Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Jepang



Begitu keluar dari ruangan, teman-teman Riko sudah bermunculan dengan wajah cemas. Mereka mendengar keributan yang terjadi antara dirinya dan Rangga. Riko menjelaskan keadaannya secara cepat dan berkata bahwa ia harus segera kembali karena berniat untuk melanjutkan perbaikan skillnya yang dicuri sebelum terlambat. Zain, Mona, Rizal dan Gladys pun memutuskan untuk ikut bersama Riko dan membantunya.


Kelima orang itu pun akhirnya langsung berangkat kembali, berlayar meninggalkan pulau menuju bandara tempat mereka datang sebelumnya.


“Kunjungan ke Jepang bebas visa selama lima belas hari. Jadi pastikan urusan kita selesai sebelum dua minggu. Paspor kalian nanti bakal diantar sama anak guild ke Jakarta. Kamu udah info mereka, kan Zal?” tanya Mona memastikan. Kelimanya kini tengah menunggu di bandara Karel Sadsuitubun Langgur untuk terbang ke Jakarta dua jam lagi.


“Udah. Aku juga udah share alamat kalian masing-masing untuk ambil,” sahut Rizal bekerja dengan sigap.


“Oke. Bagus. Sekarang yang perlu kita pikirin adalah izin masuk ke dungeon itu,” ujar Mona sembari mengusap layar tabletnya untuk mengurus pengajuan akses dungeon luar negeri.


Riko, sementara itu, sibuk memikirkan quest yang harus dia kerjakan untuk memperbaiki skillnya. Masalah terus datang bertubi-tubi seakan tidak ada habisnya. Meski sudah mencapai posisi ini, segalanya selalu berada di luar kendalinya. Rasanya Riko sudah nyaris frustrasi.


Untungnya, setelah peristiwa-peristiwa penuh drama itu, segalanya berjalan dengan lancar. Kelima orang itu pun akhirnya berhasil tiba di bandara Fukuoka, Jepang, setelah melalui penerbangan selama lebih dari sepuluh jam. Mona mengurus segala akomodasi tim mereka dan segera melesat menuju sebuah alamat yang jauhnya sekitar dua jam perjalanan dari bandara.


“Kita harus ketemu sama Mr. Murasaki dulu. Dia adalah ketua Guild yang menaungi Dungeon Snow Island. Aku udah dapat izinnya, tapi dia katanya mau ketemu kita dulu,” terang Mona setelah mereka berlima berdempet-dempetan di dalam taksi sempit. Hanya Mona yang duduk di samping supir, sementara empat temannya yang lain harus berdesak-desakkan di kursi belakang.


“Ngomong-ngomong dia tertarik sama skillmu, Rik. Waktu aku bilang kamu adalah irregular dari Negara kita, dia tertarik pengen ketemu,” lanjut Mona menambahkan.


“Bukannya tiap wilayah server punya irregular masing-masing? Kenapa dia tertarik samaku?” tanya Riko menimpali.


“Kamu tahu, di Negara ini, persaingan antar player lebih parah. Mereka saling berebut untuk bisa jadi yang terkuat dan para irregular pun sampai saling bunih. Sekarang cuma tinggal ada beberapa irregular yang bertahan di sini,” terang Mona.


“Ngeri juga Negara ini,” celetuk Zain yang duduk dekat jendela. “Kita harus jagain Riko bener-bener berarti,” lanjut pemuda itu.


“Untuk sekarang, kayaknya belum ada yang tahu kalau seorang irregular dari luar negeri datang ke Negara ini. Tapi begitu kita masuk ke markas Guild Mr. Murakami, pergerakan kita pasti bakal diawasi sama player lainnya. Karena itu Mr. Murakami nawarin bantuan buat jaga kita selama di sini,” tukas Mona kemudian.


“Nggak ada yang gratis di dunia ini, Mon. Apa yang mereka minta sebagai gantinya?” sergah Riko tajam.


Mona terdiam sejenak. “Sorry, karena sembarangan kasih info tentang kemampuan mu, Rik. Tapi itu satu-satunya cara biar kita bisa dapat akses untuk masuk ke sini. Kamu bilang kamu perlu cepat selesaiin masalah itu,” ucap gadis itu penuh sesal.


