Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Pekerjaan Pertama



Setelah menghabiskan semalaman suntuk minum-minum dengan rekan-rekan barunya, Riko kini harus terbangun dengan kepala berat. Rasanya seperti habis dikeroyok preman satu kampung. Seluruh badannya terasa berat dan perutnya mual. Terlalu banyak minum minuman keras memang tidak baik untuk kesehatan.


Riko melirik jam di ponselnya. Pukul setengah sepuluh pagi. Rupanya ia bangun relatif pagi. Setelah mengumpulkan nyawa selama beberapa saat, pemuda itu lantas bangkit dari tempat tidur dan berjalan gontai keluar kamar.


Begitu melihat ruang tamu apartemennya, Riko segera menghela napas lelah. Ruangan itu benar-benar menceminkan sebuah kekacauan. Botol-botol bir berserakan, lengkap dengan plastik bungkus camilan mereka yang sangat banyak. Puntung rokok memenuhi asbak-asbak hingga abunya terserak di mana-mana.


“Ini apartemen apa burjo,” keluh Riko sembari memijat keningnya karena pusing menyaksikan rumahnya yang sudah sangat berantakan.


Belum lagi tubuh-tubuh terkapar Rizal dan Jaka yang juga tergeletak begitu saja di sofa ruang tamunya yang masih baru. Keempat temannya itu memang menginap semalam karena sudah terlalu mabuk untuk berkendara.


Hanya Zein dan Gladys yang masih bisa berjalan ke kamar tamu yang ada di seberang ruangan. Mereka berdua masing-masing menempati kamar yang berbeda.


Riko mendesis malas. “Bisa gila … ,” gumamnya sembari menggoyang tubuh Rizal dengan kakinya. “Zal, woi, zal. Bangun. Mau beberes, nih,” ujar RIko terus menendang-nendang pelan tubuh lunglai itu.


Rizal hanya mengerang pelan dan menggerakkan tubuhnya semakin meringkuk di atas sofa. Riko pun menyerah dan beralih pada Jaka.


“Jak, bangun. Beresin dulu. Sana pindah ke kamar kalau masih ngantuk,” ujar RIko sembari menggoyang tubuh Rizal.


“Mabuk berat mereka itu.” Suara celetukan Gladys terdengar dari balik punggung Riko.


Pemuda itu pun menoleh dan mendapati gadis muda itu muncul dari kamar mandi dengan rambut basah dan kaus oversized sepanjang paha, tanpa celana. Sontak Riko terkesiap melihat penampilan Gladys itu. Biasanya Gladys berpenampilan tomboy dengan riasan yang bold. Kini Gladys terlihat lebih polos dan manis ketika sehabis mandi.


“Heh, kamu nggak pake celana?” celetuk Riko yang otomatis berkomentar seperti itu.


Wajah Gladys segera bersemu merah. Ia mengangkat ujung kaosnya yang menampakkan celana jeans super pendek yang dia pakai. “Pake hot pants ya! Hot pants!” seru gadis itu marah-marah. Sambil bersungut-sungut Gladys pun kembali ke kamar tamu yang dia tempati tadi.


Riko hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. “Udah kayak rumah sendiri, ya, mereka ini. Ck ck … ,” gumamnya sembari menggaruk-garuk perutnya yang tidak gatal.


 


Satu setengah jam kemudian, akhirnya semua orang di rumah Riko itu berhasil diusir pulang. Riko juga sudah membereskan rumahnya sambil dibantu oleh Gladys. Para pria pemabuk lainnya tidak bisa diandalkan dalam hal semacam itu.


Tepat pukul sebelas siang, apartemen Riko sudah kembali pada keadaan semulanya. Riko merebah lelah di sofa ruang tamunya sembari memilih menu makanan yang akan dia pesan secara online. Namun, baru saja dia duduk, bel apartemennya kembali berbunyi.


Sekali lagi RIko mendesah lelah. “Apa lagi yang ketinggalan. Dasar anak-anak itu,” gumamnya sembari terpaksa berjalan ke arah pintu apartemennya.


“Rhea?” tanya Riko tak menyangka kedatangan tiba-tiba gadis itu.


