Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Bengkel Kurcaci



Setelah perkenalan selesai, Riko mulai memahami keadaan. Bengkel tempa itu rupanya dibuat oleh seorang Master Blacksmith kuno sekitar seratus tahun yang lalu. Sang master blacksmith tersebut suatu ketika pergi meninggalkan para kurcaci ini dan mengatakan bahwa suatu ketika, master yang baru akan muncul. Para kurcaci diperintahkan untuk menunggu dan melayani master baru yang akan datang.


Begitulah ketika akhirnya Riko muncul setelah lama berselang. Para kurcaci itu dengan telaten merawat, membersihkan serta menjaga bengkel itu hingga siap digunakan oleh master baru mereka. Dan sesuai dugaan Riko sebelumnya, para kurcaci itu rupanya memang benar tinggal di rumah pohon yang ada di puncak pohon raksasa tersebut.


“Karena perkenalanannya sudah selesai, sekarang ayo kita mulai buat senjatanya,” ujar Riko sembari mengeluarkan Scroll Saint Staff yang dibawanya. Para kurcaci pun mendekat mengerumuni Riko untuk melihat lebih dekat scroll yang berupa perkamen tua tersebut.


“Wah, tongkat suci,” komentar Mili diikuti gumaman setuju dari kurcaci-kurcaci lainnya.


“Kalian tahu benda ini?” tanya Riko.


“Master terdahulu pernah membuatnya. Resep ini juga dia yang membuat,” sahut Fili.


“Betul. Itu tulisan Master terdahulu.” Dili tak kalah berceloteh.


Riko semakin takjub. Entah siapa master mereka terdahulu, tetapi orang itu jelas berhubungan dengan Genesis. Apa ini dunia paralel? Entahlah. Riko tidak ingin pusing memikirkan hal tersebut. Ia pun kembali fokus melanjutkan pekerjaannya menempa.


Setelah mengeluarkan scroll, kini giliran bahan-bahan yang dibutuhkan dia ambil dari dalam inventory sistem. Di mata para kurcaci, Riko sudah seperti penyihir yang mengeluarkan benda-benda dari udara kosong.


Sepuluh White Ore berwud pecahan batu yang mirip Kristal berwarna putih susu. Sepuluh Star Dust atau debu bintang dalam kantong-kantong kecil berisi serbuk putih berkilauan. Delapan Oridecon yang bentuknya mirip tetesan air berwarna biru transparan. Cystal Blue adalah  Kristal yang biasa di tambang di dalam dungeon.


Semuanya sudah ditaruh Riko di atas meja besar tempat bahan. Akhirnya sajian utama pun tiba. Riko mengeluarkan Light Element yang berupa jantung Fallen Angel, serta Angelic Wings yang adalah sayap monster malaikat rakasasa tersebut. Ukurannya yang gigantis rupanya muat ditaruh di meja bahan karena meja tersebut memang sangat besar.


Setelah selesai mengeluarkan semuanya, para kurcaci pun segera berbaris menunggu perintah. Riko lantas mulai membaca resep cara pembuatan senjata itu dan mulai memerintah para kurcaci untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sesuai petunjuk. Ada yang melebur Kristal, menyepuh besi, beberapa lainnya membantu Riko melebur sayap dan jantung Fallen Angel.


Riko dan ketujuh kurcaci itu bekerja keras siang dan malam, memanggang, menempa melumerkan bahan. Beberapa kali tangan Riko nyaris terbakar lelehan besi. Beruntung ia menggunakan sarung tangan naga yang anti api. Tubuhnya juga dilindungi apron dengan bahan yang sama.


Peluh membasahi tubuh Riko. Saat ia lelah, terkadang Riko beristirahat di bawah pohon besar yang sejuk. Nori membawakan kudapan dari atas pohon. Kue-kue kenari dan air dingin. Rasanya menyegarkan. Setelah cukup kuat, Riko kembali bekerja.


Entah sudah berapa lama Riko bekerja. Meski ia tidak pernah merasa mengantuk, tetapi Riko tetap merasa waktunya di dunia itu cukup lama. Hingga akhirnya pekerjaan Riko pun selesai. Sebuah tongkat sihir sepanjang satu setengah meter dengan bola cahaya emas di ujungnya, terlihat begitu agung dengan ornamen Kristal biru di seluruh permukaannya yang juga bersepuh emas. Tongkat itu memiliki hiasan sayap kecil di kanan kiri bola cahaya. Terliha begitu indah dan mengagumkan.


 


Saint Staff +10


Type      : Weapon – Staff


Level      : 50


M. Atk  : +408


-Base-


INT + 12; DEX +3


Extra Light Damage +20%


-Refine-


SP Regen +45%


Healing increase +2-%


-Requirement-


Level 50 | Mage, Sage, Warlock,


 


Riko memberi bonus dengan merefine staff tersebut menjadi level maksimal, +10. Selah selesai melakukannya, pemuda itu pun mengangkat maha karya pertamanya ke udara. Dengan bangga dan puas hati, Riko mengagumi saff luar biasa itu sembari menengadah dan tersenyum bahagia.


