
Hari-hari Riko selanjutnya banyak dihabiskan bersama Sita. Gadis itu mengundang Riko untuk datang ke apartemennya agar fokus mengerjakan skripsi bersama-sama setiap malam. Mengingat apartemen Riko sendiri selalu dipenuhi anak-anak guildnya yang suka datang tanpa diundang, termasuk Zein yang kini secara de facto telah tinggal di sana bersama Riko.
“Besok weekend kamu libur dua hari kan?” tanya Riko pada Sita yang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
“Iya. Sama tanggal merah juga Seninnya. Kan cuti bersama karena Imlek,” sahut Sita yang tampak manis denga celemek bunga-bunga.
“Oke. Berarti ada tiga hari ya,” jawab Riko sembari berhitung.
“Kenapa emang? Kamu mau ajak aku pergi?”
Riko mengangguk lalu menutup laptopnya. Skripsinya sudah berkembang pesat berkat bantuan Sita. Kini ia tinggal menginput data penelitian saja. Karena itu Riko merasa sudah cukup punya waktu luang untuk melakukan pekerjaannya yang lain. Terlebih setelah markas guildnya akan siap digunakan minggu depan.
“Aku mau ajak kamu ke tempat aku biasa kerja,” ungkap pemuda itu sembari menghampiri Sita ke meja makan.
“Tempat kerjamu? Ke markas Guild kah? Minggu depan kalian syukuran buat pembukaan markas baru ya?” sahut Sita dengan semangkuk gulai kambing yang beraroma nikmat di tangannya. Masakan Sita memang tidak ada duanya.
“Yah, itu juga. Besok kamu dateng aja pas acara pembukaan markas baru kita. Tapi sebelum itu aku mau ajak kamu ke bengkel. Aku perlu buat senjata untuk hadiah anak-anak,” ucap Riko.
Sita pun menghentikan gerakannya dan menatap Riko lekat-lekat. “Bengkel? Yang dari skillmu itu? Yang kamu bilang ada kurcacinya? Emangnya bisa orang lain masuk ke sana?” tanya Sita tak menyangka kalau Riko akan mengajaknya ke sana.
Riko mengangguk cepat. “Setelah kupelajari, dan udah kutanya juga sama Fili, salah satu kurcaci di sana. Katanya orang lain bisa masuk ke sana asal atas izinku. Atau gampangnya kalau aku yang ajak. Sekalian aku mau tunjukin gimana aku kerja bikin senjata dengan serius. Kamu bisa bantu garap skripsiku juga di sana,” kelakar Riko sembari tertawa.
Sita ikut tersenyum. “Dasar kamu, nih. Mau kerja sekalian manfaatin aku, ya,” tukasnya setengah bercanda.
Riko hanya tertawa kecil. “Biar sekalian rampung dua-duanya. Aku udah cicil dikit-dikit kemarin. Tapi waktunya mepet karena perbaikan markas rupanya cepat banget selesainya. Udah gitu awal bulan depan juga aku diundang buat nonton Guild War pertama yang mau diadain. Jadi sibuk banget nih kalau nggak curi-curi waktu. Nanti nggak kelar semuanya,” kilah pemuda itu mencari alasan.
Raut wajah Sita meremang ketika Riko menyinggung tentang Guild War. Gadis itu tampak muram dan sedih. “Kegiatan berbahaya kayak gitu kenapa harus ditonton. Tapi kamu nggak ikutan kan?” tanyanya kemudian.
Riko tersenyum sembari menggeleng pelan. “Enggak, kok. Buat yang sekarang aku nggak ikutan. Jangan khawatir,” ucapnya menghibur.
Sita mengangguk pelan lantas kembali menata meja untuk makan malam mereka berdua. Mendadak ponsel gadis itu bordering di atas meja. Riko secara otomatis menoleh ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya ia ketika melihat nama Rangga tertera di layar ponsel Sita.
Buru-buru sita menyambar ponselnya dan menolak panggilan dari Rangga itu. Namun Riko sudah terlanjur melihatnya. Dengan tajam pemuda itu menatap Sita, menuntut penjelasan.
