
Riko kembali ke bengkelnya dan mulai bekerja seperti kesetanan. Selepas pembicaraannya dengan sang ibu, pikiran Riko menjadi sedikit keruh. Suasana hatinya tak kunjung tenang dank arena itu ia pun melampiaskannya dengan kerja fisik gila-gilaan.
Para kurcaci tampak khawatir dengan kondisi Riko yang terlalu memaksakan diri. Beberapa kali mereka meminta Riko untuk beristirahat, tetapi Riko bergeming. Denting besi yang ditempa, hawa panas yang membara dari tungku serta aroma lelehan logam membuat pikiran Riko bisa teralih.
Setiap kali ia beristirahat, hanya ucapan ibunya yang terngiang-ngiang. Apa ia semengecewakan itu? Hidupnya dulu memang berantakan. Namun sekarang Riko sudah berubah. Akan tetapi semua orang terdekatnya tidak pernah mempertimbangkan hal itu.
Tidak hanya keluarganya, bahkan tempo hari Sita juga menceramahinya di depan pintu apartemen. Memang benar kata pepatah, orang terdekat itu melukai dengan lebih menyakitkan. Mungkin mereka melakukannya atas dasar rasa khawatir, tanpa punya niat sengaja untuk menyakiti perasaan, tetapi rasanya tetap menyesakkan.
Akan tetapi, berkat tekanan mental yang membuat Riko bekerja keras bagai kuda itu, alhasil pengerjaan senjatanya selesai lebih cepat. Ia keluar dari bengkel enam hari kemudian. Lebih cepat empat hari dari waktu yang dijanjikan.
Pemuda itu disambut oleh Zein dan Gladys yang sibuk bermain game VR di ruang keluarga apartemennya. Entah kapan mereka membeli itu. Padahal game Genesis saja sudah muncul di kehidupan nyata, tetapi mereka justru tidak jera sama sekali.
“Kami juga maunya latihan di dungeon baru kita, tapi kan nggak mungkin ninggalin kamu sendiri disini. Zein udah pasang banyak mantra jebakan sama CCTV sih, cuman kan bahaya, Rik,” kilah Gladys dengan suara yang dimanja-manjakan.
Riko hanya menghela napas pendek. Ia kelelahan setelah menforsir dirinya untuk bekerja di bengkel.
“Ngomong-ngomong lo pucet banget, Rik? Lo nggak maksain diri kan? Kerjaan yang harusnya kelar sepuluh hari lo selesaiin dalam waktu nggak sampai seminggu,” komentar Zein melepas kacamata VRnya.
“Nggak apa-apa. Aku mau istirahat bentar sebelum kasihin sisa senjatanya. Masih ada waktu juga sebelum tenggat. Ngomong-ngomong kita udah dapet tempat baru?” tanya Riko sembari merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga.
Zein duduk di depannya lantas mengangguk. “Mona yang tahu detailnya. Nanti dia ke sini, kok. Katanya udah otewe,” sahut Zein.
Tak lama setelah itu orang yang dimaksud pun betul-betul tiba. Mona datang membawa tumpukan berkas yang ditenteng dalam totebag besar. Gadis itu tampak sama lelahnya dengan Riko. Sepertinya Mona juga sudah melalui banyak hal selama mereka tidak bertemu.
“Loh, Rik, kamu udah selesai?” tanya Mona saat mendapati Riko duduk-duduk di sofa.
Apartemennya itu sepertinya tidak punya privasi sama sekali sejak teman-temannya bisa keluar masuk dengan mudah ke sana. Namun Riko tidak terlalu mempermasalahkannya sekarang. Nanti ketika mereka sudah punya markas baru, ia bisa tinggal di sini dengan tenang. Setidaknya tanpa ada serangan assassin lagi.
“Iya, udah kebiasa bikin jadi skillku meningkat. Kamu gimana? Katanya udah dapet tempat bagus buat markas kita?” Riko balas bertanya.
Mona tampak menghela napas pelan. Gadis itu turut duduk di sofa sembari merebahkan punggungnya di sebelah Riko.
“Ada beberapa pilihan, salah satunya ada bangunan bekas hotel gitu di pinggir pantai. Pemandangannya oke sih, tapi tempatnya agak horror katanya. Udah lama nggak kepakai. Cuman harganya murah. Aku udah survey ke beberapa tempat sama Rizal. Yang paling masuk budget kita cuma tempat itu,” jawab Mona kelelahan.
