Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Waktu Menyenangkan



Riko mengeluarkan sebuah item legendaries dari inventorynya, Dragon Heart. Material ini dia dapatkan saat menyelesaikan dungeon kawah merapi bersama rekan-rekannya. Benda itu akan menjadi inti dari sebuah senjata legendaries untuk kelas swordsman: Dragon King Sword. Riko membuat senjata ini untuk Jaka, setelah sebelumnya sudah membuat empat senjata lain untuk Mona, Zein, Gladys dan Rizal. Namun tidak ada yang seistimewa milik Jaka ini.


Saat dikeluarkan dari inventory, Dragon Heart sebesar lemari cabinet susun lima itu masih tampak berdegup. Ia bergerak-gerak dengan ritme yang tetap sambil sesekali menyemburkan darah dari pembuluh yang terpotong.


Riko memasukkan item tersebut ke dalam wadah besar untuk dilelehkan dengan tungku. Proses tersebut tidak memakan waktu lama karena Dragon Heart pada dasarnya bukan material keras. Setelah itu Riko kembali membaca resep pembuatan Dragon King Sword-nya yang dia dapat dari pasar lelang dengan harga cukup fantastis.


Dragon King Sword (crafting material)


Material Requires:


50 Mercury


25 Black Mica


10 Iron


5 Garlet


1 Dragon Heart


Biaya pembuatan: 56.739 Moonstone


Selain Dragon Heart, material lain cukup mudah didapatkan dari toko sistem. Pada dasarnya senjata kelas swordsman memang tidak terlalu rumit pembuatannya. Selain materialnya yang sederhana, cara pembuatannya juga relative cepat. Selain barang legendaries yang membutuhkan item khusus dari monster langka, sisanya mudah didapat.


Tubuh Riko yang dulu jangkung, cenderung kurus, kini sudah berisi. Otot-otot litany terlihat menawan meski bersimbah peluh. Alih-alih, penampilan Riko justru semakin memikat karena pemuda itu fokus menempa dengan tubuh yang begitu kuat. Pemandangan itu membuat konsentrasi Sita beberapa kali terpecah. Gadis itu nyaris tidak bisa menemukan pemuda yang dulu terlihat cupu. Riko yang sekarang benar-benar sudah berubah. Lebih punya antusiasme yang menggelora.


Setelah pedang dibentuk dan didinginkan, akhirnya masterpiece buatan Riko pun selesai dikerjakan. Dengan bangga pemuda itu mengangkat karya barunya ke udara. Sembari membasuh peluk, ia mengamati pedang besar dengan dua mata berkilau itu. Sentuhan mithril selalu Riko tambahkan dalam semua karya buatannya. Karena itu pedang tersebut pun menjadi terasa ringan saat diangkat. Padahal Dragon King Swords merupakan pedang dua tangan yang besar dan panjang.


Beberapa batu permata ditatahkan Riko pada ujung pegangan pedang tersebut. Riko tersenyum puas lantas melempar pandangan ke arah Sita.


“Gimana menurutmu?” tanya pemuda itu dengan senyum terkembang bangga.


Sita balas tersenyum lembut. Dia menyandarkan dagunya ke telapak tangan yang bertumpu pada meja kayu. “Kamu keren banget, Rik. Aku ngerti sekarang kenapa kamu milih kerjaan ini,” ungkap gadis itu tulus.


Riko tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Rasanya inilah kalimat yang ingin dia dengar dari Sita sejak lama. Sebuah pengakuan, pengertian dan penerimaan. Itu saja sudah cukup bagi Riko.


“Makasih, Sit,” sahut Riko sembari berjalan ke arah Sita. “Kamu pasti juga capek. Maaf karena ngerepotin kamu terus,” lanjutnya lantas duduk di sebelah gadis itu.


Sita menggeleng. “Aku menikmati waktuku di sini. Bengkelmu nyaman juga. Terus ngelihat kamu kerja keras nempa senjata juga … menyenangkan,” jawab gadis itu sedikit tersipu.


Riko mendengkus pelan lalu tertawa kecil. “Kamu jatuh cinta lagi, ya samaku?” godanya usil.


Wajah Sita semakin memerah. Gadis itu memukul Riko dengan pelan sambil mengomel malu-malu. “Udah jangan nggodain, deh. Ini udah kelar juga revision skripsimu. Besok tinggal kumpulin,” tukasnya mengalihkan pembicaraan.


Riko hanya tertawa menanggapi. Ia benar-benar menikmati waktunya bersama Sita akhir-akhir ini, tanpa menyadari bahwa masalah sudah menantinya setelah ini.