Riko menarik napas panjang. Ia ingin mempercayai gadis itu, tetapi ada bagian dari dirinya yang merasa marah. Padahal Sita juga bukan siapa-siapa bagi Riko saat ini. Mereka memang sudah berbaikan dan kembali akrab. Namun belum bisa dibilang rujuk karena selama ini Sita hanya membantu Riko mengerjakan skripsi saja. Tidak lebih.
Pada akhirnya Riko memilih untuk tidak berkomentar apa-apa. Makan malam mereka berlalu dalam diam, hambar dan dipenuhi beragam pikiran buruk di benak Riko.
...***...
Weekend pun tiba, dan sesuai janjinya, Riko mengajak Sita untuk datang ke bengkelnya. Sembari Riko mengerjakan finishing untuk senjata-senjata eksklusif bagi teman-temannya, Sita bisa membantunya menyelesaikan skripsi sebelum bimbingan selanjutnya.
Zein dan Gladys yang mendekam di apartemen Riko tampak tidak suka ketika Sita muncul. Terlebih ketika mengetahui bahwa Riko akan membawa gadis itu ke dalam bengkelnya. Bahkan mereka saja tidak pernah di ajak ke sana, tetapi kini Riko tiba-tiba membawa gadis lain di luar anggota guild mereka untuk masuk begitu saja.
Namun suara protes Zein dan Gladys sama sekali tidak diindahkan oleh Riko. Pemuda itu akhirnya bisa menyingkir dari keributan dua orang di luar sana dan membawa Sita dengan selamat ke ruang kosong apartemennya. Tempat itu adalah lokasi dimana Riko biasa menggunakan skill Weapon Masterynya.
“Udah siap?” tanya Riko kemudian.
Sita mengangguk. Satu tangan gadis itu memeluk beberapa lembar kertas dan laptop untuk mengerjakan sisa revisi skripsi Riko. Sementara tangannya yang lain sudah digandeng dengan lembut oleh Riko. Pemuda itu pun membuka jendela skillnya. Dari banyak panel yang tersaji, ia memilih skill Weapon Mastery yang kini sudah berada di level 8.
Serta merta seluruh ruangan tersebut pun berubah menjadi cahaya keemasan. Secara perlahan tempat kosong itu mewujud menjadi bengkel kurcaci dengan pohon besar menjulang di tengah-tengahnya. Sita menatap kagum pada pemandangan di hadapannya. Gadis itu tidak berhenti mengucapkan kata-kata penuh pujian seperti, “Wah, keren banget” atau “Ini cantik banget tempatnya”. Riko tersenyum bangga melihat ekspresi kekaguman Sita.
“Selamat datang, Master. Anda membawa tamu,” sapa Fili yang sudah berdiri di hadapan Riko dan Sita.
Keenam kurcaci lainnya berjajar rapi di kanan kiri Fili. Mereka semua membungkuk hormat seperti biasa.
“Iya, ini temanku. Namanya Sita. Tolong dilayani dengan baik biar dia bisa nyaman di sini,” kata Riko kemudian.
“Baik, Master. Nori siap melayani,” ucap seorang kurcaci berbaju Nila tanpa janggut di wajahnya.
Kurcaci tersebut lantas memandu Sita untuk duduk di area bawah pohon besar yang sejuk dan nyaman. Tak lama setelahnya, ia pun membawakan camilan khas para kurcaci: kue kenari kering. Riko sebenarnya sedikit bosan dengan makanan itu, meski rasanya sebenarnya cukup enak.
Setelah meninggalkan Sita dalam pelayanan Nori, Riko pun lantas kembali ke meja kerjanya yang panjang di dekat tungku. Ia berencana untuk membuatkan senjata bagi lima temannya yang lain. Salah satu yang tengah dia kerjakan adalah sebuah pedang besar yang langka untuk Jaka. Pedang itu terbuat dari material naga yang pernah Riko dapatkan ketika menyelesaikan dungeon kawah Merapi. Pedang yang disebut Dragon King Sword itu benar-benar kuat dan akan menjadi salah satu master piece Riko setelah ini.