Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Pencuri Skill



Rangga mendengkus melihat perlawan Riko yang tampak sia-sia itu. “Nggak ada gunanya lo ngelawan, Riko. Sekali lo ketangkep sama skill ini, seluruh tubuhmu berada di bawah kendaliku,” ujar Rangga dengan seringai mencela.


Riko mengerang sembari berusaha membebaskan diri. “Kamu … Gimana bisa skill ini jadi milikmu? Kamu bukan irregular,” ucap pemuda itu sekuat tenaga.


Rangga tertawa mengejek. “Yah, nggak ada salahnya buat ngasih tahu orang yang bakal mati. Daripada lo jadi arwah penasaran,” sahut pemuda itu ringan. “Bukannya bengkel lo habis kebakaran kemarin?”


Riko mendelik marah. “Jadi kamu yang ngerusak skill itu,” geramnya penuh emosi.


Rangga mendengkus pelan. “Lo nggak bakal bisa pakai skill itu lagi sekarang. Karena kemampuan itu udah jadi milik gue.”


“Apa kamu bilang. Itu nggak –.”


“Jangan sedih, Riko. Lo baru korban kedua gue. Nantinya semua skill irregular itu bakal jadi milik gue,” potong Rangga dengan mata berkilat-kilat penuh ambisi jahat. “Umumnya orang yang skillnya habis gue curi itu langsung gue bunuh. Setidaknya itu yang gue lakuin ke Tomi. Nah, sekarang giliran lo buat mati,” lanjutnya tertawa sinis.


Riko kehilangan kata-kata. Otaknya seperti berhenti berpikir karena tertutup oleh kemarahan yang amat sangat. Satu-satunya yang dia inginkan sekarang adalah menonjok wajah arogan yang sangat dia benci itu. Sembari mengerang keras, seluruh sel tubuh Riko seolah bekerja sama untuk mewujudkan keinginan tersebut. Kemarahan Riko sudah sedemikian rupa sehingga tanpa dia minta, seluruh set Noctoriousnya muncul dari sistem dan langsung terpasang begitu saja di seluruh tubuhnya. Kilau emas dari ujung kepala hingga ujung kaki melingkupi Riko dan menambah daya kekuatan pemuda itu hingga akhirnya, ia pun berhasil terbebas dari Shadow Chaser milik Rangga.


Dengan gerakan cepat, Riko menghunuskan kapaknya tepat ke arah kepala Rangga. Sedikit lagi, ia akan bisa membunuh orang yang paling dia benci di dunia ini. Detik-detik kematian Rangga membuat Riko begitu bergairah. Namun, harapannya itu ternyata harus pupus. Tepat pada saat mata kapaknya yang tajam sudah tinggal beberapa inci dari wajah Rangga, sebilah pedang besar menahan serangannya, sementara sosok Rangga lenyap dari hadapan.


Riko terperangah lantas menyadari bahwa Gamaliel sudah berdiri di depannya dengan pedang besarnya yang terhunus, menahan serangan kapak Riko. Rangga sementara itu, tersungkur di tanah di tak jauh dari tempat Riko berdiri, dalam pelukan seorang gadis assassin yang berhasil menyelamatkannya. Gadis itu adalah sosok yang pernah menyelinap ke apartemen Riko.


“Udah. Cukup, Riko. Jangan buat keributan di tempat ini kalau nggak mau dapet masalah dari assossiasi guild,” ujar Gama memperingatkan.


Riko mendesis marah. Matanya masih berkilat-kilat, penuh hawa membunuh. Akan tetapi pemuda itu lantas menarik kapakknya dan berhenti melakukan serangan.


“Orang itu bantu salah satu guild dengan cara curang. Aku nggak bisa ngebiarin dia bertindak sesuka hatinya sendiri,” balas Riko sembari melirik marah ke arah Rangga yang sudah dibantu berdiri oleh rekannya.


Rangga tak menjawab apa-apa. Ekspresi wajahnya masih diliputi keterkejutan karena Riko bisa melawan Skill pamungkasnya, Shadow Chaser.


“Mereka bakal urus masalah itu. Sekarang kamu ikut aku dulu, Rik,” tukas Gama sembari memandu Riko pergi dari tempat itu.