“Gimana emang kondisinya?”
“Bangunannya ada empat lantai termasuk parkiran bawah tanah. Total kamarnya ada dua puluh satu, nggak termasuk ruangan kantornya juga ya. Itu hotel lama yang ownernya orang luar negeri. Tapi karena udah nggak tinggal di sini lagi, makanya dia tutup hotelnya dan dijual dengan harga murah.
“Sayangnya bangunan itu udah kosong selama dua tahun. Jadi lumayan effortnya buat bersihin semuanya. Perabotnya lengkap sih, cuma ada beberapa yang rusak. Kalau kamu oke, aku kasih surat perjanjiannya. Nanti tinggal tanda tangan, bayar, terus serah terima sertifikat termasuk balik nama,” terang Mona.
“Kalian lebih takut monster apa setan?” balas Mona ketus.
Zein tertawa menimpali. “Masalahnya setan nggak bisa diskill, Mon,” tanggapnya dengan candaan.
“Kalau aku sendiri sih nggak masalah, Mon. sejauh uang kita cukup dan tempatnya oke. Ini bayaran dari Ares juga udah masuk. Nanti kalau aku serahin sisa barangnya mereka bakal lunasin sisanya,” sahut Riko.
“Pendapatan dari tambang Kristal di dungeon udah lumayan banyak sebenarnya. Tapi aku nggak akan nolak kalau kamu mau tambahin lagi biayanya. Rizal juga butuh dana buat latihan anggota baru. Kita udah punya dua tim pembasmi buat ikut nutup dungeon yang baru muncul. Makanya butuh beli persenjataan juga buat mereka. Sama gaji, pastinya,” terang Mona kemudian.
“Oke nanti kutransfer ke rekening guild,” sahut Riko kemudian.
“Nggak usah semuanya. Sebagian aja. Toh itu juga kerja kerasmu. Jadi sisanya kamu pakai aja buat kebutuhanmu, Rik. Kamu bukannya perlu beli kendaraan juga? Masa ketua guild rangking tujuh masih motoran,” canda Mona sembari tersenyum.
Riko balas tertawa. “Iya. Aman,” sahutnya pendek.
Pemuda itu mengamati Mona yang sudah bekerja keras membangun guild mereka sepeninggalan Riko di bengkel. Ia merasa begitu berterimakasih pada gadis itu. Mona membuat kegalauannya sirna karena selalu mendukung Riko dengan tulus.
“Makasih, ya, Mon. Kamu udah bekerja sekeras ini buatku,” ucap Riko tanpa sadar.
Mona balas menatapnya dengan lembut. “Masa terima kasih doing? Udah lama kita nggak kencan berdua karena sibuk. Setidaknya kamu ajak aku makan malam di luar, kek,” sahut gadis itu langsung ke intinya.
“Kencan?” pekik Gladys terdengar seperti tidak terima.
Buru-buru Zein menyeret gadis itu menjauh. “Hush, anak kecil nggak boleh ikut-ikutan,” ucap pemuda itu meninggalkan Riko dan Mona agar bisa bicara berdua saja.
Gladys tampak ingin memberontak, tetapi Zein memitingnya kuat-kuat hingga tak bisa lepas. Riko dan Mona hanya tertawa kecil melihat tingkah dua orang itu.
“Jadi gimana?” tanya Mona lagi, tanpa basa-basi.
Riko tersenyum tipis menanggapi. “Ayok. Kapan kamu ada waktu?” tanyanya kemudian.
“Besok malam aku free.”
“Aku reservasi tempat sekarang kalau gitu,” sahut Riko kemudian.
“Oke. Kalau gitu aku lembur dulu hari ini, biar semuanya kelar besok. Oya, sempatin lihat lokasi hotel itu dulu sebelum kita deal-dealan ya. Aku nggak mau gegabah beli,” tukasnya sembari beranjak hendak pergi.
“Aku percaya sama kamu, Mon. Tapi oke, deh, besok kita visit dulu sebentar sebelum makan gimana?” tawar Riko.
Mona mengangkat satu tangannya dengan gestur oke lantas pergi meninggalkan Riko sendirian. Suasana hati pemuda itu langsung membaik berkat Mona. Karena itu Riko berniat untuk membawa gadis itu ke tempat yang spesial. Mona berhak mendapatkannya.