Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Astral Projection



Seluruh pandangan Riko yang gelap berangsur menjadi terang. Riko lantas mendapati kesadarannya telah pulih dan rasa sakitnya sudah tidak separah sebelumnya. Namun pemuda itu kini justru berada di sebuah tempat yang asing.


Riko berdiri di atas tumpukan salju. Kanan kirinya ditumbuhi pepohonan super besar yang juga tertutup salju. Pemandangan paling menyita perhatian adalah sebuah pondok kayu berkubah besar yang ada di hadapannya. Pondok kayu tersebut dilalap api yang menjilat-jilat hingga ke angkasa.


Dari balik kebakaran hebat itu, Riko bisa melihat bahwa di tengah pondok tersebut bengkelnya seharusnya berada!


Riko terkesiap. Butuh waktu beberapa menit sampai ia bisa memahami situasi tersebut. Di luar kebakaran itu, beberapa sosok kurcaci yang sudah compang-camping tampak berusaha meredam api dengan tumpukan salju. Riko mengenali sosok-sosok kecil tersebut sebagai para kurcaci pekerja di bengkelnya.


“Fili!” seru Riko sembari berlari ke arah kurcaci berbaju merah dengan ujung pakaian hangus terbakar.


“Master!” seru Fili diikuti para kurcaci lainnya yang ikut menghambur mendekati Riko.


“Ini kenapa? Kalian kenapa?” tanya Riko menatap wajah-wajah panik dan frustrasi itu.


Mili sang kurcaci berbaju kuning dengan topi kerucut yang masih berasap karena bekas terbakar pun menjawab. “Seseorang dari dunia Master menerobos masuk ke dimensi ini! Mereka mengekstrasi jejak senjata buatan master yang terbaru lantas berusaha mendobrak masuk. Kami mencoba mencegah mereka datang, tapi tumbukan energi kami justru membuat bengkel jadi terbakar seperti ini!” tukasnya panjang lebar.


“Hah?! Kok bisa? Ekstraksi jejak senjata? Siapa yang udah ngelakuin itu?!” seru Riko penuh emosi.


“Itu skill yang sangat jarang, Master. Mereka bisa melacak tempat ini dengan bahan senjata yang baru dibuat. Master harus mengaktifkan skill Skin Tempering untuk melindungi senjata-senjata buatan master agar tidak bisa dilacak. Tapi untuk sementara waktu, Anda tidak akan bisa menggunakan bengkel dulu sampai tempat ini selesai diperbaiki,” tukas Dori, sang kurcaci berbaju biru.


“Master, Anda tidak bisa berada di sini lebih lama. Saat ini hanya kesadaran Master yang terlempar ke dimensi kami. Tubuh Anda di luar sana pasti tengah tidak sadarkan diri. Kalau Master tidak segera kembali, Anda mungkin tidak akan pernah bisa bangun lagi di dunia sana,” tukas Nori tampak cemas.


“Jadi, sekarang aku lagi ngelakuin semacam Astral Projection gitu? Jiwa yang lepas dari raga?” tanya Riko memastikan.


“Betul, Master. Sekarang Anda harus segera kembali. Tidak bagus jika jiwa Anda meninggalkan tubuh terlalu lama. Hitungan waktu di dimensi ini juga berbeda dengan dunia Anda.” Kini Fili maju ke hadapan Riko. Kurcaci merah itu lantas menggenggam kedua tangan Riko, seakan hendak menyalurkan semacam energi tak kasat mata.


“Satu lagi, Master. Untuk sementara waktu, Anda tidak akan bisa menggunakan kemampuan Weapon Mastery. Skill Anda itu akan terkunci sampai kami bisa memperbaiki bengkel. Sistem mungkin akan memberi tahu Master untuk mengumpulkan beberapa item agar dapat membantu kami di dimensi ini. Mohon Anda ikuti perintah sistem tersebut,” tambah Fili tampak serius.


Riko mengangguk paham.


“Kalau begitu, saya akan segera mengirim kesadaran Anda kembali,” tukas Fili lagi, sembari semakin mengeratkan genggaman tangannya ke pergelangan Riko.


“Tunggu. Satu pertanyaan. Kalian sempet lihat nggak siapa orang yang nyoba masuk ke sini?” potong Riko pada detik-detik terakhir.


Fili menggeleng pelan. “Orang itu belum sempat masuk ke sini. Tapi satu hal yang pasti, mereka pakai Dragon King Sword buat melacak jejak,” jawab kurcaci itu tanpa ekspresi.


Riko terbelalak. Namun, belum sempat pemuda itu berkomentar, ledakan energi dari genggaman tangan Fili kembali melemparkannya ke tempat yang penuh kegelapan. Detik berikutnya, Riko mendengar suara isak tangis dan orang-orang yang berbicara serius di sekitarnya sambil menyebut namanya dengan penuh kepedihan.