
Kekhawatiran Riko rupanya sia-sia. Sebilah pedang besar tiba-tiba menyeruak di antara kerumunan monster. Jaka muncul de ngan dramatis bak superhero di film-film. Seluruh tubuhnya penuh luka dan yang paling menonjol adalah separuh wajahnya yang sudah memerah, bekas tamparan Riko menggunakan kapak. Selain itu, Jaka terlihat baik-baik saja.
“Makasih, Mas Rik, udah disadarin. Walaupun caranya agak brutal,” ujar Jaka nyengir.
Ekspresi wajah Jaka semakin membuatnya terlihat mengerikan. Riko sedikit merasa bersalah tetapi memutuskan untuk tidak berkata apa-apa. Kini ia dan Jaka sudah berdiri saling memunggungi. Mereka menyerang monster-monster bersayap hitam itu dari segala arah.
“Jak, provoke semua monster ke sini. Tapi jangan bengong lagi. Masak sama cewek setan juga napsu,” ujar Riko setengah berteriak.
Jaka meringis malu. “Iya, maaf, Mas Rik. Habis bodynya … .”
“Udah provoke aja sekarang, buru!” potong Riko memberi perintah. Ia tidak berselera mendengar alasan Jaka yang mudah tergoda perempuan itu.
“Oh, ya. Oke oke. Provoke!” teriak Jaka menyerukan skillnya untuk memancing semua monster mendekat.
Dengan cara ini, Riko bisa memberi kesempatan pada para penyihir, Zein dan mungkin Mona, untuk bisa merapal mantra dan melakukan serangan berdamage besar. Ia juga berharap agar Rizal segera sadar. Buff mereka sudah habis dari tadi.
Kini semua monster berjubel menyerang Riko dan Jaka. Kondisi tersebut sedikit membantu mereka berdua untuk bisa membunuh lebih banyak monster dalam satu tebasan. Sayang kekuatan serangan Jaka itu kecil jika dibandingkan dengan poin pertahanannya.
Karena itu Jaka terpaksa menerima beberapa luka dari monster-monster yang gagal dibunuhnya dalam sekali serangan. Beruntung pertahanan swordsman itu tinggi sehingga luka-luka tersebut tidak terlalu mempengaruhi kondisi fisik Jaka.
Beberapa menit kemudian, lingkaran sihir di bawah kaki Riko dan Jaka kembali bersinar. Status poin Riko pun turut meningkat pesat dan luka-lukanya sembuh begitu saja. Riko menyeringai puas. Itu tandanya Rizal sudah kembali sadar. Priest itu mengirimkan buff-buffnya juga menyembuhkan seluruh anggota tim dengan skill.
Sekarang, setelah mendapat tambahan kekuatan, Riko menjadi semakin brutal menghabisi Succubus dan Incubus tersebut. Jangkauan energi kapaknya semakin luas dan membuat pemuda itu bisa membunuh lebih banyak monster.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, ledakan-ledakan hebat terdengar sangat keras hingga mengguncang tanah. Zein mulai beraksi dan membunuh ratusan monster dalam satu kali serangan. Dengan cepat, jumlah monster yang sudah mereka habisi pun segera bertambah. Jumlah monster succubus dan incubus semakin surut hingga akhirnya habis sama sekali. Tim Forging Master berhasil membasmi sepuluh ribu monster yang ada di dalam dungeon tersebut.
Sembari terengah-engah, Riko pun berjalan ke arah teman-temannya yang lain. Meski lelah, tetapi ia merasa sangat bersemangat. Kerja sama tim mereka cukup baik meski baru dua kali memasuki dungeon bersama-sama. Pada titik ini, Riko merasa guild buatannya ini cukup menjanjikan di masa depan.
“Sebenernya apa sih gunanya lo ikut ke sini?” Nada tinggi Zein menyambut Riko begitu sudah berada cukup dekat dengan rekan setimnya itu.
Zein tampak kesal. Ia menatap ke arah Mona dengan wajah garang. Di sisi lain, Mona sama sekali tidak menanggapi kemarahan Zein. Gadis itu hanya berdiri diam sembari melihat kuku-kuku jarinya yang sudah dihias dengan nail art warna hitam merah. Seperti kepik. Rizal berada di tengah-tengah mereka berdua, tampak kebingungan sembari memeluk mace emasnya.
