Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Mining Master



Sudah satu jam berlalu sejak tim pemburu masuk ke dalam dungeon. Riko dan belasan tim pembersih masih menunggu di depan celah dimensi sambil saling mengobrol. Riko berkenalan dengan para blacksmith yang lain dan memang benar kata-kata Tera kemarin. Kebanyakan blacksmith memang berada di level F karena skill tempur mereka yang lebih sedikit dibanding job yang lain. Bahkan para priest seperti Sita memiliki level yang jauh lebih tinggi dari mereka karena kemampuan support mereka yang luar biasa. Riko bertanya-tanya apakah Sita juga mendaftar sebagai player mengingat gadis itu sebenarnya sudah memiliki pekerjaan lain yang menjanjikan. Namun Riko tidak berusaha menghubunginya lagi karena Sita sepertinya sudah muak padanya.


Suasana hatinya yang buruk juga diperparah oleh pertemuannya dengan Rangga. Setahu Riko, pemuda itu juga sebenarnya sudah lama lulus kuliah dan bekerja di kantor yang sama dengan Sita. Akan tetapi Rangga sepertinya memilih untuk menjadi player alih-alih melanjutkan pekerjaan lamanya. Mungkin karena pendapatannya jauh lebih tinggi sebagai tim pemburu. Sampai hari ini Rangga masih berusaha mendekati Sita sekalipun tahu bahwa gadis itu sudah lima tahun berpacaran dengan Riko. Apa yang terjadi pada hubungan mereka setelah Rangga mengetahui Sita sudah putus dengannya. Riko tidak ingin memikirkannya daripada hatinya semakin terluka.


Tak berapa lama kemudian, celah dimensi itu berubah warna. Dari gelap menjadi ungu muda bersemburat merah. Riko awalnya tidak mengerti tentang perubahan tersebut. Namun setelah Tera menginstruksikan para blacksmith untuk bersiap-siap, Riko mengerti kalau tugas tim pemburu sudah selesai. Seluruh monster dungeon itu sudah habis dibasmi.


Riko sudah berdiri dengan palu besar di tangannya ketika akhirnya kelima player dari tim pemburu keluar, termasuk Rangga. Mereka tampak lelah, tetapi wajah mereka menyiratkan kebanggaan. Kedatangan mereka disambut sorak sorai orang-orang di tempat itu seolah mereka adalah pahlawan pembasmi kejahatan. Nama mereka dielu-elukan karena keberhasilan melawan para monster. Riko sedikit iri melihatnya. Terutama ketika mendapati Rangga menatapnya penuh ejekan. Emosi Riko rasanya seperti naik hingga ke ubun-ubun.


Walaupun begitu, Tera segera menyuruh semua anggota tim pembersih untuk segera masuk ke dalam dungeon. Mereka hanya punya waktu tiga puluh menit untuk mengambil seluruh material yang ada di dalam sana. Selebihnya, portal dimensi itu akan tertutup selamanya dan siapa pun yang terjebak di dalamnya tidak akan bisa keluar lagi. Karena itu Riko mengabaikan ejekan Rangga yang seolah melihatnya sebagai manusia tak berguna. Riko memasuki dungeon tanpa menoleh lagi.


“Whoa … ,”desah Riko takjub saat melihat ke dalam dungeon.


Tempat itu memiliki aura yang berbeda. Rasanya kekuatannya sedikit bertambah sejak masuk ke dalam dungeon. Pemandangan hutan dengan pepohonan pinus menyambut Riko dan rekan-rekan blacksmithnya. Meskipun hutan itu sudah rusak parah akibat pertarungan para tim pemburu dengan monster, tetapi nuansa asri masih tersisa. Pepohonan yang tumbang di berbagai tempat serta tanah-tanah yang berlubang justru membuat pemandangan terlihat semakin epik. Riko merasa seperti masuk ke dunia lain, tempat film film kolosal semacam Lord of The Rings.


“Ayo cepat kerja, Nak. Jangan kelamaan bengong,” tegur Tera sembari menepuk punggung Riko yang masih terkesima.


Riko mengangguk paham lantas berjalan mencari Kristal terdekat yang belum dikerjakan oleh orang lain. Ia pun menemukan sebongkah Kristal besar setinggi lima meter yang menjulang di tengah hutan itu. Dengan kekuatan penuh, Riko pun menambang Kristal manna berwarna hijau terang tersebut sekuat tenaga.


Palunya berdenting setiap mengenai Kristal itu dan memecahnya menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil. Dalam sekali pukul, Riko berhasil menghancurkan nyaris separuh Kristal itu dengan cepat. Seorang blacksmith lain datang membawa gerobak sorong besar berwarna merah. Dengan cepat blacksmith itu memunguti Kristal-kristal hasil tambang Riko ke dalam gerobak dan membawanya keluar secara bertahap.


