iya, Ridho. Gimana? Nanya apa tadi. Sorry aku sambil urus beberapa hal lain,” ucap Riko berusaha santai.
Seorang pemuda berkacamata dengan kulit sawo matang mengangguk mahfum. Pemuda yang duduk di ujung meja tersebut lantas mengulang pertanyaannya.
“Di Guild ini apakah para anggotanya juga bisa dapat senjata tempaan khusus, Kak? Soalnya sekarang kan udah ada Guild War juga. Masak guild Forging Master senjatanya kalah sama guild-guild lain?” tanya pemuda itu tanpa tedeng aling-aling.
Kata-kata Guild War segera memancing perhatian Riko. Pertanyaan anak itu memang ada benarnya. Riko memang bermaksud untuk membuat senjata bagi rekan-rekannya. Akan tetapi rencana itu belum terlaksana sampai sekarang. Sepertinya di waktu senggang ini Riko bisa mulai membuat beberapa item untuk para anggotanya. Tentu saja sambil tetap mengerjakan skripsi dengan bantuan Sita.
“Pertanyaan bagus, Ridho. Kalian semua nggak perlu khawatir. Aku akan siapin senjata dan equip khusus buat semua anggota guild. Nanti setelah markas kita selesai direnovasi, semua senjata itu akan siap tersedia di gudang guild kita,” ungkap Riko kemudian.
Semua anggota baru itu pun tampak semringah. Mereka senang mendapatkan fasilitas senjata kualitas tinggi yang dibuat oleh seorang irregular Blacksmith yang tersohor. Mungkin keberadaan Riko merupakan salah satu alasan kenapa mereka semua tertarik untuk bergabung dengan Forging Master.
Riko tersenyum puas dengan respon positif itu. Namun Rizal kembali menyenggol lengannya.
“Kamu yakin mau buat senjata lagi? Katanya bakal fokus kuliah beberapa bulan ke depan?” tanya sang priest tampak ragu.
“Tenang. Aku udah dapet bantuan dari seseorang, kok,” tanggap Riko dengan senyum terkembang.