
“Ini bagian pentingnya, Riko Sanjaya,” ujar Gama dengan begitu dramatis. Pria itu lantas mencondongkan tubuhnya sedekat mungkin dengan Riko. Sontak Riko pun mundur hingga punggungnya mentok menempel di sandaran sofa.
“Bisa nggak agak berjarak, ngobrolnya,” gumam Riko canggung.
Gama tampaknya tidak mengindahkan permintaan Riko tersebut. Pria itu justru semakin membungkuk agar lebih dekat dengan Riko.
“Kamu, adalah kunci pelengkap yang bisa membuat Guild kita semakin kuat. Dengan kemampuanmu menempa dan membuat equipment atau senjata, maka kita tidak akan kekurangan pasokan alat tempur. Bahkan kita bisa mendominasi pasar dengan seluruh rancangan buatanmu, Riko,” ujar Gama dengan suara rendah.
Riko masih terlihat rikuh karena wajah Gama yang begitu dekat dengannya. Bahkan suara napas pria itu pun terdengar sangat jelas.
“O, oke. Sebentar … saya sepertinya harus geser dulu agar bisa ngobrol dengan nyaman,” ucap Riko sembari beringsut ke samping.
Sejurus dengan itu, Gama pun secara perlahan menarik punggungnya mundur dan kembali duduk tegak penuh wibawa di sofanya sendiri. Pria itu tersenyum puas seolah sudah mengeluarkan sebuah pernyataan yang sangat fantastis dan mengubah dunia.
“Sebagai bahan pertimbangan. Kami sudah mempersiapkan dokumen-dokumen prekrutan, termasuk poin-poin kontrak kerjasama kalau kamu bergabung dalam guild ini. Tentu saja benefit yang kamu dapat sedikit berbeda daripada anggota guild biasa yang lain. Yah meskipun standarnya masih di bawahku sebagai wakil ketua, sih.
Tapi ini juga udah lumayan. Lihat nominalnya. Kamu nggak bakal kebayang bisa dapet gaji dua digit setiap bulan kan, cuma pake skill nempa dan bikin equipment. Kamu bahkan nggak diwajibkan buat masuk dungeon. Kalaupun kamu mau ikut dungeon raid, tim terbaik bakal damping kamu jadi semuanya aman terkendali. Gimana? Menarik, kan?” oceh Dirga menyambung ucapan bosnya. Riko bahkan belum sempat menjawab tapi kedua orang itu sudah bicara panjang lebar dengan begitu percaya diri.
Riko akhirnya menelaah kontrak kerja yang disodorkan Dirga. Ia membaca beberapa poin penting dan menemukan bahwa tawaran kontrak tersebut memang sangat menggiurkan. Tak kalah fantastis dibanding kontrak yang diberikan Rhea. Tidak mengherankan, tentu saja, karena pemilik guildnya sendiri adalah seorang pengusaha besar di bidang property dan real estate. Meski begitu ada sedikit keraguan di hati Riko. Entah kenapa ia merasa tidak cocok dengan karakter dua orang ini yang terkesan, sombong dan mendominasi.
Bukan salah mereka tentu saja. Kalau RIko juga memiliki kekayaan, kekuatan dan wajah seperti bintang film begitu juga mungkin ia akan menjadi orang yang arogan. Sayangnya Riko tidak suka menghadapi orang semacam itu. Apa lagi jika harus menjadi atasannya di masa depan. Haruskah ia merelakan uang sebanyak ini demi harga dirinya?
“Tunggu. Sebelum itu. Bagaimana kalian tahu kalau saya bisa menempa dan membuat equipment dengan baik?” tanya Riko menyadari keganjilan dari tawaran mereka.
“Tentu saja dari oracle … .” Gama buru-buru menyikut tulang rusuk anak buahnya yang bicara dengan spontan. Dirga memekik kesakitan lantas terbungkuk tak bicara lagi.
“Kami membeli Lycan Knife yang kamu jual, dan menyadari bahwa senjata itu sudah ditempa hingga batas maksimalnya tanpa gagal satu kalipun. Salah satu skill swordsman adalah melihat rekam jejak perjalanan sebuah senjata sejak awal dia muncul sampai saat berada di tangan kami. Saat melihat Lycan Knife itulah aku yakin kalau kau adalah blacksmith yang kami butuhkan,” terang Gama sambil tersenyum bisnis.
“Karena itu, sudah sepantasnya potensimu itu dikembangkan bersama kami. Guild Ares adalah wadah yang tepat bagi para player berbakat. Kami memiliki sumber daya tak terbatas, dan tentu saja aku, ketua guild yang tak terkalahkan,” lanjut Gama yang tiba-tiba berdiri dari tempatnya duduk lantas mengangkat satu kakinya ke atas meja sembari membuka lebar kedua tangannya. Gestur yang jelas memperlihatkan kebanggaan diri.