“Katanya kamu pindah rumah. Jadi aku mampir sekalian bawa makan siang. Udah makan?” Rhea balas bertanya sembari mengangkat satu plastik besar berisi dua set makanan Jepang dari restoran terkenal. Riko mengenali logo yang ada di plastiknya.


Dengan curiga pemuda itu pun menatap gadis berpenutup mata yang berdiri di hadapannya. “Kamu … baca pikiranku dari jauh, ya? Kok tahu aku pindah? Terus pas banget aku juga lagi mau pesen makan? Gila. Sampai mana radius kekuatanmu sebenarnya,” tukas Riko merinding.


Rhea tertawa terpingkal-pingkal mendengar omelan Riko tersebut. “Imajinasimu liar banget, Riko. Aku tahu kamu pindah dari asosiasi. Kan kamu daftarin alamat guildmu di apartemen ini. Terus karena udah mau dekat jam makan siang, jadi aku pikir pas juga kalau sekalian kubawain. Daripada aku bawa buah-buahan atau bunga, pasti nggak berguna juga buatmu. Biarpun udah tinggal di apartemen mewah, kamu kan tetap mantan anak kos. Pasti pikirannya simple,” kelakar gadis itu.


Riko berdecak pelan. Sekali lagi Rhea bisa memahaminya tanpa ia perlu banyak menjelaskan. “Yaudah ayo masuk ke dalam dulu. Kamu bawa makanan dari Ho*a-Ho*a Bento ya? Kok tahu aku mau pesen itu? Yakin kamu nggak baca pikiranku?” desak Riko setengah bercanda, sambil membukakan pintu apartemennya lebih lebar dan memberi jalan bagi Rhea untuk masuk.


“Sumpah, ya, Riko. Mentang-mentang udah jadi ketua guild, kamu sekarang tambah ngeselin. Pikirannya buruk aja sama aku,” gerutu Rhea sembari melangkah masuk.


Riko tertawa pelan menanggapi. “Nggak. Aku cuma bercanda.”


Riko membawa Rhea ke ruang makan yang berseberangan dengan ruang tamu. Ia menyiapkan air minum sementara Rhea membuka bungkusan masakan Jepangnya di meja.


“Jadi, kamu ke sini beneran cuma buat ngucapin selamat,” tanya Riko sembari menyodorkan air minum pada tamunya. Segelas air dingin dari lemari es dua pintu di dapurnya.


“Itu salah satunya. Selain itu aku juga mau kasih kamu kerjaan. Kerja sama kita udah bisa dimulai sekarang, kan?” ucap Rhea sembari mengetuk-ketuk udara di depannya, seolah ia sedang membuka fitur sistem Genesisnya.


“Yah, bisa sih, kita mulai sekarang kerjasamanya. Kemarin surat kontraknya juga udah kita tandatangani. Tapi sebenernya aku lebih prefer kalau soal bisnis kita berhubungan lewat chat aja. Ketemu kamu itu agak-agak gimana, gitu,” ungkap Riko sembari tertawa.


“Dasar nggak sopan. Bukan mauku juga bisa baca pikiran.” Rhea mendesis tak sabar. “Bagus kamu biasakan. Soalnya makin dicegah, aku justru makin pengen ngelakuinnya. Kedepannya kita bakal sering ketemu, RIko,” lanjutnya sembari menyeringai jahil.


Riko mengerang kecewa. Karena Rhea toh tetap bisa membaca pikirannya, Riko kini memutuskan untuk tidak perlu berpura-pura lagi di hadapannya. Karena itu Riko berani secara vulgar mengungkapkan perasaannya yang kecewa itu.


“Yaudahlah. Jadi kamu mau kasih kerjaan apa?” tanya Riko kemudian.


Rhea tersenyum puas. Gadis itu lantas mengambil sebuah gulungan dari udara kosong. Riko langsung tahu bahwa gulungan perkamen itu berasal dari inventory Rhea.


“Ini. aku butuh kamu untuk bikin barang ini,” ucap Rhea sembari menyerahkan gulungan perkamen tersebut.