Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Salamander Api



Gerombolan Salamander api raksasa menyerbu Riko dan timnya. Riko mengayunkan kapaknya ke segala arah dan berhasil memotong bagian-bagian tubuh salamander itu. Jaka melakukan perannya dengan baik sebagai tank. Meski berada di level B, akan tetapi tingkat pertahanan Jaka cukup tinggi. Jaka tidak mudah terluka dan bisa menahan beberapa kali serangan.


Di kejauhan, anak-anak panah melesat dari Gladys. Sementara Zein merapal banyak mantra dan melemparkan bola-bola energi yang menghancurkan para monster. Tanah berlubang sebesar kawah setiap kali bola cahaya Zein meledak.


Selama beberapa saat, pertarungan itu seperti sudah dikuasai oleh tim Riko. Para monster salamander berhasil dibasmi dengan cepat. Sayangnya keadaan tersebut tidak berlangsung lama. Selang beberapa detik setelah dibunuh, monster-monster itu rupanya bisa hidup kembali! Mereka meregenerasi tubuh mereka dan menjadi individu baru dari potongan kecil sekalipun. Seperti cacing planaria, yang alih-alih mati ketika tubuhnya terpotong, tapi justru menjadi lebih banyak.


Riko menyadari bahwa para monster itu benar-benar tidak ada habisnya. Staminanya sudah mulai menipis, begitu juga para anggota timnya yang lain.


“Ini nggak ada habisnya!” seru Jaka kelelahan.


Rapalan matra Zein juga sudah berjeda semakin lama. Tampaknya energi sihir warlock itu semakin menipis. Riko harus mencari cara. Kalau begini terus, kelompoknya bisa berada dalam bahaya.


Ia mengamati lagi para monster yang sudah dikalahkan. Satu-satunya cara agar monster-monster itu mati sepenuhnya adalah dengan membakarnya hingga tak bersisa. Riko bisa melihat bahwa hanya kekuatan ledakan Zein saja yang bisa membumihanguskan monster salamander itu hingga lenyap tak bersisa. Sayangnya, ia mungkin tidak bisa memaksakan kekuatan Zein untuk mengalahkan ribuan monster itu sendirian.


Saat Riko tengah berpikir, tiba-tiba di bawah medan pertempuran sengit itu, muncul sebuah cahaya berbentuk arloji beserta gir-gir pemutarnya. Angka-angka romawi menjadi penunjuk waktu yang bersinar keemasan di bawah kaki Riko serta teman-temannya.


“Apa ini … ,” celetuk Riko heran.


Detik berikutnya, seluruh gerakan salamander berhenti serentak. Semua monster seperti dibekukan hingga tidak bergerak sama sekali. Bahkan ada salamander yang sedang melompat di udara pun turut melayang kaku. Hanya para player yang bisa bergerak di bawah lambang arloji itu.


“Heh! Kenapa ini?” seru Jaka yang juga kebingungan mengayunkan pedang besarnya.


“Aku pakai skill Time Froze buat berhentiin waktu selama sepuluh menit. Magic pointku udah mau habis, nggak bisa keluarin skill lagi. Kita semua juga udah kecapekan, kehabisan energi. Sebaiknya kita istirahat dulu baru dilanjutin,” kata Zein yang menyeruak muncul di antara tubuh-tubuh monster yang kaku.


“Ayo isi tenaga dulu,” kata Riko kemudian.


Pemuda itu lantas membuaka fitur toko di sistem. Dengan cepat ia membeli beberapa energy potion yang berguna untuk mengembalikan staminanya. Para pemain lain juga melakukan yang sama. Zein bahkan meminum banyak magic potion berwarna biru untuk menambah magic pointnya.


Armor dan senjata Riko ternyata sudah tercarut-marut karena serangan monster salamander. Riko ingin memperbaiki equipmentnya, tetapi mungkin waktu sepuluh menit terlalu singkat. Akhirnya pemuda itu hanya mengambil beberapa Kristal dari inventory, lantas menempanya untuk seluruh equipmentnya hingga +10. Semua armornya berkilau seperti baru sekarang. Seluruh poin statusnya bertambah hingga dua kali lipat.


“Gila! Kamu ngeplusin equipment itu nggak pake meja tempa? Langsung nyatuin Kristal sama barangnya aja? Dan nggak ada gagal sama sekali? Kamu yakin blacksmith level F?” Zein tiba-tiba tertarik setelah melihat aksi Riko.


“Waktu terakhir dicek sih katanya aku level F,” sahut Riko yang masih menyembunyikan fakta bahwa dirinya adalah irregular. Ia juga tidak ingin terlihat sombong.


“Anjrit. Kemampuanmu kalau buat nempa senjata sama equipmentku bisa ningkatin damage gede banget. Cast skillku juga bisa lebih cepet,” puji Zein masih terkagum-kagum.


Riko tersenyum simpul. Mungkin tidak akan sulit merekrut warlock kuat ini. “Gampang itu. Nanti kita bahas abis kelar dungeon. Bisa diatur,” ucap Riko penuh perhitungan.


Zein mengangguk antusias. “Oke, siap. Waktunya tinggal lima menit lagi ini. Priest, kamu nggak mau nge-buff kita lagi sebelum mulai?”


“Oh iya, bener. Aku buff lagi ya,” ucap Rizal tergagap. Tak berapa lama kemudian, Rizal pun kembai melontarkan skill-skill buffnya pada seluruh anggota tim.


“Sambil kita nunggu, kita bahas strateginya. Nggak akan efektif kalau kita nyerang membabi buta. Karena salamandernya cuma bisa dihancurin pakai sihir Zein, lebih baik aku dan Jaka bantu mancing monsternya ke area yang sama aja. Jaka yang pakai senjata pedang dan juga aku yang pakai kapak, kami usahakan biar nggak motong-motong tubuh monster. Jadi peran pentingnya di kamu Zein. Kamu siap?” tanya Riko sebagai ketua kelompok.


Zein mengangguk mantap. “Oke,” sahut pemuda itu cepat.