
Puluhan pendaftar masuk ke kotak pesan Riko. Malam itu ia harus mulai mensortir siapa-siapa saja yang akan dia bawa masuk ke dungeon. Dari sekian banyak pendaftar, Riko akhirnya memilih seorang Archer level A bernama Gladys dan seorang Warlock level S bernama Zein. Riko cukup senang karena ada seorang player level S yang mendaftar dalam kelompoknya. Terlebih player tersebut adalah seorang warlock. Pasti kekuatannya dahsyat.
Riko kemudian menghubungi Rizal, yang akan dia ajak juga dalam kelompoknya. Riko ingin menilai sendiri kesungguhan Rizal yang ingin bergabung dengan guildnya. Terlebih, untuk mendapat seorang priest level A tidaklah mudah. Para priest selalu diminati oleh kelompok pembasmi. Mereka biasanya sangat jual mahal karena merasa dibutuhkan dalam tim.
Setelah lima anggota terkumpul, Riko menyerahkan seluruh daftar nama kepada Rhea. Sage itu lantas memberikan jadwal dan lokasi dungeon yang akan mereka kerjakan: Dungeon Kawah Merapi, besok pagi pukul 8. Setelah semua birokrasi sudah selesai diurus. Riko akhirnya baru bisa tidur dengan tenang dan menantikan hari esok.
Besoknya, Riko sudah siap di Akademi. Jaka, Rizal dan dua anggota tim baru mereka pun sudah berkumpul. Tim itu lantas diberangkatkan menuju lokasi dungeon yang sudah ditetapkan. Dungeon ini adalah dungeon baru yang muncul sejak 15 jam yang lalu.
RIko memimpin timnya untuk masuk melalui portal seperti biasa. Rizal masih tampak tidak nyaman ketika memasuki dungeon. Traumanya sepertinya belum sepenuhnya sembuh. Jaka, seorang swordsman level B, terlihat antusias. Sementara Zein dan Gladys tidak bisa diprediksi. Mereka berdua tidak seramah bayangan Riko.
Setelah melakukan perkenalan singkat, kelima player itu pun kini sudah berada di dalam dungeon. Mereka disambut oleh pemandangan dataran gersang yang sangat panas. Tak jauh dari tempat mereka masuk, kawah gunung berapi terlihat mengeluarkan asap berbau belerang yang sangat kuat.
“Kita bagi tugas dulu. Jaka, kita berdua maju ke garis depan. Zein dan Gladys serang dari jarak jauh sambil melindungi Rizal, priest kita. Dan Rizal, kamu bisa mulai kasih buff ke kita,” perintah Riko kemudian.
“Impositio Magnus!” seru Rizal meneriakkan skill pertamanya. Serta merta, seluruh tingkat serangan senjata anggota tim meningkat sebesar lima kali dari level skill masing-masing.
“Sanctuary!” Skill kedua yang diteriakkan Rizal membentuk sebuah lingkaran sihir bercahaya hijau di bawah kaki setiap player dalam tim. Lingkaran sihir itu akan secara otomatis menyembuhkan luka yang diderita para player.
“Kyrie Eleison!” Skill Rizal yang ketiga memberikan perlindungan berupa cincin keemasan yang melingkupi tubuh para player. Tingkat deffence semua anggota tim bertambah sebanyak dua kali lipat.
Terakhir, Rizal pun meneriakkan buffnya yang terkuat. “Aspersio!” seluruh physical damage pemain dalam tim meningkat sebanyak seratus persen.
“Udah,” kata Rizal menutup tugasnya. “Aku akan perbaharui buffnya setiap sepuluh menit sekali. Kalian bisa fokus menyerang,” lanjutnya sembari menurunkan tongkat emasnya.
Riko merasa berkali-kali lipat lebih kuat dari sebelumnya. Jadi seperti ini kemampuan buff seorang pries level A.
Tak lama setelah menerima berbagai efek positif tersebut, dari kejauhan suara derap monster mulai terdengar. Riko dan yang lainnya langsung berubah waspada. Gerombolan salamander berkaki empat dengan ekor yang menyala berapi-api sudah bergerak karena mengendus datangnya penyusup. Riko menggenggam erat Doom Axe-nya, bersiap untuk menyerang.