Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Guild Ares



Riko mengurungkan niatnya untuk sarapan. Ia langsung menuju alamat yang dikirimkan oleh orang bernama Dirga dari Guild Ares itu. Riko tidak ingin menunda-nunda masalah tersebut. Hal ini mengancam karirnya. Karena itu, meski perutnya keroncongan, Riko memaksa diri melaju ke tempat yang sudah ditentukan.


Ia hanya berharap dalam hati agar tidak perlu melakukan pertarungan setelah ini. Segala pikiran buruk terbayang di kepala Riko. Mungkin saja orang-orang dari Guild Ares menyergapnya. Lalu ia diculik dan dipaksa menempa senjata bagi mereka. Riko tidak pernah tahu sebelumnya kalau ternyata nyawanya bisa menjadi begitu berharga.


Setelah dua puluh menit berkendara, Riko pun akhirnya sampai di sebuah area pemukiman di kawasan pinggir kota. Sebuah rumah mewah dengan halaman luas menyapa Riko. Ia memastikan sekali lagi alamat tersebut dengan aplikasi GPS di ponselnya. Sudah benar. Namun entah mengapa rasanya Riko kini tengah berada di depan rumah seorang pejabat kaya.


Dua patung kuda sembrani berdiri di kanan kiri gerbang yang tinggi. Riko mencermati patung tersebut dan segera merasa familier dengan rumah itu. Ini adalah rumah dari seorang pengusaha kaya di kota tempat tinggalnya.


Sang pemilik rumah ini memiliki banyak bisnis properti bahkan hingga di luar kota. Kenapa orang sepenting ini mencari Riko? Apa dia adalah pemilik Guild Ares? Seorang pengusaha properti adalah player? Entah mengapa fakta tersebut tidak lagi mengejutkan.


Setelah memarkirkan motornya di dekat gerbang masuk, Riko pun memencet bel rumah tersebut. Tak berapa lama kemudian pintu gerbang terbuka secara otomatis, seolah mempersilakan Riko masuk begitu saja. Riko buru-buru mengambil kembali motornya lantas mengendarainya masuk ke halaman rumah mewah tersebut.


Jalan aspal membelah taman asri yang ada di depan rumah. Patung-patung kuda dengan segala pose berjajar rapi di sepanjang jalan menuju bangunan rumah. Di ujung jalan tersebut, rumah mewah bercat putih dengan arsitektur mirip era dewa dewi Yunani menyambut Riko.


Riko hanya pernah melihat bangunan semacam itu dari internet, saat mencari dengan kata kunci reruntuhan Yunani. Pilar-pilar penyangga bangunan yang mewah dilengkapi dengan ukiran indah di seluruh dinding berbahan batu marmer membuat bangunan rumah tersebut terlihat sakral. Rasanya Riko seperti terlempar ke era Yunani Kuno.


“Tu … tuan? Panggil Mas aja, Pak,” sahut Riko canggung.


Pria tua itu mengenakan setelan jas yang luar biasa rapi. Satu matanya menggunakan kacamata persegi dengan lensa tebal. Setelah mendengar balasan Riko, pria itu membungkuk sopan tetapi tidak terlalu menanggapi.


“Silakan ikut saya. Tuan Gunawan sudah menunggu Anda,” sahut pria itu tanpa mengindahkan permintaan Riko untuk dipanggil ‘Mas’.


“Gunawan? Tapi saya ke sini mau ketemu sama orang yang namanya DIrga. Dia yang hubungi saya tadi,” kilah Riko menolak untuk masuk dalam jebakan. Meski mungkin keberadaannya di sana adalah bagian dari rencana penjebakan. Setidaknya dia harus tahu siapa Dirga-dirga ini.


“Tuan Dirga juga ada di sana, menunggu Anda,” ujar pria berjas hitam tersebut.


Akhirnya Riko pun mengalah. Dia ikuti langkah sang pemandu hingga memasuki rumah berdinding marmer  tersebut. Interior di dalam rumah tak kalah spektakuler. Beragam hiasan dinding hingga meja kursi dan patung-patungnya sangat merepresentasikan nuansa Yunani Kuno.


Bahkan ada satu lemari kaca mewah yang berisi pajangan senjata pedang berbagai rupa. Hati kecil Riko mengatakan bahwa pedang-pedang itu sama sekali bukan pajangan belaka, melainkan pedang sungguhan. Namun Riko mencoba untuk tidak terlalu kelihatan udik. Dia kembali fokus pada perjalanannya menuju lantai dua.