Gama membawa Riko ke sebuah ruangan bergaya Jepang dengan tatami bambu dan meja rendah berpenghangat. Teh hijau khas Jepang serta berbagai camilan menarik memenuhi meja itu, sementara Riko dan Gama duduk di lantai, berhadapan.


“Aku tahu kamu nggak akur sama assassin itu. Dia emang punya banyak musuh, tapi lebih banyak lagi sekutu. Orang-orang licik yang memanfaatkan jasanya dalam membunuh sesama player,” ujar Gama membuka percakapan.


Riko masih berusaha menenangkan kemarahan yang menggumpal di dadanya. Ia terdiam selama beberapa saat sembari menyesap teh hijaunya dengan harapan bisa menjadi lebih tenang.


“Dia nyuri Skill player lain. Orang itu ngincer skill semua irregular buat dia kuasai sendiri. Selain Shadow Chaser yang dia curi dari anggota timnya sendiri, dia juga berusaha nyuri kemampuan Weapon Masteryku. Aku nggak tahu apa dia berhasil ambil skill ku itu atau nggak. Aku harus segera memperbaiki bengkel,” gumam Riko sembari mengepalkan tangan menahan amarah.


“Kamu … serius, Rik? Nyuri skill? Apa maksudnya?” Gamaliel tak kalah terkejut.


Riko menatap Gama lekat-lekat. “Aku udah ngelihat sendiri gimana dia pakai Shadow Chaser. Itu skill irregular milik orang lain. Selain itu, skillku sendiri hilang gara-gara dia baru-baru ini. Aku emang belum kasih tahu banyak orang, tapi setelah denger sendiri omong kosong dia tadi, aku jadi ngerasa kalau para irregular lain harus diperingatkan. Kamu juga termasuk irregular, Gam,” tukas pemuda itu sungguh-sungguh.


“Gila. Ini gila,” sahut Gama terbelalak. “Aku harus tahu gimana persisnya skill yang dicuri itu. Kita butuh dapetin informasi sedetail mungkin, sementara Rangga Sasmita diobservasi. Tapi dengan jaringan bawah tanahnya itu, aku nggak yakin dia bisa ditahan lama-lama.”


“Aku harus ikut guild war buat ngelawan dia secara langsung, Gam. Tadi aku berhasil ngelawan skill Shadow Chasernya dia. Aku nggak tahu gimana persisnya, tapi menurutku skill curian itu nggak akan sekuat saat digunakan pemilik aslinya.”


Gamaliel menggeleng menanggapi permintaan Riko. “Nggak perlu, Rik. Berkat kasus tadi, Rangga mungkin nggak akan diizinkan ikut guild war, yang artinya kita bisa membantai guild Silverdeath tanpa ketuanya bisa ikut campur. Ini keuntungan, sekaligus kerugian buat kita. Tapi sementara ini, aku cuma mau ngelihat peluang buat bubarin guild busuk itu dulu. Masalah Rangga, kita akan cari cara buat mengetahui rahasianya,” tukas sang ketua Guild Ares itu kemudian.


Riko menghela napas keras. Kecewa karena kesempatan untuk menghancurkan Rangga kembali luput dari genggamannya. Meski begitu, ada hal lain yang harus dia khawatirkan sekarang: Skillnya yang dicuri. Riko sebaiknya fokus untuk memperbaiki skill itu lebih dulu untuk saat ini.


“Ngomong-ngomong, selamat buat kemenangan Ares di putaran pertama. Aku mungkin nggak bisa lama-lama di sini karena ada hal lain yang harus kuurus. Tapi aku yakin kalian pasti bakal menang Guild War ini, dan mencapai tujuan buat bubarin Silverdeath,” ucap Riko sembari bangkit berdiri, bersiap-siap untuk pergi menemui teman-temannya kembali. Mereka pasti khawatir.


Gama ikut berdiri lantas mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Riko. “Makasih, Rik. Ini semua juga berkat senjata-senjata buatanmu. Semoga skillmu segera bisa diperbaiki dan kita bisa lanjutkan kerjasama lagi. Sementara itu aku bakal cari tahu soal kekuatan si Rangga Sasmita,” ujar Gamaliel berjanji.


Riko mengangguk sekilas lalu menyambut uluran tangan sang ketua Guild Ares untuk bersalaman.