“Master, Anda benar-benar luar biasa,” puji Dili.


“Tongkat itu sangat indah dan kuat,” ungkap Dori.


“Kemampuan Anda benar-benar sepadan dengan Master terdahulu.” Fili terkagum-kagum.


Pujian-pujian itu semakin melambungkan hati Riko. Ia benar-benar bangga karena telah berhasil membuat maha karya tersebut. Karya pertamanya. Kini setelah semuanya selesai, Riko pun harus segera kembali ke dunianya.


Fili, sang kurcaci merah yang tampaknya adalah pimpinan para kurcaci, memberi tahu Riko caranya untuk kembali. Kurcaci itu berjalan ke arah sebuah pintu yang ada di sisi ruangan luas tersebut. Pintu kayu mengkilat berukir sulur yang rumit.


“Anda bisa kembali melalui pintu ini, Master,” terang Fili kemudian.


“Makasih, Fili. Dan kalian semua juga. Makasih udah bantu aku bikin senjata ini. Juga karena udah merawatku selama berada di sini,” ucap Riko tulus.


“Itu sudah tugas kami, Master.” Nori menyahut sembari membungkuk sopan dan tersenyum tipis.


“Kami sungguh bahagia karena akhirnya bengkel ini bisa bekerja lagi. Terima kasih karena sudah datang kemari, Master,” kata Dainn terlihat terharu. Kurcaci bungsu itu memang mudah sekali tersentuh.


“Oke kalau gitu, aku pergi sekarang, ya. Sampai jumpa lagi,” pamit Riko sembari membuka pintu kayu tersebut.


“Sampai jumpa lagi, Master.”


“Kami menunggu Master untuk datang ke sini lagi!”


Teriakan-teriakan para kurcaci itu semakin teredam lantas menghilang sepenuhnya ketika Riko melangkah melewati pintu. Semula di hadapannya hanya ada ruang gelap. Namun seketika saat kakinya menapak lantai, ruangan tersebut mendadak menjadi terang benderang. Riko berada di ruang tamu apartemennya, tengah membuka pintu ruang tempa yang ada di dalam apartemen. Riko menoleh bingung. Kini di belakangnya hanya ada ruang kosong dengan satu sofa, persis seperti sebelum Riko masuk ke bengkel para kurcaci.


“RIKO!” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah ruang tamu. Suara teriakan perempuan.


Riko terkesiap. Ia mendapati seluruh anggota guildnya, termasuk Gladys dan Mona sedang berkumpul di ruang tamu apartemennya. Mereka tampak lega saat melihat Riko muncul. Gladys bahkan terlihat seperti habis menangis. Matanya sembab dan kemerahan.


Sebelum Riko sempat bertanya kenapa mereka semua tiba-tiba berkumpul di apartemennya, Gladys sudah berlari memeluk Riko dengan erat. Sontak Riko pun kehilangan kata-kata.


“Ada apa?” tanya Riko kebingungan. Namun Gladys justru terisak semakin keras di pelukannya.


“Lo udah ngilang selama lima hari, Rik,” ujar Zein terlihat cemas.


“Hah? Lima hari?” tanya Riko semakin bingung.


Gladys akhirnya melepaskan pelukannya. Kini di baju Riko ada bekas air mata yang berasal dari tangisan gadis muda itu.


“Iya, lima hari. Kami udah hampir telepon polisi,” ucap Gladys sembari terisak.


“Aku juga hampir mau nanya ke orang tuamu, Mas,” timpal Jaka.


“Cuman semuanya dicegah sama cewek ini.” Zein menunjuk Mona dengan nada kesal.


“Itu karena Mona bilang suruh tunggu. Riko mungkin lagi bikin senjata.” Rizal mencoba menengahi.


Mona menarik napas panjang. Meski begitu ia terlihat lega. “Jadi Rhea bilang kamu lagi garap senjata dia. Jadi kupikir mungkin kamu sedang ada di suatu tempat dan nggak pengen diganggu untuk bikin senjata. Jadi aku suruh anak-anak tunggu dulu. Paling nggak seminggu kalau kamu nggak balik, baru kita lapor-lapor,” terang Mona panjang lebar.


“Seminggu itu keburu Riko nggak bisa ditemuin lagi, dong,” protes Zein masih kesal.


“Udah, udah. Jangan berantem. Kasihan Riko baru balik,” lerai Rizal tabah.


“Lagian tuh cewek ngapain sih daftar masuk ke guild kita. Forging Master udah nggak butuh penyihir. Udah ada gue!” hardik Zein sembari melotot ke arah Mona.


Sontak Riko terkejut lagi. “Hah? Siapa yang mau daftar masuk guild?”