Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Menempa



Tidak ada yang bisa dilakukan Riko selain meratap. Bahkan kemarahan rasanya sia-sia saja dilakukan. Ia mati-matian berusaha untuk tidak menghubungi teman-temannya sesama player untuk meminta dimasukkan dalam tim mereka. Setidaknya dia masih punya harga diri untuk tidak mengemis-ngemis pada orang lain.


Walaupun begitu, harga diri tidak bisa membuat Riko kenyang. Akan tetapi ia bahkan tidak berselra untuk sarapan sekarang. Riko hanya bisa merebah lesu di atas tempat tidur kosnya yang sepi. Hidupnya benar-benar memuakkan.


“Jan**k!” umpatnya penuh emosi.


Bahkan kini Genesis tidak lagi bisa dimainkan melalui ponselnya. Ia tidak punya lagi sarana untuk menenangkan hatinya. Akhirnya, dengan langkah gontai, Riko pun beranjak dari tempat tidurnya. Ia sudah sampai pada kesimpulan bahwa harga diri memang tidak akan memberinya makan. Karena itu, kini Riko bersiap untuk secara langsung mendatangi Akademi Pelatihan Genesis. Ia bisa mulai berlatih keras di tempat itu sambil mencari peluang pekerjaan untuk memasuki dungeon.


Riko sampai di akademi saat jam makan siang. Setelah menunjukkan ID playernya, ia pun segera memasuki ruang pelatihan di lantai empat. Ruangan tersebut berupa aula besar yang dibagi menjadi dua belas bagianuntuk masing-masing job role  Riko segera melesat menuju ruangan pelatihan khusus blacksmith yang ada di deretan kedua.


Tidak banyak orang ada di sana karena saat itu biasanya adalah waktu istirahat. Ruangan berdinding logam itu hanya berisi senjata-senjata blacksmith seperti kapak dan palu level terendah. Lalu sebuah meja tempa sederhana berikut perapian yang padam teronggok di sudut ruangan. Itu kali pertama Riko mendatangi tempat tersebut. ia tidak yakin harus melakukan apa di sana.


“Anak baru, ya?” sebuah suara mendadak mengejutkan Riko.


Pemuda itu lantas menoleh dan mendapati seorang pria berdiri di belakangnya sambil tersenyum. Pria itu mungkin berkisar usia awal empat puluhan. Meski begitu gayanya begitu muda dan sporty. Sebuah topi baseball putih dengan bordir huruf H merah di depannya tersemat di kepala pria itu.


“Eh, iya. Baru pertama ke sini, Pak,” kata Riko sopan.


“Biasanya tempat ini rame, tapi sekarang kayaknya mereka lagi siap-siap buat masuk dungeon. Kamu sendiri nggak daftar ikut masuk dungeon?” tanya pria itu sambil mengambil sebuah palu besar setinggi lebih dari satu meter.


Hati Riko langsung mencelos ketika mendapat pertanyaan semacam itu. “Saya … nggak dapat tim, Pak,” ujar Riko muram.


Sang pria menoleh dan menatap Riko tak percaya. “Kok bisa? Nggak mungkin tim pembersih kekurangan tempat buat pemain baru. Justru biasanya mereka masuk dungeon dengan tim besar, kok. Mana dungeon breaknya juga banyak banget,” ujar pria itu sembari bersiap memukulkan palunya ke sebuah kristal aneh yang berwarna hijau terang.


“Eh, tim pembersih? Bukannya pemburu, Pak?” tanya Riko tak mengerti.


Sontak tawa lepas meledak dari pria tadi. “Kamu daftar tim pemburu? Ya pantes aja ditolak.  Blacksmith kayak kita itu nggak bakal dilirik sama pemain-pemain tipe serangan. Lagipula sebagian besar blacksmith itu kan  level F, atau mentok E, deh. Tapi cuma satu dua orang yang level E. Makanya susah buat kita join tim pemburu, kan,” lanjut pria itu sambil masih setengah tertawa.