“Kamu cepet banget hancurin Kristal. Gila ini luar biasa sih. Kalau dengan kemampuanmu itu mungkin lima belas menit aja udah kelar buat nambang semua Kristal di sini,” komentar blacksmith muda yang sepertinya berusia sepantaran dengan Riko.


“Oh, makasih,” jawab Riko singkat.


“Kamu udah masuk berapa dungeon sampe bisa punya kecepatan nambang sebesar itu? Kalau boleh tahu brapa banyak skill point nambangmu?” tanya pemuda itu lagi masih terlihat penasaran.


“Oh, nggak banyak kok, cuma seribu kalau nggak salah?”


“Eh … itu … aku juga baru pertama ini masuk dungeon. Selebihnya aku nambah skill point di ruang latihan bersama di akademi,” jawab Riko apa adanya.


Pemuda itu justru terlihat semakin terkejut. Diletakkannya kereta dorong yang tengah dia bawa, lantas mendekati Riko dengan ekspresi serius.


“Jangan bohong lah. Mau seminggu kamu berlatih di akademi pun jelas skill point mu nggak bakal nambah sedrastis itu. Semua blacksmith juga tahu kalau latihan nambang pakai Kristal palsu itu cuma bisa ningkatin skill poin mentok sampai 100 aja. Mana mungkin bisa sampai seribu? Ngaku aja kamu udah kerjain berapa dungeon selama ini? Skill point terbanyak didapet kalau kamu nambang Kristal beneran,” kata pemuda itu dengan suara rendah.


Riko yang kebingungan hanya bisa melangkah mundur karena risih dengan wajah pemuda itu yang kini sudah berada terlalu dekat dengannya.


“Serius aku nggak bohong. Aku malah baru tahu kalau di ruang latihan cuma bisa ningkatin level nambang sampai seratus poin doang,” sahut Riko tak mengerti.


Pemuda itu berdecih kesal. “Huh, yaudah kalau kamu nggak mau kasih tahu. Cuma informasi dungeon aja pelit. Sok-sokan rendah hati,” gerutu sang pemuda lantas melenggang pergi sambil membawa kereta dorong merahnya.


Riko memperhatikan kepergian pemuda yang bersungut-sungut itu. Ia benar-benar tidak tahu kalau ada aturan itu. Lantas bagaiana ia bisa mendapat skill point menambang hingga setinggi itu di ruang latihan. Apakah itu karena ia memiliki tingkat keberuntungan yang tinggi? Beragam pertanyaan pada akhirnya tidak dapat terjawab. Riko memutuskan untuk kembali menambang dan mecoba mendapatkan lebih banyak Kristal. Bahkan kalau bisa dia ingin mengambil beberapa Kristal tambahan untuk dirinya sendiri. Tentu saja tanpa sepengetahuan Tera.


Harus diakui, skill point menambangnya memang sepertinya yang tertinggi di antara para blacksmith lain. Mereka perlu setidaknya sepuluh hingga lima belas pukulan untuk menyelesaikan satu Kristal berukuran sama dengan yang dikerjakan Riko. Namun Riko hanya perlu memukulnya dua kali.


Mendadak sebuah notifikasi sistem muncul di hadapan Riko, membuat pemuda itu sedikit terkejut karena hologram berpendar kebiruan itu muncul tanpa aba-aba.


Selamat, Anda sudah membuka tittle baru sebagai “Mining Master”. Tittle ini akan membuat Anda mendapat ekstra Kristal sebanyak 10% dari jumlah yang sudah ditambang. Kristal ekstra itu akan langsung masuk ke dalam inventory Anda. Player bisa melihat total jumlah Kristal tambahan pada fitur inventory.


Begitu bunyi sistem yang tertera di layar hologram. Riko rasanya ingin melonjak kegirangan. Tidak sia-sia ia berlatih sampai malam. Kalau Kristal tambahan itu otomatis masuk dalam inventorynya, berarti Riko tidak perlu menyerahkan Kristal-kristal tersebut kepada pemerintah. Padahal dia sudah berniat mengambil beberapa Kristal secara diam-diam. Namun kini rencana ilegalnya tidak perlu dilakukan.


Riko pun kembali menambang dengan lebih bersemangat. Setiap pukulannya menghasilkan 10% tambahan Kristal yang dikonfirmasi melalui notifikasi sistem yang muncul secara berkala di depannya. Rasanya Riko semakin serakah menambang hingga tanpa sadar ia pun terpisah dari rombongannya.