
Lantai dua berisi lebih banyak orang. Terdapat ruangan-ruangan luas dengan interior putih gading berjajar di sepanjang koridor. Beberapa pintu ruangan tersebut terbuka dan menampakkan beberapa orang yang tengah duduk berkumpul di semacam ruang rekreasi mewah.
Di ujurng lorong, terdapat satu ruangan paling besar yang hanya disekat dengan kaca transparan. Ruangan tersebut mirip dengan ruang fitnes, tetapi alih-alih alat olahraga, seluruh ruangan tersebut justru dipenuhi oleh berbagai macam alat latihan perang.
Pedang-pedang dan perisai berjajar rapi berbagai ukuran. Baju zirah besi dan armor-armor mewah bersepuh emas juga didisplay dengan mewah. Beberapa orang tampak sedang mengasah senjata. Ada pula yang tengah melakukan sparing hingga mengeluarkan skill-skill berbahaya yang mengeluarkan api hingga petir.
Riko merasa benar-benar tegang saat melihat hal tersebut. bisa saja bangunan ini roboh dan hancur karena serangan mereka. Belum lagi membayangkan kalau Riko nanti akan menjadi bulan-bulanan para player tersebut karena hal yang tidak dia ketahui. Riko toh datang kesana karena diancam.
“Tenang saja, Tuan Riko. Ruang latihan itu sudah dimantrai dengan sihir pelindung. Karena itu kekuatan para player bisa teredam. Guild kami memiliki sumber daya yang besar. Anda bisa hidup dengan nyaman jika bergabung dengan kami,” kata pria tua yang mengantar Riko tersebut.
Bergabung? Tidak pernah terbersit dalam pikiran Riko bahwa Guild Ares akan merekrutnya sebagai anggota. Dilihat secara gamblang saja jelas bahwa guild ini merupakan kelompok para ahli pedang atau swordsman. Dia bahkan tidak bisa menggunakan pedang.
“Kita sudah sampai,” ujar pria tua tersebut.
Riko kini berdiri di sebuah pintu kayu berukir sulur dengan hiasan kepala burung nasar, lambang dewa Ares. Tampaknya guild ini benar-benar menghayati nama mereka.
Pria tua itu mengetuk tiga kali. Pintu lantas terbuka dengan sendirinya, menampakkan sebuah ruangan mewah gaya Victorian, lengkap dengan perapian yang entah apa gunanya. Negara ini bahkan tidak mengalami musim dingin.
“Silakan masuk, Tuan Riko,” kata pria tua itu sembari membungkuk dan memberi jalan.
Riko masuk dengan ragu-ragu. Tak lama setelah Riko berada dalam ruangan, pintu di belakangnya pun tertutup. Ia kini berdiri bingung di sebuah ruangan mewah yang penuh lukisan perang Yunani.
“Selamat datang, Riko Sanjaya. Akhirnya kita bisa ketemu,” sapa sebuah suara dari tengah Ruangan.
Riko sampai perlu menyipitkan matanya agar fokus melihat orang yang tengah menyapanya. Ternyata ada dua orang pria lain yang duduk di sofa merah di tengah ruangan. Wujud mereka menyatu dengan dekorasi karena memiliki baju yang warnanya sama.
“E, se … lamat siang,” sahut Riko kaku. Ia tidak pernah melakukan salam seformal itu sebelumnya.
“Silakan duduk di sini,” kata salah satu pria yang berkumis tipis dengan rambut hitam kelimis. Usianya mungkin sekitar awal tiga puluhan. Jas merah marun yang dia kenakan sama persis dengan warna sofa tempat dia duduk. Karena itu Riko tidak bisa menemukan sosok pria itu dengan cepat.
“Santai aja. Anggap kayak di rumah sendiri,” lanjut pria itu setelah melihat Riko masih berdiri kaku di tempatnya.
Lagipula, bagaimana bisa Riko menganggap rumah semewah ini sebagai rumahnya sendiri? Ia bahkan tidak pernah bermimpi punya rumah semacam ini. Riko rasanya seperti terlempar ke era Victorian kuno, sekitar zaman kerajaan Inggris, atau bahkan sebelumnya. Apa begini perasaan seorang budak yang harus menemui majikannya? Dari segi kekayaan, orang itu sudah sangat mengintimidasi.
“Apa perlu saya carikan kursi roda? Kayaknya kaki kamu kram atau gimana?” tanya pria lainnya yang berjas biru tua gelap. Sebuah kacamata persegi menghiasi wajahnya yang masih muda. Mungkin usianya sama dengan Riko.
“Oh, enggak, sorry. Soalnya rumahnya bagus banget,” kilah Riko sembari berjalan mendekat. Ia pun duduk di hadapan dua pria tersebut.
“Kenalkan. Aku Dirga. Yang tadi hubungi kamu. Beliau ini Pak Gamaliel Gunawan, Ketua Guild Ares,” terang pemuda berjas biru tua. “ Aku wakilnya, sebagai informasi,” tambahnya cepat-cepat. Informasi yang tidak terlalu penting sebenarnya.