“Kenapa, Zein?” tanya Riko kemudian.
Zein menoleh dan baru menyadari kalau Riko dan Jaka sudah berada di dekatnya. Tanpa basa basi, pemuda penyihir itu langsung mengadu pada Riko.
“Emang ada patung Soekarno, Mas Zein?” celetuk Jaka tanpa bisa membaca situasi.
“Eh, nggak tahu. Gue juga cuma ngasal … . Nggak, tunggu. Bukan itu poinnya. Intinya cewek ini nggak bantu apa-apa selama raid tadi. Gue suruh bangunin si Rizal juga diem aja, kaku. Udah kayak bonggol pohon pisang mau ditebang. Pasrah,” gerutu Zein tanpa henti.
“Kenapa nggak pocongnya sekalian, Mas? Kan banyak tuh di pohon pisang. Sama-sama kaku.” Jaka kembali berkomentar tidak pada tempatnya.
“Pocong bisa terbang Jak. Bisa ketawa juga kalau pas gabut,” timpal Zein yang meski kesal tapi tetap menanggapi.
“Jancuk, serem, Mas Zein. Pocong meringis.”
Riko akhirnya melirik Jaka dengan ekspresi membunuh. Jaka pun kicep, membuat gestur menutup mulut lantas diam tak berkomentar lagi.
“Sebentar. Jelasin pelan-pelan. Jadi selama raid tadi Mona nggak bantu ngelawan monsternya?” tanya Riko memastikan.
“Iya, Rik. Diem aja dia. Cuma ngindar-ngindar biasa kalau pas mau kena serangan. Ngapain coba dia ikut ke sini kalau nggak mau bantu kita? Jadi pengawas? Dosen lu? Ngawasin ujian?” sembur Zein sembari melotot ke arah Mona. Yang dipelototi masih asyik mengamati nail artnya yang panjang dan berkilau.
Riko menghela napas. Baru tadi ia merasa timnya adalah yang terbaik. Kini datang masalah tanpa diduga-duga. Meski Mona bukan anggota Guild mereka, tapi rasa kesal Zein sepertinya tidak main-main.
“Jadi kenapa kamu nggak ikut nyerang?” tanya Riko baik-baik.
Mona akhirnya mendongak dari kuku-kuku jarinya lantas menatap lurus ke arah Riko. “Tugasku cuma ngalahin bos monsternya. Kalau cuma kroco-kroco kayak tadi masak aku harus turun tangan juga,” sahutnya tak acuh.
Tali kesabaran Zein sepertinya sudah putus. Pemuda itu langsung melontarkan sumpah serapah beserta kutukan sembari menunjuk-nunjuk ke arah Mona. Rasanya telinga Riko bisa berdarah jika terus mendengarkan umpatan Zein yang luar biasa lengkap. Seluruh kata-kata kotor hingga penghuni kebun binatang pun terlontar dengan enteng dari mulut pemuda itu.
“Yaudah. Sekarang toh udah kelar raid pertamanya. Kita fokus sama Fallen Angel aja. Mona juga pasti punya pertimbangan sendiri. Setidaknya ada salah satu dari kita yang energinya masih penuh untuk melawan bos monster,” kata Riko berusaha memotong kata-kata kasar Zein.
Meski masih bersungut-sungut, akhirnya Zein pun menurut. Ia berjalan menjauhi Mona seolah gadis itu adalah virus yang menular.
“Nggak apa-apa itu, Rik, dibiarin pergi marah-marah gitu?” tany Rizal khawatir.
“Ya biarin dulu aja. Biar tenang. Nanti kalau bos monsternya udah mau keluar juga dia dateng. Tugasnya kan buat ngelindungin priest. Jadi nggak bakal dia jauh-jauh dari kamu,” ucap Riko berusaha menenangkan. Ia berasumsi Rizal khawatir karena Zein yang biasanya menempel padanya selama melawan monster sekarang justru pergi menjauh.
“Nggak, bukan gitu maksudku, Rik,” desah Rizal sembari menghela napas. “Yaudahlah.”