Rasa haru Riko segera memudar. Pemuda itu kembali harus menahan rasa ingin mengujatnya pada Gama, bertanya-tanya kenapa ada orang yang mau menjadi bawahan manusia narsis seperti ini. Riko melirik Dirga, berharap mendapat teman yang juga merasakan kemuakkan yang sama dengannya. Sayangnya, Riko justru menemukan Dirga mengangguk-angguk bangga sembari menaikkan kacamatanya dengan satu jari. Rupanya semua anggota guild ini memang sudah tidak waras.
“Jadi bagaimana jawabanmu? Sebaiknya lekas tanda tangani dokumen itu? Jadi besok kamu udah bisa mulai kerja. Kalau misalnya butuh tempat tinggal, kami juga bisa kasih fasilitas terbaik. Kendaraan juga nggak usah bingung. Kami kasih mobil plus supir khusus buat kamu. Jadi motor bututmu itu bisa dimuseumkan,” ujar Dirga kembali menyodorkan dokumen di hadapan Riko, kali ini sudah lengkap dengan sebuah pena berwarna hitam.
Lebih dari apa pun, Riko tidak suka mendengar ada orang yang mencela motor bebek kesayangannya. Motor itu adalah saksi bisu perjuangan Riko di perantauan. Hanya dia yang setia menemani Riko melewati hari-hari yang indah maupun yang sulit. Orang kaya yang narsis seperti mereka tidak akan pernah mengerti bagaimana ikatan antara Riko dan motornya yang sudah dipenuhi darah dan air mata. Riko tidak terima motornya dihina seperti itu.
Atau mungkin sebenarnya itu hanya alasan agar bisa menolak tawaran Gama dan Dirga. Entahlah. Yang jelas Riko tidak cocok dengan mereka berdua. Lebih baik Riko bekerja untuk perusahaan dan pemerintah daripada punya bos sombong seperti itu.
Maka, dengan tak kalah dramatisnya, Riko pun bangkit berdiri sambil menaikkan dagunya. “Anda tidak berhak menghina gaya hidup saya. Asal Anda tahu, guild yang mau merekrut saya tidak hanya guild ini saja. Saya sudah menerima banyak tawaran dari guild lain. Jadi jika cuma tawaran semacam ini, saya tidak akan tergerak sama sekali,” ujar Riko dengan nada searogan mungkin. Ia tidak ingin kalah sombong dari dua orang tersebut.
Efek dari kata-kata Riko ternyata cukup mencengangkan. Gama dan Dirga tak bisa berkata-kata selama beberapa saat. Mereka jelas tampak terkejut, meskipun Riko tidak yakin alasan mereka berdua terkejut. Apakah karena tindakannya yang konyol, atau karena fakta bahwa Riko sudah dipinang oleh beberapa guild lain.
“Coba kamu sebut sekarang, guild mana aja yang udah coba ngerekrut kamu? Aku bisa lipat gandakan penawaran mereka? Mau dua kali lipat? Tiga kali lipat? Kamu nggak usah khawatir. Guild Ares bakal kasih yang terbaik buat player berbakat yang bisa ngasilin banyak uang … maksudku, memberikan kontribusi positif kayak kamu,” sergah Gama tanpa basa-basi. Rupanya mereka tercengang karena alasan kedua.
Riko menelan ludah dengan getir. Sebenarnya hanya ada satu guild lain yang pernah meminang Riko, yaitu Guild Corsage milik Rhea. Riko sudah yakin seratus persen untuk tidak akan setuju bergabung dengan guild milik sage pembaca pikiran tersebut. Riko berpikir untuk mempertimbangkan Guild Ares sebagai pilihan yang patut dicoba. Namun tingkat kenarsisan Gama sulit dimaklumi. Mungkin sebaiknya RIko mengambil jeda dulu untuk berpikir.
“Gini aja. Saya minta waktu dulu untuk berpikir. Saya juga punya hal-hal yang harus dipertimbangkan. Karena itu saya nggak bisa kasih jawaban sekarang,” ujar Riko setelah mengumpulkan kesabaran. Emosi sesaat mungkin akan merugikannya.
Dirga dan Gama berpandangan sekilas. Setelah itu Gama pun mengangguk-angguk setuju. “Oke. Kalau gitu saya kasih waktu kamu tiga hari. Selepas itu, kamu bisa hubungi Dirga apa aja kebutuhan kamu. biar kami siapkan semuanya,” ujar Gama masih dengan pola pikir dimana RIko sudah pasti akan menerima tawaran Guild Ares.
Riko menghela napas lelah. Terserah sajalah. Yang penting sekarang ia sudah bisa lepas dari dua orang menyebalkan ini dulu.