Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Kekhawatiran



Riko kembali menemui dua orang tamunya yang sudah siap dengan jawaban mereka. Sambil duduk dan membandingkan penampilannya sendiri dengan dua orang kekar tersebut, Riko pun siap mendengarkan jawaban.


“Kami menerima tenggat waktu sepuluh hari,” ujar salah satu dari mereka.


Riko tersenyum simpul. Setidaknya dia akan mendapat uang, jadi masalah penampilan tidak lagi terlalu penting sekarang.


“Kalau gitu klausal di perjanjiannya bisa ditambahkan? Biar aku tanda tangani kalau sudah,” sahut Riko sembari menyerahkan amplop berisi surat kontrak.


Sang pria kekar menerimanya, lantas menyimpan amplop itu ke dalam tas kulit. Sejenak kemudian ia mengulurkan ponselnya kepada Riko.


“Ini sudah direvisi, Pak. Bapak bisa tanda tangan digital di sini,” ujar pria itu menyodorkan gawai berlayar lebar.


Riko menerimanya dan membaca kontrak digital yang terpampang di layar ponsel tersebut. Sepertinya semua sudah sesuai. Akhirnya, ia pun membubuhkan tanda tangan digital dengan jari telunjuknya. Tidak mudah, karena Riko tidak terbiasa melakukannya. Tanda tangannya menjadi sedikit bengkok dan tidak rapi. Meski begitu pihak Guild Ares sepertinya tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Kedua pria kekar tadi mengangguk puas setelah menerima surat bertanda tangan Riko. “Kami akan mengirimkan salinannya ke e-mail Bapak. Untuk pembayaran down payment pertama, akan dikirimkan melalui rekening perusahaan paling lambat malam ini. Pak Dirga akan menghubungi Bapak secara langsung setelah pembayaran pertama dilakukan,” tukas pria itu tampak puas.


“Oke,” jawab Riko pendek.


Sang pria mengulurkan tangannya untuk berjabat. Riko pun menerimanya dengan sopan.


“Senang bekerja sama dengan Bapak,” ujar pria kekar itu.


Setelah kedua tamunya pergi, Riko pun akhirnya bisa kembali bersantai. Banyak hal terjadi dalam satu hari saja. Sebaiknya dia beristirahat dulu sekarang. Hari-harinya menjadi sangat sibuk akhir-akhir ini. Seperti inikah rasanya menjadi ketua guild? Satu hari pun akhirnya berlalu.


...***...


Esok paginya Riko sudah akan bersiap-siap masuk ke bengkelnya sehabis sarapan. Malam sebelumnya Dirga telah mengirim pembayaran tahap pertama. Riko membelanjakan sebagian uang down payment pertama itu untuk membeli bahan baku. Pemuda itu sudah mempersiapkan semua kebutuhannya saat membuat senjata di bengkel kurcaci.


Kelima anggota guildnya yang lain masih sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing di luar sana. Ia ditinggalkan di apartemen bersama Zein yang masih tidur nyenyak di kamar sebelah. Padahal Riko sudah jelas meminta Zein menjaganya selama ancaman guild Silverdeath masih membayanginya. Akan tetapi penyihir itu hanya menghabiskan waktunya untuk tidur dan makan saja.


Setelah mengenakan apron kulit anti apinya, Riko sudah bersiap di ruangan kosong apartemennya. Ia akan menggunakan skill Weapon Mastery, ketika mendadak bel apartemennya berbunyi.


“Rik, kamu nggak apa-apa?” sapa seorang gadis yang sudah berdiri di depan pintu apartemennya: Sita.


Riko terdiam selama beberapa saat, berusaha mencerna pertanyaan absurd mantan pacarnya tersebut. “Kenapa emangnya?” tanya pemuda itu bingung.


“Katanya kemarin kamu kena musibah. Diculik atau gimana gitu. terus abis itu ada dua orang kayak tukang pukul dateng ke rumahmu sorenya. Kamu lagi kena masalah? Aku bisa bantu apa?” cecar Sita tampak cemas.


Jantung Riko sedikit mencelos. Melihat sang mantan pacar bediri mengkhawatirkannya membuat pemuda itu sedikit tersentuh. Ada rasa rindu yang terbit di dalam diri Riko. Rasanya seperti melihat Sita yang dulu. Gadis yang selalu mengkhawatirkannya karena hal-hal kecil.


“Kamu tahu darimana soal penculikan itu?” tanya Riko kemudian, berusaha sedater mungkin agar perasaannya tidak terbaca oleh Sita.


“Itu … ada yang kasih tahu aku. Pokoknya aku punya sumber terpercaya yang nggak bisa kubilang sama kamu. Tapi kamu baik-baik aja kan?” jawab Sita yang jelas sedang menutupi sesuatu.


Riko mengernyit bingung. Darimana Sita mendengar kabar penculikannya? Berita tentang hal itu saja sudah ditutupi oleh Guild Corsage atas permintaan Riko. Tidak ada media yang mengetahuinya karena Riko tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi.


Dan sepangetahuan Riko, Sita yang meskipun memiliki kemampuan player, tetapi memilih untuk tetap hidup sebagai orang biasa. Rasanya mustahil orang seperti Sita bisa mengetahui masalah tersebut. meski begitu, Riko memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Hubungan mereka yang sekarang tidak sedekat dulu.


“Aku nggak apa-apa, kok. Nggak usah khawatir,” ucap Riko kemudian.


Sita masih menatap pemuda itu dengan cemas. Gadis itu pun menarik napas panjang seolah hatinya benar-benar berat. “Kamu beneran harus terjun ke dunia ini, Rik? Kamu tahu kan jadi player itu berbahaya. Nyawa taruhannya. Bukan cuma monster, tapi sesama player juga selalu saling bersaing. Apa kamu nggak bisa balik fokus ke kehidupan nyata aja? Selesaiin kuliahmu terus cari kerja yang stabil. Kamu udah cukup punya uang kan sekarang?” pesan gadis itu panjang lebar.


Kini giliran Riko yang menarik napas panjang. Perbedaan pandangan inilah yang membuat mereka berdua putus.


“Buatku, pekerjaan sebagai player juga sama nyatanya dengan pekerjaan-pekerjaan lain, Sit. Berkat ini aku bisa setle seperti sekarang. Mungkin kamu masih anggap remeh pilihan hidupku. Tapi buatku ini penting. Terserah kamu mau berpikir seperti apa, aku udah nggak peduli lagi,” sahut Riko tajam. Kemarahannya terpicu karena Sita selalu menganggapnya tidak berguna.


“Aku … cuma khawatir sama kamu, Rik. Maaf kalau kata-kataku nyakitin kamu. Aku nggak bermaksud menyinggung,” ucap Sita dengan mata berkaca-kaca.


Detik berikutnya gadis itu sudah berbalik pergi dan masuk ke dalam apartemennya sendiri. Meninggalkan Riko dengan perasaan campur aduk.