Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Penyusup



Riko berusaha tidak mempedulikan perkataan Sita. Kini ia sudah kembali ke ruang kosong apartemennya. Riko membuka fitur skill Weapon Mastery dan seketika ruangan tersebut pun berubah menjadi bengkel besar dengan pohon raksasa menjulang di tengahnya. Cahaya keemasan menyambut Riko dari setiap sudut jendela kaca yang buram.


Barisan kurcaci berbondong-bondong menghampiri Riko. Fili, Kili, Mili, Dili, Dori, Nori, dan Dainn menyambut Master mereka dengan sopan dan hormat. Mereka berjajar sesuai urutan pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.


“Selamat datang kembali, Master,” sapa mereka serentak. Ketujuh kurcaci itu membungkuk setengah badan pada Riko.


“Banyak kerjaan kita hari ini, Guys. Ayo siap-siap,” sahut Riko sembari menenteng lima scroll resep pembuatan senjata dan equipment.


“Siap, laksanakan, Master,” jawab mereka semua bebarengan.


Detik berikutnya para kurcaci itu pun segera melesat mempersiapkan alat tempa sementara Riko mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat senjata. Pemuda itu membuka scroll pertamanya.


Cultus Sword (Crafting Material)


Material Requires:


20 Mercury


15 Gold Sand


10 Black Mica


5 Iron


1 Garlet


Semua bahan-bahan tersebut dapat dibeli di toko item maupun pasar lelang. Tinggal dikali seratus saja per itemnya. Kebetulan Riko sudah berbelanja, sehingga tinggal mengeluarkan semua material tersebut dari inventorynya. Riko menjajarkan semuanya di meja besar yang ada di dekat tungku pembakaran.


Seluruh material yang sebagian besar merupakan logam berat itu pun memenuhi meja kayu lebar seluas enam kali dua meter persegi. Ini pertama kalinya Riko membuat senjata dalam jumlah banyak di waktu yang sempit. Meski akan sangat melelahkan, tetapi pemuda itu cukup bersemangat.


“Oke, ayo kita mulai!” seru Riko sembari mengenakan kedua sarung tangan kulitnya.


Pekerjaan mereka pun dimulai. Riko pertama-tama membakar seluruh bahan untuk mencampurnya menjadi satu. Dengan tungku besar yang dimasukkan dalam api pembakaran yang panas membara, seluruh material pun mulai leleh. Riko lantas dibantu oleh para kurcaci membentuk senjata itu dengan disain yang sesuai.


Pemuda itu menempa dan terus menempa. Skillnya meningkat setiap kali ia memukulkan palunya. Satu senjata selesai dikerjakan. Lalu sepuluh, dua puluh dan seterusnya. Tidak ada kata gagal dalam kamus Riko. Point keberuntungannya yang sangat tinggi telah membuat tingkat keberhasilan Riko menjadi seratus persen. Semua senjata yang dibuat selesai dengan sempurna.


Riko tidak tahu sudah berapa lama waktu terlewati. Namun sebagian besar pesanan sudah rampung dikerjakan. Pemuda itu bermandikan peluh, kelelahan dan kelaparan. Padahal Mili sudah selalu membawakan kue-kue kenari dan camilan lain. Riko juga sudah berkali-kali istirahat bahkan sampai tertidur sejenak di dalam bengkelnya. Meski begitu, ada rasa puas saat melihat senjata-senjata buatannya berjajar rapi di atas meja. Rasa lelahnya seperti terbayarkan.


Saat tengah menikmati istirahat sejenak, mendadak Riko merasakan getaran pelan di dalam bengkelnya. Pemuda itu menatap sekitar. Akan tetapi para kurcaci masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing seolah tidak ada apa-apa. Riko pun mencoba mengacuhkan perasaannya itu.


Namun getaran kembali terjadi. Kini bengkel Riko itu bergoyang semakin kuat. Sontak pemuda itu pun bangkit berdiri dengan panik. Para kurcaci yang akhirnya turut merasakan hal yang sama ikut berteriak-teriak panik ketakutan.


“Penyusup! Ada penyusup!” seru mereka sahut menyahut.


Fili buru-buru menghampiri pemuda itu. Ekspresinya tampak ketakutan. “Master, Anda harus segera keluar dari sini. Jangan sampai penyusup itu berhasil masuk ke sini, Master. Tidak boleh ada yang mengakses tempat ini selain Anda, atau bengkel ini bisa hancur berantakan,” tukas kurcaci berbaju merah itu panik.


