
Hari yang ditentukan pun tiba. Riko, Jaka, Rizal dan Zein sudah berada di bandara internasional Kulon Progo pukul setengah lima pagi. Mereka mengambil penerbangan pertama yang akan berangkat pukul enam pagi.
Lima belas menit setelah menunggu, seorang perempuan cantik dengan rambut yang dicat warna merah datang mendekati mereka. Gadis itu membawa koper besar yang didorong oleh petugas trolli bandara.
Riko dan rekan-rekannya yang lain tampak terpesona ketika melihat gadis itu dari kejauhan. Pakaiannya yang mini dan ketat memamerkan potongan tubuh sang gadis berambut merah itu dengan indah. Lekuk-lekuk tubuhnya begitu sempurna, cocok sekali dengan rambut panjangnya yang tergerai halus sepanjang punggung. Sepatu hak tingginya berkelotak setiap langkah, seolah menghipnotis Riko untuk terus terpaku menatapnya.
Tanpa sadar, gadis itu kini sudah berdiri di hadapan Riko. Ia menurunkan kacamata hitam yang dia kenakan lantas membungkuk ke dekat wajah Riko sembari menatapnya. Lensa mata warna abu-abu mewarnai pupil gadis itu. Riko terkesiap, menelan ludah karena pemandangan dada sang gadis yang begitu menonjol.
“Riko Sanjaya, ya? Kalau dari fotonya sih bener,” ucap gadis itu sembari melirik layar ponselnya yang menunjukkan foto wajah Riko. Itu foto yang dia daftarkan di Asosiasi sebagai player.
“Eh, I,iya. Bener. Mbaknya siapa?” tanya Riko polos.
Gadis itu mengangguk puas lantas memberi kode pada petugas trolly untuk meletakkan kopernya di sana saja. Ia lantas duduk di sebelah Riko dengan anggun dan kaki terlipat.
“Mona. Mona Erika. Tapi panggil Mona aja. Aku player yang diutus Rhea buat bantu kalian,” ucapnye memperkenalkan diri.
Jaka dan Zein tampak sama bersemangatnya dengan RIko. Biar bagaimana pun mereka memang laki-laki biasa yang lemah pada perempuan cantik nan seksi. Hanya Rizal yang sama sekali tidak terpengaruh. Alih-alih Rizal justru tampak cemas menghadapi perjalanan itu.
“Oh, oke. Salam kenal, Mona. Aku Riko, Itu Zain, Jaka, terus ini Rizal. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, ya,” ujar Riko sembari mengulurkan tangan untuk berjabat.
Mona melirik sekilas ke arah uluran tangan Riko. Tatapannya tampak angkuh. “Aku di sini cuma karena perintah dari Ketua Guild. Tugasku cuma buat memastikan blacksmith ini tetap hidup setelah membunuh Fallen Angel. Aku nggak peduli soal yang lainnya,” sahut Mona ketus.
Riko menarik kembali uluran tangannya. Ia akhirnya tidak berusaha untuk mencoba mengajak Mona berbicara lagi. Justru Jaka yang tetap pantang menyerah meski Mona sangat jutek menanggapi.
Akhirnya pesawat mereka pun tiba. Mereka terbang selama satu jam menuju kota Denpasar, Bandara Ngurah Rai. Setelah sampai di bandara pukul 06.00W WITA, sebuah mobil lambhorghini mewah datang menjemput dan membawa mereka langsung menuju Nusa Dua.
Itu kali pertama Riko naik mobil mewah tersebut. Interior di dalamnya sungguh luar biasa. Mereka menikmati kemewahan tersebut selama empat puluh menit sampai akhirnya tiba di kawasan pantai Mangroove yang indah.
Sayangnya keindahan itu harus ternoda oleh sebuah retakan dimensi yang menggantung di udara. Itu adalah lokasi dungeon Abandoned Holy Land. Riko pun meninggalkan semua barang bawaannya di dalam mobil dan segera bersiap untuk melakukan raid bersama lima anggota timnya yang lain.