“Panggil Gama aja. Orang-orang terdekatku di Guild ini cukup panggil Gama. Dan karena kamu juga akan jadi salah satu dari orang-orang itu, jadi nggak masalah kalau manggilnya akrab saja,” tandas pria berjas merah marun.
“Kalau udah tahu penawaran kita pasti dia mau. Siapa yang bisa nolak Gamaliel Gunawan,” sahut Gama pongah.
Riko sepertinya bisa menelisih arah pembicaraan tersebut. Daripada berlama-lama sebaiknya ia segera mengurus masalah Lycan Knife saja terlebih dulu.
“Tunggu. Sebelum kalian mau membicarakan sesuatu, ada yang mau aku tanyain. Darimana kalian tahu kalau aku yang menjual Lycan Knife? Pasar lelang harusnya menyembunyikan nama penjual maupun pembeli,” tanya Riko di sela-sela perdebatan Gama dan Dirga.
Dua orang lawan bicara Riko sontak tertawa geli. Gama mendengkus pelan sambil menyisir rambut klimisnya dengan tangan.
“Mau di dunia nyata ataupun dalam sistem, uang adalah segalanya, Riko Sanjaya. Aku bisa bayar siapa pun untuk membocorkan data sisem,” kata Gama dengan senyum simpulnya yang penuh kebanggaan.
“Data sistem bisa dibocorkan?” Riko balas bertanya tak percaya.
“Sebenarnya konsep dibocorkan nggak tepat juga sih, Gam. Kita kan bayar oracle buat cari tahu orang ini,” sahut Dirga tanpa tedeng aling-aling.
Ekspresi bangga Gama memudar, digantikan desis kesal yang dia arahkan pada rekan Guildnya tersebut. “Haisss … kenapa malah kamu bocorin sih dapur guild kita,” gumam Gama sembari mengangkat satu tangan, berniat memukul kepala Dirga.
Dirga hanya meringis penuh rasa bersalah. “Sorry Bos, nggak sengaja,” cicitnya sambil mengangkat bahu.
“Kebiasaan emang mulut embermu itu,” desis Gama kesal. “Oke. Pokoknya intinya kita tahu sekarang. Dan karena kamu datang sendiri ke sini, artinya kamu juga udah mengkonfirmasi kalau emang kamu penjual Lycan Knife itu,” lanjut Gama beralih ke Riko.
Riko menarik napas panjang. Benar-benar dua orang aneh mereka ini. Meski begitu gawat juga kalau rahasia tersebut menyebar kemana-mana. Masa depan Riko sebagai player dipertaruhkan.
“Oracle itu, yang tahu kalau aku penjual Lycan Knife, apa dia bisa dipercaya? Siapa lagi yang tahu tentang hal ini?” sergah Riko bahkan sebelum Gama memberikan penawaran.
“Kamu tenang aja. Rahasiamu ini bakal aman sama kami. Bahkan kami juga berniat memberikan sponsor buat kamu biar kamu bisa menjual barang-barang semacam itu secara legal,” lanjut Gama kemudian.
Riko mulai tertarik. Bau-bau bisnis bergelimang harta menyapa benaknya. “Gimana caranya?” tanya Riko kemudian.
“Perusahaan dan pemerintah menerbitkan peraturan baru soal pengelolaan player dan dungeon, termasuk barang-barang langka dan Kristal. Karena banyaknya player yang terdaftar, pada akhirnya perusahaan dan pemerintah tidak sanggup lagi mengelola seluruh player dengan uang mereka sendiri.
“Ditambah lagi dungeon-dungeon break baru bermunculan ketika dungeon permanen justru bertambah banyak. Karena itu kebijakan pembentukan Guild pun dibuat. Para player dengan syarat tertentu diperbolehkan membentuk guild dan mempekerjakan beberapa player lain sesuai ketentuan dengan syarat membayar pajak tahunan kepada pemerintah. Guild-guild yang berhasil mencapai poin tertentu dalam membereskan dungeon juga diperbolehkan menguasai beberpa dungeon permanen untuk kalangan mereka sendiri.
“Yah, semacam jadi invertor Galatean. Dengan kekayaanku juga level dan kemampuanku, akhirnya aku berhasil mebuat Guild Ares ini dengan maksimal anggota seratus orang. Dan sejak sebulan berdiri, Ares sudah berhasil memiliki dua dungeon permanen di Hutan Mangunan dan Gua Pindul,” terang Gama panjang lebar.
Gamaliel bahkan memeragakan betapa cemerlangnya dirinya karena memiliki segalanya: uang, kekuatan, kekuasaan bahkan wajah yang tampan. Entah kenapa sikapnya itu membuat Riko jengkel.
“Terus kenapa saya diseret-seret kesini ya?” gerutu Riko kemudian.