
Tak lama kemudian terdengar suara debum keras di udara. Api yang membentengi pandangan Riko dan Jaka pun mulai tersibak. Naga yang ada di atas mereka rupanya sudah menerima serangan dari Zein. Satu sayapnya berlubang hingga membuat monster raksasa itu oleng.
Akhirnya naga tersebut pun roboh ke tanah. Ia masih terus menyemburkan api ke segala arah dengan brutal. Zein masih butuh waktu untuk merapal mantra lagi. Sementara itu, Riko memutuskan untuk menerjang langsung ke arah sang naga.
“Mas Riko!” pekik Jaka berusaha mencegah tindakan nekat Riko.
Akan tetapi Riko sudah melesat cepat ke arah naga api tersebut. Semburan api ganas menerpa tubuh Riko. Doom Axe-nya segera bereaksi. Atribut Fire Resistance membuat Riko bisa bertahan dari serangan naga raksasa.
Pemuda itu terus berlari menerjang api dengan kapak merahnya melindungi di depan. Sesaat setelah Riko tahu dirinya cukup dekat dengan naga itu, Riko mulai mengumpulkan seluruh niat membunuhnya lalu berteriak selantang mungkin.
Overthrust Skill activate
All Stat +100% for 30 second
Notifikasi sistem muncul di depannya. Riko hanya mengabaikan hologtam itu dan hanya mengayunkan kapakknya ke arah kepala Naga yang berada tak jauh di atasnya. Dengan erangan keras, Riko melompat tinggi sambil menghujamkan kapak dua matanya sekuat tenaga. Sang naga terlambat memprediksi serangan Riko. Bos monster itu mencoba mengelak, tetapi kapak Riko bergerak lebih cepat.
Diiringi bunyi crak keras, kepala naga itu pun terbelah dua. Darah segar menyembur hingga mengenai seluruh tubuh Riko. Sekali lagi Riko menarik kapaknya. Ia mengayunkanny ke samping dan memotong kepala sang naga hingga terputus.
Semburan api berhenti. Hawa panas dungeon itu perlahan berubah normal. Kawah berasap dan aroma belerang pun sirna. Riko berdiri terengah-engah dengan tubuh bersimbah darah. Efek skill overthrustnya masih tersisa. Rasanya Riko masih ingin mencacah daging naga itu atau menghancurkan sesuatu. Apakah ini memang efek dari skillnya? Riko tidak yakin.
Akan tetapi, berhubung tenaganya masih meluap-luap, pemuda itu pun memanfaatkan untuk membelah tubuh naga yang setebal perunggu. Hebatnya, Riko berhasil membuka dada naga itu dan mengambil jantungnya dalam sekali percobaan. Kekuatan Riko meningkat pesat berkat buff dari Rizal ditambah skill overthrust yang melipatgandakannya lagi. Dengan kemampuan ini, Riko seharusnya sudah setara dengan player level S.
“Ma, Mas Riko?” Jaka rupanya sudah berdiri menyusulnya. Ia tertegun melihat wujud Riko yang kini tampak begitu sangar penuh darah naga. Tangan kanan Riko juga menenteng jantung naga yang sebesar buah kelapa. Jaka merasa seperti sedang berhadapan dengan monster lainnya yang berwujud manusia.
Riko menoleh ke arah Jaka sambil menyeringai. Setelah itu ia kembali sibuk melucuti organ-organ tubuh Naga yang bisa menjadi material menempa: Jantung Naga, bola mata naga, hingga kuku-kukunya.
“Kamu aslinya tukang jagal apa gimana?” Suara Zein mengalihkan perhatian Riko. Zein kini sudah berdiri di samping Jaka sembari mengamati Riko yang masih asyik mengumpulkan material berharga.
“Mumpung masih ada efek buffnya, sekalian dipake buat ambil bahan-bahan bagus. Sayang ini kalau dibuang, apa lagi kalau harus diambil sama blacksmith perusahaan. Bisa dibuat nempa barang-barang bagus,” sahut Riko sembari menyeka wajahnya yang juga penuh darah naga. Tindakan itu malah membuat cipratan darah berwarna merah itu semakin rata menutupi wajah Riko.
“Ngomong-ngomong aku bisa minta tolong kamu buat hancurin tubuh naga ini nggak?” pinta Riko pada Zein.
Zein mengerutkan alisnya dengan bingung. “Kenapa? Kan udah mati,” sahutnya sambil mengangkat bahu.
“Yah, pokoknya dibumihangusin aja ini bangkai naganya. Nanti aku kasih tambahan bonus,” desak Riko setengah memaksa. Bisa gawat kalau perusahaan mengetahui Riko sudah mengambil banyak material berharga dari tubuh Naga.
Zein tampak berpikir sejenak. “Hmm … daripada bonus, aku lebih tertarik kalau kamu bantu aku nempa senjata,” usul Zein.
Riko mendengkus pendek. “Dikit-dikit suruh nempa. Skillku ini mahal tahu,” protes Riko sambil berdecak tak sabar.
“Tapi tadi kamu nempa seluruh equip sama senjata dia gratisan.” Zein tampak tidak terima.
“Lah, dia kan emang temenku. Sebentar lagi juga bakal jadi anggota guildku. Jadi wajarlah aku kasih dia bantuan cuma-cuma. Kerjasama kita bakal panjang. Ya nggak, Jak?” sahut Riko sambil menoleh pada Jaka, meminta persetujuan.
Jaka mengangguk mantap. “Iya,” jawabnya pendek.
Riko tersenyum puas.
“Guild? Kamu mau buat Guild?” Zein tampak tertarik.
“Rencananya sih gitu,” sahut Riko ringan. “Jadi gimana? Waktunya mepet nih. Sebelum portalnya kebuka lagi, tolong hancurin mayat naga ini. kubayar pake bonus Kristal.”
Zein menggeleng sambil mengangkat tangannya untuk menolak. “Aku mau bantu, tapi rekrut aku jadi anggota guilmu juga,” ujarnya tak terbantahkan.
Senyuman Riko makin lebar. Rencananya berhasil.