“Kenapa? Apa?” Riko masih kebingungan. Goncangan di tempat itu pun semakin menjadi.


Akhirnya, karena tidak ada pilihan lain, pemuda itu pun segera melesat ke pintu keluar dan meninggalkan bengkel kurcaci.


Skill Weapon Masteri berhenti digunakan. Riko sudah kembali ke ruangan kosong yang ada di apartemennya. Namun pemuda itu dikejutkan oleh keberadaan seorang gadis muda bertubuh ramping dengan rambut lurus sepanjang punggung yang diikat ekor kuda. Gadis itu menggunakan pakaian serba hitam, lengkap dengan masker penutup wajah berwarna senada.


“Siapa kamu!” seru Riko sembari menyerbu ke arah gadis itu.


Sang perempuan yang tengah berjongkok di sudut ruangan sambil mengangkat kedua tangannya ke depan itu pun terkejut. Jejak aura berwarna ungu tua yang keluar dari telapak tangannya terbuyar dan hilang begitu konsentrasi gadis itu terpecah.


Riko nyaris menangkap tubuh perempuan itu. Namun dengan gesit gadis itu melompat menghindar. Ia pun mengeluarkan sepasang katar yang lantas digunakan pada kedua tangannya. Riko pun turut mengeluarkan kapak merah bermata duanya dari inventory beserta armor pelindung dada. Pertemuan mereka sepertinya tidak akan selesai hanya dengan bicara.


“Kamu yang berusaha nyabotase skillku? Apa maumu?” gertak Riko kemudian.


Alih-alih menjawab, gadis itu justru melancarkan serangan. Sembari melompat ke arah Riko, ia menyabetkan katarnya tepat di dada pemuda itu. Riko berusaha menangkis dengan kapaknya, tetapi gagal. Gerakan gadis itu sangat cepat hingga nyaris tidak terlihat. Beruntung Riko sudah menggunakan armor, sehingga goresan serangan perempuan itu tidak mengenai tubuhnya.


Riko hanya terdorong beberapa langkah ke belakang. Melihat senjata, gerakan serta damage kecil tersebut, Riko menyimpulkan bahwa gadis itu adalah seorang Assassin. Tanpa perlu menduga-duga, pemuda itu langsung tahu siapa orang yang mengirimkan.


“Sialan. Si Zein kemana pula,” gerutunya sembari memasang kuda-kuda.


Perempuan itu sepertinya tidak berniat untuk membiarkan Riko selamat. Dengan gesit, ia kembali melancarkan serangan. Riko berusaha sekuat tenaga untuk menangkis dan menahan serangan tersebut. Namun gerakan sang assassin benar-benar gesit. Lengan dan kaki Riko pun tergores beberapa kali.


Riko mengerang pelan setiap kali terluka. Pemuda itu kini terpojok. Gadis assassin bermata gelap itu sudah menghunuskan katarnya ke depan leher Riko.


“Jadi kamu diperintahin buat bunuh aku?” gumam Riko berusaha tenang.


Gadis itu terdiam sejenak. “Maaf,” ucapnya pendek. Sekilas matanya menyiratkan penyesalan.


Riko hanya mendengkus kecil. Beginikah akhir hidupnya? Riko hanya tersenyum simpul. Dalam hati ia mengutuk Rangga, musuh bebuyutan yang kini sudah mengirim pembunuh ke apartemennya.


Detik berikutnya, tepat saat sang gadis assassin sudah mengangkat katarnya untuk dihujamkan ke tubuh Riko, sebuah ledakan terjadi di tempat itu. Riko terlempar beberapa meter ke belakang sambil terkena serpihan debu dan puing-puing tembok yang hancur.


Saat membuka mata, dinding ruangan kosongnya sudah separuh rubuh. Gadis berbaju serba hitam itu tergolek tak sadarkan diri dengan tubuh yang berasap, hangus.


“Lo nggak apa-apa? Sori, baru gue tinggal beli makan sebentar di luar, rupanya udah ada aja serangga masuk,” ucap Zein yang muncul dari balik kepulan debu.


Riko berdecak pelan sembari bangkit berdiri. “Kenapa nggak pesen online aja, sih,” gerutunya.


Zein meringis. “Biar hemat,” sahutnya tanpa rasa bersalah.