Itu merupakan informasi baru bagi Riko. Jadi level F-nya itu bukan karena dia lemah, tapi semata-mata karena dia seorang blacksmith? Bukankah itu lebih tidak adil lagi. Bahkan seorang blacksmith seperti dirinya juga bisa punya kemampuan serangan yang mematikan.


“Blacksmith kayak kita, itu masuknya tim pembersih dungeon. Tim itu gunanya buat kumpulin drop monster, termasuk material dan bahan untuk para alkemis bikin potion. Terus juga nambang batu Kristal yang ada di dalam dungeon. Tim pembersih baru bisa masuk ke dungeon setelah tim pemburu selesai menghabisi semua monster di dalamnya. Jadi kita bisa aman nambang.


“Nah nanti hasil tambang itu dikasih ke pemerintah dan tim pemburu dengan pembagian 60-40. Kita biasanya dapet 10% aja, dan itu pun harus dibagi lagi sama seluruh jumlah tim pembersih yang biasanya berisi 12 orang. Emang nggak terlalu banyak hasilnya, tapi lumayan lah buat nambah-nambah pemasukan,” terang pria itu panjang lebar.


Riko jelas tidak terima dengan fakta itu. Selain pembagiannya yang tidak adil, kesempatan untuk naik level pun jadi nihil karena para blacksmith tidak diperkenankan melawan para monster. Bagaimana ia bisa menerima hal tersebut?


“Mau gimana lagi. Emang cuma itu satu-satunya cara bisa dapat penghasilan tambahan,” desah pria itu sambil masih memukuli Kristal hijau di hadapannya. Setiap pukulannya menyebabkan percikan cahaya keemasan yang terciprat hingga ke lantai.


Riko masih terdiam kehilangan kata-kata. Ia jelas ingin protes, tetapi sadar bahwa tindakan tersebut hanya akan sia-sia.


“Kalau kamu mau, besok saya ada ikut tim pembersih buat berangkat ke dungeon break di alun-alun rembang. Kalau kamu mau ikut, nanti saya daftarin sekalian. Buat pengalaman aja. Biar kamu tahu,” kata pria itu lantas menghentikan aktifitasnya memukuli batu Kristal. Ia menyeka wajahnya yang kini sudah bermandikan peluh.


Riko menghela napas tabah. Tampaknya ini memang kesempatan satu-satunya untuk bisa masuk dungeon.


“Boleh, Pak. Saya mau gabung kalau memang masih bisa. Terima kasih banyak,” jawab Riko kemudian.


Pria itu tersenyum senang. “Nama saya Tera. Saya pimpinan tim pembersih besok. Selamat bergabung kalau gitu,” ucapnya sembari mengulurkan tangan pada RIko.


“Riko. Senang berkenalan sama Pak Tera,” jawab Riko menyambut uluran tangan Tera.


Kalau gitu, sekarang kamu naikin poin skill menambangmu dulu pake palu itu terus kamu tinggal pukul-pukulkan ke Kristal ini. Satu pukulan bakal naikin satu poin. Semakin tinggi poin skill menambang, semakin cepat nanti kinerja menambangnya. Kamu juga jadi nggak gampang capek,” saran Tera kemudian.


Riko pun menurut. Diambilnya salah satu palu besar berwarna cokelat dari tempat gantungan senjata. Pemuda itu lantas mengikuti saran Tera dan memukulkan palunya ke Kristal hijau terang yang sedari tadi juga sudah dipukul-pukul oleh Terra. Mendadak sebuah notifikasi sistem muncul di hadapan Riko.


 


Menempa +1


Total Skill Point menempa : 11


 


“Whoa, iya bener, saya dapat notifikasi sistem,” gumam Riko takjub.


“Bagus. Mulai sekarang kamu bisa berlatih sampai minimal skill point menenmpamu sampai 100 poin biar besok bisa kerja maksimal. Setelah latihan ini, nanti saya kirimin kamu lokasi meeting point kita besok sebelum berangkat ke Rembang,” ucap Tera puas.


Riko tersenyum tipis dan mengangguk. Mungkin ini bukan keputusan yang sepenuhnya buruk.