Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Permintaan Maaf



Terengah-engah dan kehabisan tenaga, Riko pun merebahkan tubuhnya ke tanah dan tidur menengadah. Rekan-rekannya yang lain segera menyusul. Mereka semua tampak lelah dan penuh luka. Rizal berusaha mengobati mereka satu per satu, tetapi ia sendiri sudah terlihat kehabisan tenaga.


“Udah, Zal. Nggak usah nggak apa-apa. Udah kelar juga. Yang penting semuanya selamat,” ujar Riko masih sambil terlentang merilekskan badan.


Zein dan Jaka mengikutinya. Bertiga mereka terlentang menengadah menatap langit yang cerah. Sementara itu Rizal hanya duduk bersila di sebelah ketiga rekannya tersebut. Situasi di dungeon sudah tidak terasa begitu mistis seperti sebelumnya. Altar batu pecah bersamaan dengan tewasnya sang bos monster. Tidak ada lagi cahaya yang muncul di huruf-huruf kuno.


“Gila! Ini monster terkuat yang pernah gue hadapi selama ini. Epik banget lo, Rik, waktu mecahin kepalanya,” komentar Zein kemudian.


“Yah, berkat bantuanmu juga, Zein. Kalau nggak pake sihir angin itu mungkin aku nggak bisa sampai ke kepalanya,” sahut Riko santai.


“Ngomong-ngomong Mas Riko beli baju baru? Senjatanya juga?” tanya Jaka mengamati set pakaiannya yang berwarna putih emas.


“Iya. Tadi. Nyesuaiin sama bos monsternya. Besok-besok kayaknya aku harus banyak nyetok equip juga buat jaga-jaga. Semua elemen harus punya,” celetuk Riko.


“Banyak uang, Mas Riko ini,” komentar Jaka kemudian.


Riko tertawa pelan. “Amin. Ngumpulin dikit-dikit. Eh, ngomong-ngomong Mona mana?” tanya Riko menyadari absennya satu anggota partynya itu.


Semua orang lantas celingak-celinguk mencari gadis seksi yang cuek itu. Mona tidak terlihat di mana-mana. Sampai akhirnya Jaka menunjuk ke atas bangkai tubuh Fallen Angel yang tergeletak bersimbah darah di dekat mereka beristirahat.


“Itu dia,” seru Rizal sembari menunjuk.


Riko mengikuti arah yang dituju Rizal dan mendapati Mona sudah sibuk menambang material di tubuh monster.


“Urusan ginii aja baru gercep dia,” gerutu Zein mengamati Mona yang sibuk mencacak sayap malaikat itu.


Kini sang malaikat berubah menjadi sosok dualitasnya. Separuh hitam, separuh putih. Yang dibutuhkan Riko adalah sayap putih sang malaikat dan esensi cahaya yang terdapat di jantung malaikat tersebut.


“Yuk lah, kita juga lanjut kerja,” ucap Riko mengajak rekan-rekannya ikut menambang.


“Bukannya nanti bakal dikerjain sama tim pembersih. Dungeon ini kan udah diambil alih sama guild Corsage atas nama kita. Biar mereka yang ambil materialnya, Rik. Nggak bakal disetor ke perusahaan juga. Kita pasti dapet bagian sesuai kontrak,” ujar Zein malas-malasan.


“Iya, tahu. Tapi rasanya lebih afdol kalau aku ambil sendiri bahan yang kubutuhin. Yaudah kalau kalian capek istrirahat aja. Biar aku yang nambang,” sahut Riko lantas menyusul Mona ke atas tubuh sang monster. Zein, Rizal dan Jaka masih bergeming di tempat mereka duduk dan merebah. Riko membiarkan mereka beristirahat.


“Rajin juga ketua guild ini,” sapa Mona ketika Riko datang mendekat.


“Mumpung masih kuat. Sekalian aja,” sahut Riko sembari menyayat dada Fallen Angel untuk mengambil jantungnya. Darahnya merembes keluar mengenai kapak Riko yang tajam.


Beberapa detik kemudian sebongkah jantung sebesar tas gunung gemuk keluar dari dada monster tersebut. Tanpa darah, tanpa sayatan atau robekan kulit. Jantung itu bercahaya keemasan terang dan melayang hingga sejajar dengan kedua mata Riko.