“Nggak masalah, Mon. Kamu ngelakuin hal yang bener. Aku cuma perlu tahu permintaan orang itu sebagai ganti bantu kita,” tukas Riko kemudian.


“Kalau skillmu berhasil diperbaiki, dia minta dibuatkan senjata khusus. Mr. Murakami adalah salah satu irregular di kelas khusus. Dia seorang player Samurai, job spesial yang cuma ada di server Jepang,” ucap Mona kemudian.


“Kukira apa. Kalau itu doang nggak masalah, Mon,” tanggap RIko kemudian.


“Semoga aja. Guild ini terkenal serakah. Aku sebenarnya sedikit khawatir kalau dia nggak akan nglepasin kamu lagi setelah tujuannya tercapai,” gumam Mona cemas.


Riko terdiam sejenak. “Kita baru akan tahu kalau udah ketemu sama orangnya,” tukasnya pendek. “Ngomong-ngomong aku nggak bisa bahasa Jepang, lho,” tambah pemuda itu kemudian.


“Ada fitur penerjeman bahasa di sistem kita, Rik. Astaga kamu nih terlalu fokus sama skil nempa doang sampai-sampai nggak merhatiin yang lain.” Gladys menimpali.


“Oya? Baru tahu aku. gimana pakainya?” tanya Riko sembari membuka fitur sistemnya. Hologram biru berpendar terang di hadapannya, tetapi karena ia berada di ruang mobil yang sempit, hologram itu menembus kursi di depannya dan terpotong sedikit di bagian ujung bawahnya.


“Buka setting bahasa itu. Terus aktifin yang penerjemah otomatis. Nanti kamu secara otomatis bisa paham sama omongan orang asing. Dia juga bisa ngerti kamu lagi ngomong apa walaupun pakai bahasa Indonesia,” terang Gladys yang duduk di sampingnya. Gladys tidak bisa melihat hologram sistem Riko, karena itu gadis itu tidak bisa memastikan apakah Riko berhasil mengikuti panduannya atau tidak.


Beruntung Riko akhirnya bisa menemukan fitur yang dia cari. Rupanya semudah ini berkomunikasi dengan orang asing bila mendapat bantuan sistem.


Perjalanan panjang yang membuat badan pegal-pegal itu akhirnya usai. Kelima orang tersebut berhenti di sebuah rumah mewah bergaya arsitektur jepang kuno. Rumah itu dikelilingi pagar rendah dan memperlihatkan atap bangunan yang berhiaskan patung kepala naga. Sebuah taman nan asri dengan air mancur dari bambu menghiasi halaman rumah tersebut. pohon sakura yang berbunga merah jambu menambah indahya pemandangan rumah tersebut. Riko seperti sedang melihat lukisan Jepang yang sangat cantik.


Mona mengetuk pelan pintu kayu pagar rumah tersebut. Tak lama kemudian pintu tersebut terbuka dengan sendirinya. Kelima orang tersebut masuk satu persatu lantas berjalan menembus taman melalui setapak batu yang disusun dengan rapi.


Rumah itu memiliki banyak bangunan yang terpisah. Kolam ikan dengan bunga teratai memisahkan bangunan-bangunan tersebut dengan jembatan penghubung dari kayu. Di kejauhan, Riko melihat beberapa orang yang berjalan lalu lalang melewati lorong-lorong bangunann. Salah satu penjaga tersebut lantas menyadari kedatangan rombongan Riko dan lekas menghampiri mereka.


“Selamat datang ke Guild Kaguya. Apa ada yang bisa dibantu?” tanya orang itu terdengar ramah. Riko tidak menyangka kalau sambutannya akan sehangat ini. Apa si penjaga tahu siapa mereka?


“Kami memiliki janji temu dengan Mr. Murasaki,” jawab Mona.


Penjaga itu tampak mengamati kelima sosok manusia yang baru datang tersebut. penampilan mereka jelas tidak menunjukkan identitas yang mirip dengan orang Jepang.


“Apa kalian tamu dari Indonesia?” tebak penjaga tersebut.


Mona mengangguk. “Betul,” jawabnya pendek.


Ekspresi sang penjaga berubah datar. Ia pun segera memandu mereka untuk masuk ke dalam bangunan utama yang lokasinya tepat di hadapan mereka saat ini.