Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Balistik



Mona mengajak Riko untuk menemui Abyasa dan Kemala. Dua ketua guild urutan ketiga dan keempat dalam rangking terbaru. Sebelum menemui mereka berdua, Gamaliel sudah lebih dulu berpesan agar Riko berhati-hati dengan dua orang tersebut. Bahkan Rhea yang bisa membaca pikiran pun merasa bahwa ada yang disembunyikan oleh mereka.


Meski begitu, sebagai tuan rumah yang baik, Riko tetap harus menemui mereka cepat atau lambat. Ia tidak bisa menyia-nyiakan potensi bisnis yang akan datang, sekali pun kedua guild tersebut cenderung memihak Silverdeath. Siapa tahu Riko bisa menariknya ke kubunya dengan tawaran bisnis yang menjanjikan.


“Terima kasih sudah berkenan hadir di acara sederhana ini,” sambut Riko menyapa kedua tamu pentingnya itu.


Abyasa, pemuda tinggi dengan tubuh ramping khas para pemanah tersenyum tipis menanggapi. Sementara rekannya, Kemala, hanya mengangguk sopan.


“Terima kasih sudah mengundang kami.” Akhirnya Abyaksa menjawab.


“Tentu saja. Kalian adalah tamu yang penting bagi guild baru seperti kami.” Riko melanjutkan pembicaraan basa-basi itu.


Abyaksa tampak berdeham pelan, memberi kode pada rekan wanitanya untuk ikut bercakap-cakap. Kemala menerima sinyal itu lantas mulai bertanya, langsung pada intinya.


“Saya mendengar kemampuan Anda dalam membuat senjata sangat hebat. Ares dan Corsage sepertinya sudah menjadi klien Anda. Apakah kami juga bisa mendapat kesempatan yang sama?” tanya Kemala terus terang. Gadis dengan potongan rambut bob dan kacamata tebal itu sepertinya tidak terlalu suka pembicaraan remeh yang bertele-tele.


Sejujurnya Riko juga cenderung lebih nyaman berbicara tanpa berputar-putar. Karenanya ia pun segera menanggapi pertanyaan itu dengan lugas.


Abyaksa dan Kemala saling berpandangan sejenak. Keduanya tampak saling setuju pada satu pendapat yang sama.


“Ada satu benda yang kami butuhkan. Tapi aku tidak yakin apakah senjata itu bisa dibuat karena bahan-bahannya yang cukup sulit didapat. Tapi kabarnya guild Anda berhasil mengambil alih dungeon Parangkusumo. Bos monster di tempat itu terkadang bisa mengeluarkan material langka untuk bahan utama senjata ini. Meski bahan itu tidak selalu ada di tubuh monster itu,” terang Abyaksa panjang lebar.


Riko mengernyitkan dahi dengan penasaran. Apa kiranya senjata yang sulit dibuat olehnya? Sepanjang ada resep, Riko bisa membuat apa pun. “Memangnya senjata apa yang mau dibuat?” tanya pemuda itu kemudian.


“Rudal Balistik,” jawab Kemala enteng.


Sontak Riko menahan napas. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Kemala. Itu senjata yang ada di dunia nyata juga. Sebuah rudal penghancur dengan lintasan balistik dengan peluru kendali yang terbang dalam ketinggian sub-orbit. Satu tembakannya saja bisa menghancurkan sebuah kota. Jadi untuk apa sebuah guild player ingin membuat senjata berbahaya tersebut? Bahkan jika senjata itu digunakan di dalam dungeon, Riko tidak yakin kalau player di dalamnya bisa selamat.


“Kalian mau membuat benda itu? Untuk apa kalau boleh tahu?” tanya Riko masih tidak yakin.


Kemala mendengkus pendek. “Serius Anda tidak tahu? Tentu saja untuk guild war. Pertarungan itu akan diadakan di sebuah pulau di perairan Maluku. Guild kami bisa langsung menang kalau menggunakan senjata itu,” ujarnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Mendengar jawaban itu, Riko hanya bisa menyimpulkan satu hal: ada yang tidak beres pada gadis Alkemis itu.