“Wah, kok bisa nembus gitu jantungnya?” tanya Riko takjub.


“Ini sihir transmutasi dasar. Aku mengubah karakteristik tubuh monster agar partikelnya melonggar. Jadi benda padat bisa tembus,” terang Mona dengan serius. Sayangnya, tidak ada satu kata pun yang dimengerti Riko. Namun pemuda itu memutuskan untuk sekadar mengiyakan saja, daripada terlihat bodoh.


Setelah Mona menyerahkan jantung berisi elemen cahaya tersebut, Riko menyimpannya dalam inventory. Material itu akan dia gunakan sebagai bahan pembuat senjata khusus bagi Rhea, klien pertamanya secara resmi.


“Ngomong-ngomong, kamu keren tadi,” ucap Mona tiba-tiba. Riko yang sedang memotong sayap putih Fallen Angel dengan kapaknya, langsung berhenti lantas tersenyum menatap Mona.


“Berkat bantuan kalian juga,” ucapnya pendek.


Mona terdiam sejenak. Gadis itu tampak tersipu. “Maaf, karena tadi aku udah terlalu sombong dan nggak banyak membantu,” ucapnya lirih.


Riko menyadari bahwa ternyata Mona merasa malu karena gadis itu telah memandang rendah dirinya juga guild Forging Master. Karena itulah sejak awal bertemu Mona sudah bersikap tidak ramah kepada mereka. Meski begitu Riko tidak lantas marah pada gadis tersebut. Alih-alih ia ingin berterima kasih karena Mona bersedia membantu guildnya melawan Fallen Angel.


“Santai aja, Mon. Nggak usah dipikirin. Yang penting hasilnya kita berhasil,” ucap Riko menenangkan.


Mona tampak semakin tersipu malu. “Kemarin aku nggak percaya waktu Rhea bilang kalau kamu adalah player yang kuat. Kupikir semua blacksmith itu masuk ke grup pembersih. Kamu satu-satunya blacksmith yang jadi petarung. Dan aku juga nggak nyangka kalau player level F kayak kamu … ,” kalimat gadis itu terhenti. Nampaknya Mona benar-benar merasa bersalah.


Nampaknya Mona benar-benar merasa bersalah. Dan Riko merasa gadis ini tidak akan cukup jika Riko hanya menerima ucapan maaf saja. Karena itu ia pun mencoba untuk membuat Mona merasa lebih baik dengan melakukan sesuatu untuknya.


“Yaudah kalau gitu sebagai tanda maaf, kamu bisa traktir aku kopi atau makan. Gimana?” usul Riko kemudian.


Seulas senyum akhirnya terbit di wajah Mona. “Oke. Kabarin aja kapan kamu ada waktu,” sahut gadis itu puas.


 


Setelah selesai mengambil material yang dibutuhkan, Riko dan rekan-rekan setimnya pun keluar dari dungeon. Kerumunan masa menyambut mereka, berikut para petugas penjaga ketertiban yang dipekerjakan Guild Corsage. Orang-orang yang berkerumun itu rupanya adalah para wartawan yang meliput dungeon raid level S hari itu.


Dungeon tersebut merupakan incaran bagi beberapa guild besar karena terkenal akan kesulitannya dan material-material berharga yang bisa ditambang di dalamnya. Karena itu para wartawan langsung merasa penasaran ketika Forging Master, guild baru yang bahkan belum masuk rangking guild, terdaftar sebagai tim yang akan melakukan raid hari itu.


Kemunculan Riko dan kawan-kawannya itu pun disambut dengan kilatan lampu kamera yang memotret dan merekam mereka, termasuk berondongan pertanyaan wartawan yang saling sahut menyahut. Petugas penjaga ketertiban berseragam ungu menahan dorongan para wartawan. Mereka saling bergandeng satu sama lain dan menjadi pagar hidup serupa bodyguard yang membuka jalan bagi para player.


Riko cukup terkejut menerima sambutan semacam itu. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Seumur hidupnya baru kali itu ia menerima banyak sorotan. Akhirnya pemuda itu pun hanya tersenyum dan mengangguk sopan beberapa kali saat berjalan melewati para wartawan. Pemuda itu sesekali melambai agar terlihat lebih ramah. Rupanya menjadi perhatian publik begini tidak buruk juga.